Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#59. KIYD.


__ADS_3

Nyatanya Nadia dan Leo sangat bahagia menerima berkat kehamilan yang sama sekali tidak menggangu segala aktifitas istrinya itu yang tentunya aktifitasnya juga.


Terutama pada malam hari.


Hanya saja, Nadia terkadang menginginkannya tiba-tiba dan mendadak.


Repotnya kalau Leo sedang berada di luar kota, atau rapat dengan para petinggi yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja.


Seperti kejadian beberapa hari lalu dimana pada saat itu Leo berada di negara kangguru. Nadia yang mendapat larangan naik pesawat hingga tak bisa ikut menemaninya.


Tiba-tiba, istrinya itu menangis histeris dan ingin agar Leo mengusap perutnya. Karena setiap kram maka akan membaik jika Leo yang mengelus sambil bercerita.


Mereka berdua mencoba Vidio call, akan tetapi tak ada perubahan. Nadia tetap saja kesakitan dan tak dapat melakukan apapun selain menangis di atas tempat tidur.


Sejak saat itulah Leo menolak kunjungan ke luar negeri.


"Sayang, aku bersyukur kau tidak mengalami masa mengidam seperti apa yang banyak di alami oleh wanita hamil pada umumnya. Tetapi, terkadang keinginanmu akan kehadiranku membuat aku di lema. Rasanya aku ingin berada di rumah saja. Aku tidak tahan dan tidak tega ketika kau harus kesakitan," ucap Leo yang setiap malam rutinitasnya adalah memijat kaki istrinya itu.


Ya dari kaki nanti naik ke pinggang lalu ke perut dan sesudahnya Leo akan meminta upah hadiah yang di bawah perut.


Kalian pasti tau kan, upah pak suami kalau memijat. Pasti akan ada plus-plusnya. 😆


Tetapi, Nadia sama sekali tidak keberatan. Karena semenjak hamil keinginannya untuk bercinta itu sangatlah tinggi.


Terkadang justru Nadia tidak puas jika hanya bermain satu kali. Tentu saja hal itu menguntungkan dari sisi lelaki.


Leo, sangat menyukai momen kehamilan istrinya ini karena Nadia menjadi begitu agresif dan bergairah.


Selain dari pada keinginannya yang serba mendadak itu.


"Maafkan aku suamiku. Sungguh, aku sudah berusaha untuk tidak mengatakannya padamu. Tetapi, ketika rasa itu datang maka aku tak sanggup menahannya seorang diri. Aku sangat tersiksa, karena mereka yang berada di dalam sini seakan mendorongku," jelas Nadia.


"Sayang, kau sadar tidak jika kita berdua selalu menyebut kata mereka?" tanya Leo yang baru menyadari kekompakannya dengan Nadia.


"Ah iya, kau benar juga Leo. Apakah kita USG saja ya?" saran Nadia.


"Oke, besok kita temui dokter Celine," kata Leo, seraya menaikkan daster yang di kenakan oleh Nadia.


Seperti biasa Leo akan menciumi perut istrinya itu dan mengusapnya dengan lembut. Berbicara dengan janin yang akan menjadi cikal bakal keturunannya.

__ADS_1


Nadia terkadang sampai meneteskan air mata pada saat momen ini. Setiap hari, setiap kali suaminya memperlakukan ia dan janin yang ada di dalam rahimnya ini begitu spesial.


Terlihat bahwa Leo teramat mencintai dengan tulus. Dan, seumur hidupnya Nadia belum pernah menerima limpahan kasih sayang sebanyak ini.


Terkadang juga Nadia akan terkekeh geli karena bulu-bulu halus di sekitar rahang suaminya itu mengenai permukaan kulit perutnya.


Tak dapat diungkapkan betapa Leo bahagia melihat senyum dah tawa yang sering sekali ia lihat menguar dari wajah istrinya.


Hingga terkadang Leo berada pada pusat titik emosional dari dalam dirinya yang ingin meledakkan tangis atau teriakan pada saat melihat Nadia bahagia.


Pria ini pun tak paham akan perubahan emosional dalam dirinya akhir-akhir ini.


"Sayang, hentikan ... rasanya geli," ucap Nadia seraya menahan kepala Leo yang tengah menciumi bagian pusarnya.


