Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#52. KIYD.


__ADS_3

Leo tersenyum puas ketika menerima beberapa kiriman foto dari Black. Mengenai Dygta yang kini telah ia buat hancur berantakan hingga takkan dapat lagi di pulihkan.


Uang asuransi jiwa Filma yang Dygta cairkan dan di niatkan untuk membangun usaha lagi, nyatanya kini di gunakan untuk pengobatan kakinya.


Mungkin Dygta akan berada cukup lama di rumah sakit. Karena, Black telah membuat kedua kaki pria itu cacat untuk selamanya.


"Nikmatilah ujung kisahmu Dygta. Kau tidak akan mati tapi tersiksa sepanjang umurmu," gumam Leo dengan seringai sinis di wajahnya yang tampan itu.


Puas sekali hatinya melihat Vidio pendek ketika Dygta mengamuk setelah tau bahwa kedua kakinya harus di amputasi.


Dendam Leo padanya sudah sampai di ujung kesabaran. Jika saja Dygta tidak berusaha menggoda istrinya mungkin Leo hanya akan sebatas membuatnya jatuh miskin saja.


Tetapi, pria itu sungguh tak sadar diri dan juga tidak tau malu. Seakan tiada merasa sedikitpun penyesalannya karena telah begitu menyia-nyiakan Nadia.


Menyakiti hati wanita itu hingga lukanya sulit di obati hingga kini. Apalagi, ketika Nadia melihat wanita hamil maka ia akan tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.


Itulah yang membuat Nadia beberapa hari terakhir ini terlihat sering melamun.


Leo keluar dari ruang kerjanya.


Pria itu ingin melihat istrinya.


Sebab sudah dua jam ia berada di dalam ruangan ini untuk berkutat dengan pekerjaannya padahal hari ini adalah weekend.


Hingga Leo mendapati sang istri tengah menyirami tanaman bunga karena Leo memang sengaja membuat taman sembilan puluh sembilan jenis bunga di sana.


"Kenapa kau melamun, sayang?" tanya Leo seraya merengkuh Nadia dari arah belakang.


"Ha! Apa!" Nadia sontak terperanjat, ketika merasakan lingkaran tangan perkasa itu pada perutnya.


Lamunannya pun buyar seketika.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Seharusnya kau tidak perlu menyiraminya sendiri. Perintahkan saja pelayan. Dan jika lelah, istirahat saja." Leo lantas berbisik pelan di telinga Nadia, sambil mengecupnya sesekali.


Tentu saja perbuatannya itu, membuat sang empunya bergidik kegelian.


"Hentikan, Leo. Kau menganggu pekerjaanku, saja!" protes Nadia, dan kemudian terdengar ia mendesis kecil, ketika Leo dengan jahil mengisap caping telinganya.


"Makanya jawab, tadi kau sedang memikirkan apa?" tanya Leo yang telah meletakkan dagunya di bahu Nadia.


Pria tampan dengan sedikit bulu yang kembali tumbuh di sekitar rahangnya ini menoleh sedikit melihat bagaimana ekspresi sang istri saat ini.


"Bahkan ketika Nadia sedang melamun saja bisa begitu menggemaskan. Ah, tiba-tiba aku ingin memakannya," batin Leo. Hingga perasaannya itu menciptakan lengkungan pada bibirnya.

__ADS_1


Leo, semakin mengeratkan pelukannya dari belakang, hingga Nadia terkesiap pada saat wanita itu merasakan sesuatu yang menegang di belakang bokongnya.


"Leo ini. Apa-apaan sih dia. Bagaimana kalau di lihat para pekerja?" gumam Nadia dalam hati.


Dia pun mempercepat kegiatannya, meski perlakuan dari Leo membuat dirinya risih dan susah untuk bergerak.


Ia tau, suaminya itu sedang sangat ingin saat ini.


Ya, setiap malam sejak keduanya menikah mereka bahkan belum libur sama sekali. Leo selalu berhasil membuatnya melayang dan melupakan segalanya.


"Kenapa aku tidak pernah datang bulan ya? Terakhir aku menstruasi itu, pada masa sepuluh hari menjelang pernikahan. Tidak mungkin kan jika saat ini aku--" Khayalannya seketika buyar ketika Leo kembali menyesap lehernya.


