
"Siapa dia? Aku ingin melihat orang yang sudah dua kali menginginkan kematianku!" geram Nadia dengan kedua tangannya yang mengepal di atas meja.
"Dengarkan aku sayang, kau bisa pegang janjiku! Aku tidak akan membiarkan para pengganggu itu melenggang dengan bebas dalam waktu yang lama." Leo berkata dengan kedua mata yang berkilat penuh amarah.
Ia lebih dulu ingin bertemu dengan orang itu dan mematahkan batang lehernya.
Sangat disayangkan bahwa Clara tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini.
Tak lama kemudian seorang pramusaji membawakan makanan dan minuman yang dipesan oleh Leo.
"Minumlah. Agar kepala dan juga hatimu mendingin." Leo menyodorkan gelas berisi orange jus kepada Nadia.
"Aku tidak jadi minum orange jusnya. Aku mau kopimu saja!" tanpa menunggu persetujuan, Nadia langsung saja mengambil kopi hitam milik Leo.
"Ambilah! Sekarang kamu jangan terlalu banyak berpikir, serahkan semua ini padaku."
Kening Nadia mengernyitkan ketika mendapati sesuatu. "Suamiku, kenapa pramusaji tadi terus melihat ke arah kita?" tanya Nadia dengan berbisik. Tatapan matanya mengarah ke suatu sudut belakang restoran tersebut.
Bahkan ia menghentikan gerakan tangannya yang sudah hampir mendekatkan gelas itu di depan bibirnya. seketika Leo pun menoleh ke arah yang dilihat oleh
istrinya.
Merasa sudah ketahuan, pramusaji tersebut segera berlalu dengan cepat ke area belakang Restoran.
Justru gerak-geriknya itu menimbulkan kecurigaan yang nyata bagi Leo.
"Pasti ada yang tidak beres dengan makanan atau minumannya," ucap Leo seraya melayangkan kembali gelas yang di pegang oleh Nadia.
"Sayang, tunggulah di sini dan jangan sentuh apapun sebelum aku kembali,"pesan Leo kemudian pria itu berdiri dan segera berlalu mengikuti arah ke mana sang pramusaji pergi.
"Sepertinya aku harus segera pergi dari sini," gumam wanita yang tengah mendekap nampan di dadanya.
Ketika dirinya hendak melangkah keluar dari loker tempat berganti baju, saat itu juga ada seseorang yang menarik tangannya. Kemudian cengkraman itu berpindah ke lehernya. Sehingga membuat tubuhnya kecil terdorong dengan keras ke dinding.
"Katakan apa yang telah kau letakkan dalam makanan dan minuman yang kami pesan. Siapa yang telah menyuruhmu melakukan itu!" hardik Leo, seraya mengendurkan sedikit cengkraman pada leher wanita tersebut agar ia dapat menjawab pertanyaannya.
Pramusaji itu gemetar hebat wajahnya langsung pucat pasi. Bagaimana tidak wajah pria dihadapannya ini sangatlah sangar dan bengis. Meskipun tampan tetapi aura kekejamannya begitu kentara.
Membuat pramusaji tersebut tanpa sadar mengeluarkan air seninya di celana. Seumur hidupnya ia belum pernah mendapatkan ancaman seperti ini.
"Ma–maaf Tuan. A–aku tidak tahu, hanya saja tadi--" Pramusaji itu tidak dapat meneruskan kata-katanya, lidahnya seakan kaku untuk mengucapkan kalimat. Bahkan dia sekarang menutup kedua matanya agar tidak dapat melihat wajah seram Leo.
__ADS_1
Mendengar jawaban yang tidak memuaskan sontak Leo kembali mengencangkan cengkraman pada leher pramusaji tersebut.
Membuat wajah wanita kurus itu semakin pucat.
"Katakan dengan jelas! Siapa yang telah menyuruhmu mencelakai kami!" Mendapat bentakan serta gerakan seperti ini membuat wanita itu malah menangis.
"Aku tidak kenal siapa dia. Ia hanya memerintahkan untuk memasukkan entah itu serbuk apa ke dalam minuman yang kalian pesan. Lalu memberikan uang yang lumayan banyak kepadaku. Kumohon jangan bunuh aku ... tolong lepaskanlah aku tuan," jelas pramusaji itu panjang lebar dengan wajah memelas seraya terisak.
Keterangan wanita itu membuat Leo semakin meradang.
"Pergilah, aku melepaskanmu!" ucap Leo dengan sebuah rencana.
Sang pramusaji mengangguk dengan cepat. Bukan hanya kedua kaki yang basah oleh air seninya sendiri. Akan tetapi wajah wanita itu juga sudah basah karena berlinang air mata.
