
Sekalipun lelah, Nadia tetap memutuskan untuk memasak. Setelah berendam sebentar dengan air hangat nyatanya rasa remuk di tubuhnya itu hilang dalam sekejap.
Leo telah beberapa kali melarang tetapi, Nadia tetap bersikeras untuk masak menu makan malam sekalipun itu sederhana.
"Turunkan aku Leo. Kita sudah sampai di dapur," ucap Nadia pelan. Karena di tempat itu masih ada beberapa pelayan dan juga Koki.
Mereka tengah menunduk hormat pada pemilik mansion ini.
Red yang dilewati hanya bisa menahan rasa berkedut di pipinya. Melihat kemesraan sang tuan yang mana ia tau, sejak dulu sangat anti terhadap perempuan.
Leo menatap sekeliling tanpa menurunkan Nadia yang berada dalam gendongannya.
Sesuai kata dan janjinya tadi bahwa dia akan menggendong kemanapun Nadia ingin pergi.
"Leo turunkan aku," pinta Nadia sekali lagi dengan berbisik. Nyatanya Nadia cukup merasa malu dengan keadaannya saat ini.
Apalagi harus disaksikan oleh banyak mata.
"Kalian, bantu istriku. Jangan sampai dia berkerja terlalu berat!" titah Leo.
Akhirnya ia menurunkan Nadia perlahan.
"Katakan saja pada mereka dan perintahkan hal-hal yang menurutmu berat. Aku, tidak ingin kau kelelahan hanya karena memaksa untuk memasak makan malam. Dan juga, tidak perlu dalam porsi besar. Cukup, untuk kita berdua saja, faham?" ucap Leo dengan segala macam pesannya pada Nadia.
Sepanjang itu Leo berbicara nyatanya Nadia hanya mengangguk pelan.
"Jawab sayang," gemas Leo karena Nadia hanya mengangguk saja.
"Iya, suamiku. Kau tenanglah dan tunggu saja di ruang tamu," usir Nadia seraya mendorong bahu suaminya agar Leo lekas berbalik dan pergi dari area dapur.
Nadia kasian dengan para pelayan dan juga koki karena mereka terlihat takut pada saat Leo ada di sana.
"Kalian tenanglah. Suamiku sudah keluar dari dapur," ucap Nadia.
Ia pun segera membuka lemari pendingin untuk mengeluarkan beberapa jenis bahan yang dapat ia masak dengan cepat.
Pada akhirnya Nadia memilih, daging kambing muda dan beberapa sayuran. Dia akan mix semua bahan itu menjadi satu agar dapat meminimalisir waktu memasak.
__ADS_1
"Leo pasti akan suka. Tinggal goreng emping saja," gumam Nadia.
Nadia pun menginterupsi beberapa pekerja dapur dan juga sang koki untuk membantunya.
Hingga satu jam kemudian Nadia pun keluar juga dari area dapur. Selama itu entah sudah berapa kali Leo menengoknya.
Hanya saja pria itu tidak bisa mengganggunya karena Nadia yang telah mengancam lebih dulu.
"Ku bilang kau boleh masak tapi yang sederhana saja. Kenapa kau lama sekali di dapur?" protes Leo dengan memasang wajah masam macam buah Cermai yang masih berwarna hijau.
"Satu jam, Leo. Apanya yang lama. Lagipula ini yang ku masak adalah salah satu menu yang sederhana dan aku tak lelah sama sekali karena, aku hanya tinggal menumis dan mengaduknya hingga matang," jelas Nadia.
"Itu lama. Bagaimana kalau kau kelelahan karena terlalu lama berdiri?" tandas Leo.
"Tidak, Leo. Tadi aku lebih banyak duduk dan mengobrol dengan para pekerja bagian belakang," jelas Nadia.
Akan tetapi, justru wajah suaminya itu semakin ditekuk.
"Makanlah. Nanti keburu dingin tongseng kambingnya," kata Nadia.
Aroma santan yang manis campur gurih ini seakan menggoda lidah Leo untuk segera mencicipinya. Tetapi interupsinya belum selesai dengan Nadia.
"Siapa? Vitamin? Maksudnya?" Nadia benar-benar tak mengerti apa maksud dari suaminya ini.
"Di dapur, koki mansion ini kebetulan adalah laki-laki yang belum menikah. Dan, kau terlalu lama memanjakan matanya. Besok, sepertinya aku harus mencongkel kedua bola matanya itu," kesal Leo.