"Tetapi mereka yang di dalam senang. Aku dapat merasakannya," kata Leo menolak sanggahan istrinya ini.


Hingga Leo kebablasan atau memang di sengaja karena perlahan ciumannya merambah ke bagian paling bawah.


"Ahh ... suamiku!" pekik Nadia disertai alunan desah yang teramat merdu di telinga Leo.


Terbitlah seringai nakal di wajah tampan rupawan Leo. Karena dia telah kembali berhasil memancing libido istrinya ini.


"Ah, sayang aku jadi kepingin," kata Nadia yang sudah mulai menggeliat lantaran permainan lidah Leo.


"Ingin apa sayang?" tanya Leo seraya mendongakkan wajahnya yang sudah memerah dengan pandangan yang berkabut.


"Ingin kau melakukannya," jawab Nadia dengan napas yang sudah tersengal-sengal.


"Oh no, sayang. Kau bahkan belum memainkan aku," tolak Leo sengaja menggoda istrinya itu. Karena Leo akan sangat suka jika Nadia sudah terpancing begini.


Tanpa banyak bicara Nadia pun berdiri dan mulai melucuti setiap pakaian yang melekat pada tubuh Leo dengan perlahan dan begitu sensual.


Leo sebenarnya sedang mati-matian menahan hasratnya agar tidak menerkam lebih dulu.


Setelah selesai maka Nadia akan melakukan hal yang sama pada kain yang melekat di setiap jengkal tubuhnya.


Napas keduanya sudah memburu bagaikan atlit lari. Hingga Nadia menautkan bibirnya dan mereka berciuman dengan rasa yang bahkan sulit untuk di deskripsikan.


Nadia mengambil alih permainan hingga Leo berkali meneriakkan kata cinta seperti, Aku mencintaimu Nadia. Ah ... Nadia!

__ADS_1


Kini sudah saatnya ia mengambil peran itu. Merebahkan raga indah istrinya dengan posisi aman. Agar momen bercinta mereka tidak membahayakan janin.


"Kau tau suamiku. Ternyata bayi di dalam kandungan itu akan bahagia ketika sang kedua orang tua mereka sering bercinta," kata Nadia, di sela permainan Leo.


Sekalian pria itu di penuhi gelora tinggi, tetap Leo masih memikirkan keselamatan janin yang ada di kandungan istrinya dan juga kenyamanan yang harus dirasakan oleh Nadia.


Leo takkan menjadi pria egois yang hanya memikirkan kepuasaan sendiri.


__________


"Black!"


Red mengejar pria itu yang sudah beberapa waktu ini tak lagi menggoda bahkan mengganggunya.


Tetapi, Black justru perhatian dengan sesekali memberikan sesuatu padanya. Entah itu makanan ataupun jajanan yang jarang Red temukan di sekitar mansion.


Entah darimana pria itu tau apa yang sedang Red inginkan.


"Ada apa, Red? Kau tau kan jika aku harus segera kembali ke kantor karena tuan meninggalkan rapat lagi," tutur Black serius.


"Hei Black, sejak kapan hidupmu serius begini? Apa telah terjadi sesuatu pada kepalamu?" ledek Red, yang sebenarnya memang sangat penasaran.


"Kau benar. Telah terjadi sesuatu padaku. Terutama pada segumpal daging yang ada di sini," jawab Black ambigu, seraya menunjuk atas perut, tepatnya di sebelah kanan rusuk paling bawah.


Red tanpa sadar memiringkan kepalanya tanda ia berpikir keras apa maksud dari perkataan Black barusan.


"Huh, gemoy banget sih. Tapi kau harus tahan Black," batin pria itu tersiksa.


"Aku gak ngerti. Bisa jelasin aja!" ketus Red yang kesal karena justru Black seakan main tebak-tebakan dengannya.


"Sudah kukatakan, kalau aku ingin mengurus rapat yang di tinggalkan tuan Leo," jawab Black terkesan agak ketus dan tak peduli pada Red lagi.


"Kau aneh, Black. Sebelumnya kau gak pernah mengabaikan aku," batin Red yang tiba-tiba sesak entah karena apa.


...Bersambung...



Baca karya temen author juga ya guys.

__ADS_1



__ADS_2