"Lain kali berpikirlah bila ingin melakukan kejahatan. Karena bila berhadapan dengan orang lain kau pasti sudah tinggal nama saat ini." Leo pun mendorong tubuh pramusaji itu keluar dari loker.
Wanita itu berusaha berdiri meski dengan gemetar, bagaimanapun posisinya saat ini serba salah. Akan tetapi wajah pria yang mencekiknya tadi lebih menakutkan ketimbang wanita yang telah menyuruhnya meracuni pelanggan.
Pramusaji itu bangun dan melangkah dengan gontai. Ia berjalan ke arah terakhir kali melihat wanita misterius yang menyuruhnya itu.
Untung saja wanita misterius yang berpakaian sangat seksi itu belum pergi jauh dari sana.
Ternyata ia masih memantau bagaimana kelanjutan dari aksi pramusaji yang telah dibayarnya. Saat ini dirinya tengah menunggu buruannya keluar dari Resto.
Bahkan tubuh .wanita itu terlihat gemetar dan sedikit terisak.
"No–nona!" panggil pramusaji tersebut.
"Apa tugasmu berhasil dengan baik?"
"Ah, i–itu--"
Belum sempat meneruskan ucapannya sang pramusaji telah ditarik oleh seseorang dari belakang.
Kemudian pria dengan postur gagah dan maskulin keluar dari balik pintu.
"Jadi semua ini adalah ulah mu!" suara Bariton Leo langsung mengagetkan seluruh sendi dan tulang Clara. Membuat wanita itu terperanjat dan langsung berpegangan pada pagar besi.
Ia segera menopang tubuhnya agar tidak limbung ke belakang.
"Bagaimana bisa dia tau!" batin Clara.
__ADS_1
Betapa kaget dirinya bahwasanya aksinya telah ketahuan oleh sang target.
Wanita seksi itu merasakan tubuhnya gemetar dengan begitu hebatnya. Merasakan aura kejam di sekitar Leo yang belum pernah disaksikannya selama ini.
"Kalian! Bawa kedua wanita ini ke tempat yang sudah kusiapkan!" Leo memberi perintah kepada beberapa pria yang keluar dari sebuah pintu di belakang tubuhnya.
"Baik Tuan laksanakan!" jawab tegas salah satu pria berpakaian serba hitam tersebut.
Rambutnya di kuncir kebelakang, dengan sorot mata tajam.
Dialah Black.
diapit dengan Dark dan Shine.
*Kau salah, Nona telah bermain-main dengan seorang Leo!" tegasnya.
Tanpa di ketahui oleh Clara, pria di hadapannya ini terkenal kejam dan berdarah dingin. Terutama pada orang-orang yang sengaja mengusiknya.
Leo telah menyiapkan sebuah rencana untuk memberikan ganjaran pada partner Dygta yang telah menjadi penyebab penderitaan Nadia.
Clara bahkan telah beberapa kali merencanakan pembunuhan terhadap Nadia.
"Tidak! K–kumohon lepaskan aku Tuan Leon! Aku hanya ingin menolongmu agar terbebas dari wanita tidak berguna itu! Lepaskan aku!" teriak Clara yang telah dipegangi oleh Dark dan Shine.
Ingin rasanya Leo menampar mulut Clara, yang mana telah mengatakan hal jelek kepada istrinya.
Akan tetapi, seorang Leo tidak akan mengotori tangannya sendiri untuk menghabisi kuman seperti Clara.
Akan tetapi ...
Bugh!!
Mulut Clara akhirnya dibungkam oleh tinju dari Dark hingga mulut dan hidung wanita itu mengeluarkan darah.
"Berani benar dia mengatakan bahwa Istri tuan adalah wanita tidak berguna. Sepertinya kita harus sangatlah keras padanya. Beraninya wanita ini mengacaukan honeymoon tuan dan nyonya! Secara tidak langsung kau telah menyerahkan nyawamu pada orang yang tepat!" Dark memasang seringai bengisnya yang dapat membuat siapapun gemetar bila melihatnya.
"Leo, suamiku. Aku ingin melihat dia. Bawa aku padanya!" pinta Nadia.
"Tidak perlu sayang. Kau jangan membuang waktu serta energimu. Lebih baik kita nikmati kembali bulan madu kita ini," ucap Leo seraya melabuhkan kecupan dalam dan lama di kening istrinya itu.
"Kau tenang saja. Sudah kukatakan semua pasti akan beres. Tidak ada siapapun yang bisa bermain-main dengan Leo . Sebaiknya kita cari restoran lain. Atau lebih baik kita makan di dalam hotel saja. Aku janji akan memesankan banyak makanan kesukaanmu." Leo pun segera berdiri dan menarik tangan Nadia untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
Meski penasaran Nadia akan menuruti apapun perkataan Leo. Sebelum ia mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dan siapa orang yang telah mengincar nyawanya.
...Bersambung...