"Apa kau sedang memikirkanku?" Seperti dukun yang dapat membaca pikiran, pertanyaan Leo tepat mengenai sasaran.


"Tidak!" jawab Nadia tegas.


"Aww!" pekiknya, ketika gigitan Leo mendarat di bahu mulusnya.


"Kenapa menggigitku? Macam Vampir saja!" sungut Nadia.


Ya, akan selalu selalu melakukan hal itu karena gemas padanya. Menggigit apa saja pada bagian tubuh indahnya itu.


"Aku gemas, tidak menjawab apa yang suamimu ini tanyakan," kilah Leo.


"Aku sedang memikirkan apa? Sepertinya banyak hal. Sampai aku sendiri saja bingung mana yang harus aku katakan padamu," jawab Nadia.


Lelaki itulah senang karena pada saat ini dia dengan bebas dapat mencium aroma wangi istrinya itu.


"Sudahlah. Biarkan aku memakanmu saja," kata Leo terus terang.


"Hah apa!" Kedua mata Nadia sontak membulat sempurna.


"Tidak perlu banyak gaya, cukup satu macam saja. Asal kau tau, itu pun sudah membuatku puas dan bahagia," tambahnya. Membuat kedua pipi Nadia memerah.


"Aaaa ... kenapa dia bisa tau apa yang baru saja ku pikirkan? Memalukan sekali ya. Bagaimana jika Leo menganggap kalau aku ini mesum?" batin Nadia.


"Suamiku, bukankah setiap malam kita melakukannya? Apa kau tidak bosan?" Nadia menghentikan kegiatannya hanya untuk kemudian berbalik agar mereka berhadapan.


"Mana mungkin aku bosan pada bidadariku ini," sahut Leo dengan tatapan matanya yang hangat. Ucapannya yang tulus dan jujur itu, telah menyentuh sampai ke lubuk hati Nadia yang terdalam.


"Gombal banget sih!" Saking gemasnya Nadia !pun memencet hidung mancung suaminya itu.


Leo pun kemudian terkekeh. Meski ia agak sedikit menunduk untuk menatap wajah cantik alami Nadia, karena tinggi wanita itu yang hanya sebatas dadanya.

__ADS_1


"Aku akan membuktikannya padamu."


Lao pun langsung memepet tubuh ramping berisi itu, kemudian mendekatkan wajahnya.


"Sepertinya aku salah bicara lagi." Nadia pun hanya bisa merutuk dirinya didalam hati.


"Kenapa Leo sekarang begini pandai untuk membuat seluruh sendiku laksana lemas tak bertulang?" batin Nadia lagi.


Dimana saat ini Nadia hanya bisa meredam suaranya, hingga yang terdengar hanyalah geraman kecil.


Bibirnya telah dibungkam oleh sentuhan serta sesapan yang memabukkan. Hingga otaknya kosong dan seluruh tubuhnya merinding.


Nadia seketika memegang ketika telapak tangan besar suaminya itu, telah menyelinap lewat bawah dress-nya.


"Kau tanya apa aku tidak bosan? Bagaimana aku bisa bosan pada hal yang paling kusukai di dalam hidupku, salah satunya ini," tunjuk Leo, pada bagian dada Nadia setelah ia melepas pagutannya.


Berbagai alunan melodi yang merdu pun mengalun laksana sebuah tempo dari lagu yang membangkitkan gairah.


Hingga, napas keduanya semakin memburu, seiring ciuman mereka yang semakin memanas.


Awas!


Diintip kang kebon! 😆


"Pindah yuk, sayang," ajak Leo, padahal dirinya sudah memporak-porandakan pakaian bagian atas istrinya itu. Bahkan, beberapa stempel kelurahan telah tercetak jelas dengan warna merah bukan hitam lagi.


Lho?


Nadia hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah. Karena, dirinya juga malu sebenarnya.


Berharap para pekerja tak melihat apa yang keduanya lakukan di taman bunga.


Karena pasti akan membuat siapapun menggigit bibirnya saking iri.


Ternyata ...


"Sialan!"


"Kenapa mereka harus berciuman seromantis itu dengan background taman bunga yang indah!"


Gerutu Black sambil mengacak-acak rambutnya.


Sementara, Red yang juga ikut melihat dari atas balkon menara. Sedang menggigit bibirnya menahan sesuatu.

__ADS_1


Nahan apa, Red?


...Bersambung...


__ADS_2