"Hey, mana bisa begitu!" kaget Nadia. Bagiamana bisa suaminya ini seenaknya saja mencongkel mata orang. Hanya karena pria itu melihatnya dan juga mengobrol dengannya.
"Tentu saja. Karena kedua matanya telah melihat wajah cantikmu dan juga melihat senyum menawanmu," ucap Leo lagi asal saja .
"Kau ini macam psikopat saja. Sudahlah, hentikan gurauanmu dan sebaiknya makanlah. Jangan buat usaha ku sia-sia," titah Nadia, yang mana pada akhirnya mampu membungkam bibir Leo.
Leo akan diam dan tak bicara ketika mulutnya telah di gunakan untuk makan. Apalagi, makanan ini adalah masakan Nadia yang setiap cita rasanya selalu cocok di lidah Leo. Mau apapun yang Nadia masak Leo pasti akan memakannya.
"Karena masakanmu sangat enak. Aku tidak jadi mencongkel matanya tapi aku akan memecatnya!" ujar Leo yang mana hampir saja membuat Nadia tersedak air minum.
"Itu sama saja, Leo. Kenapa kau suka sekali melakukan hal yang merugikan orang lain. Apa kau tau ada berapa perut yang tengah ia beri makan? Atas dasar apa kau mendzolimi dia?" tegas Nadia dengan sorot mata setajam pedang.
__ADS_1
Bahkan Leo sempat terkaget kemudian ia menelan ludahnya kasar.
"Kau jangan marah. Aku begini karena peduli padamu. Aku tidak mau jika suamiku yang baik hati ini di benci orang lain hanya karena rasa cemburu yang tidak pada tempatnya," jelas Nadia sebelum Leo salah paham akan maksudnya.
"Kau tau, ketika tadi aku sempat sedikit mengobrol dengan para pekerjamu. Mereka rata-rata memujimu. Kau orang baik Leo. Belum ada orang kaya yang mempekerjakan para asisten dalam rumah tangganya dengan gaji yang di sertai tunjangan bahkan ada pesangon hari tua semacam sistem pemerintahan. Tetapi, kau perlu mengurangi kekejamanmu agar mereka merasa lebih nyaman bekerja dengan kita," tambahnya dengan nada pelan dan lembut.
Tak lupa, jemarinya menyisir rambut Leo hingga pria itu memejamkan kedua matanya.
Nadia harus paham, cara berbicara dengan pria arogan seperti Leo. Sekalipun, pria itu mencintainya dengan sangat dalam tetap saja sisi egoismenya takkan mau menerima jika sang istri lebih pintar di atas kapasitas otaknya.
"Baiklah aku paham. Berhentilah merayuku," ucap Leo dengan tatapan yang teduh.
Nadia sangat suka jika Leo sudah memasang wajah seperti ini.
Hingga tanpa sadar Nadia tersenyum dengan lebar.
"Tetaplah menjadi singa di waktu yang tepat My Lion," ucap Nadia kemudian mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Leo.
"Iyuuhh bau tongseng!"
Setelahnya Nadia pun tertawa akan tindakan dan ucapannya.
"Hey, lakukan lagi. Aku suka jika kau berinisiatif seperti ini," pinta Leo seraya berdiri dan hendak menghampiri istrinya itu.
Akan tetapi, Nadia bergeser perlahan untuk menghindar dan pada akhirnya sedikit berlari menjauh ketika Leo terus mencoba meraihnya.
"Kemarilah!" pinta Leo dengan gaya merajuk. Nadia pun semakin tergelak melihat wajah Leo yang frustasi.
"Kalau begini kau itu jadi seperti anak kucing, Leo. Sungguh menggemaskan," ucap Nadia yang mana kini malah terus meledek suaminya dengan senyum menggoda.
"Jangan salahkan aku ya!" Leo pun lari lagi dan keduanya macam anak kecil. Memutari meja makan hingga beberapa putaran dah pusing.
"Kenapa setelah menikah, Tuan semakin hilang
aura kejamnya ya?" gumam Red dalam hati.
Sebab, semenjak menikah dengan Nadia, majikannya itu tak pernah lagi menghabisi orang dengan mudah.
__ADS_1
Ujungnya, Leo akan memerintahkan sang anak buah untuk mengeksekusi para musuhnya itu.
...Bersambung ...