
Kendaraan tersebut pun meledak sehingga menimbulkan getaran hebat terhadap tanah yang dipijak.
Leo, beserta ketiga anak buahnya terpental dengan keras. Sekalipun mereka telah berlari cukup jauh dari area ledakan.
Ternyata Barca dengan sengaja meletakkan alat peledak pada kendaraan tersebut. Rupanya Barca memang telah merencanakan matang jebakan ini.
Sengaja beberapa hari lalu pria itu membiarkan Clara bertindak. Barca akan memanfaatkan kekacauan yang di buat oleh wanita bodoh itu.
Setidaknya perhatian Leo pun terpecah dengan gumpalan emosi yang pada akhirnya ia ledakkan pada Clara.
Pancingannya agar Nadia keluar pun berhasil, yaitu dengan mengirimkan beberapa video ketika Leo menangkap basah wanita itu hendak mencelakainya.
Nadia semakin marah karena Leo sempat bertatapan langsung dengan Clara dan wanita itu nampak berusaha menggoda suaminya.
Sampai di sini emosi Nadia sudah menguasai otak dan juga hatinya. Wanita itu tak tahan lagi untuk diam saja menyikapi segala perbuatan Clara pada hidupnya.
Nampak keempat orang ini terbatuk-batuk.
Berusaha untuk bangun dengan sisa kekuatan mereka.
Getaran yang mampu membuat mereka terlempar nyatanya menyisakan beberapa luka di badan.
"Tuan Leo! Anda tidak apa-apa?" tanya Black yang dengan cepat menghampiri tuannya tanpa menghiraukan luka di wajah dan juga tangannya.
"Keadaanku nyatanya lebih baik darimu, Black," ucap Leo tersenyum tipis. Ia menghargai anak buahnya ini yang tetap menghawatirkan keadaannya bagiamana pun sikapnya terhadap mereka.
"Kita kembali, dan atur strategi untuk membalaskan perbuatan Barca hari ini!" ucap Leo dengan amarah yang telah membakar dadanya.
Ternyata, kesibukan Leo menghadapi Barca sehingga melupakan sesaat perusahaan Rajasa. Membuat, Dygta tersenyum lega.
Pria ini berhasil mengamankan posisinya juga tabungannya yang sudah mulai terisi lagi.
Orang yang di percaya oleh Blue ternyata mudah untuk diajak kerja sama oleh Dygta.
Tapi mereka semua tak tau bahwa Blue tetap mengawasi meskipun pria itu tidak melapor pada Leo. Karena Blue tidak ingin menambah beban pikiran tuannya saat ini.
Blue berhasil mengerakkan anggota dewan dari jauh. Hingga mereka semua sepakat untuk menarik saham secara serentak.
Perusahan Rajasa benar-benar kolaps dalam sekejap.
"APA-APAAN INI!" kaget Dygta yang melihat bahwa harga saham perusahaannya berada di level paling bawah.
Sehingga, para penanam modal alias pemegang saham tak mau rugi semakin banyak dan mereka pun segera menarik aset mereka dari perusahaan tersebut.
"Hei Dygta! Kenapa beberapa kendaraan mewah kita harus di tarik oleh pihak bank? Padahal ibu sudah menyelesaikan cicilannya!" pekik wanita paruh bawa dengan berbagai perhiasan yang melingkar di leher, jari dan juga pergelangan tangannya.
"KARENA PERUSAHAAN PAPA, BANGKRUT!!" teriak Dygta, menjelaskan keadaan mereka saat ini.
Hal yang nyatanya sangat di takutkan oleh Filma.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mungkin manjadi miskin saat ini! Mobil-mobil mewahku, berlian dan perhiasan emasku! Semua itu milikku tidak ada yang boleh mengambilnya!" teriak Filma berusaha menghentikan para petugas yang menyita barangnya satu persatu.
"Tolong Nyonya! Jangan mengganggu yang berujung mempersulit pekerjaan kami! Pergilah!" usir para petugas itu pada Filma acapkali wanita itu hendak mengambil kembali barang-barang mewah dan berharga yang di keluarkan dari rumahnya.
Hingga, beberapa jam kemudian isi kamarnya ludes tak tersisa. Bahkan, ponsel bertahtakan berlian yang ia punya pun tak luput dan ikut di sita juga.
Filma langsung terjatuh duduk di sofa putih dengan tungkai kaki yang lemas seketika bagai tak bertulang.
Tatapan mata Filma nanar dan terlihat ia memegangi dadanya.
"Tidak mungkin! Aku bukan orang miskin, aku tidak akan jatuh miskin, tidak! TIDAKKK!!" Seiring teriakannya, maka tubuh agak gemuk itu pun terkulai di atas sofa.
"Nyonya!!" teriak pelayan yang ikut menyaksikan keadaan rumah besar itu dikuras habis isinya.
Sementara itu, Dygta terlihat mencengkeram kepalanya. Membanting apapun yang ada di kamarnya hingga semua benda berserak bak baru saja gempa mengguncang bumi.
"SIALAN!! BEDEBAH KALIAN!!" teriak Dygta hingga tinjunya mengenai kaca rias.
Prakkk!
Cairan berwarna merah terang mengalir dari sela-sela buku jarinya yang mengepal. Ketika pecahan kaca itu menancap pada kulit tangannya.
Asshh!
Terdengar rintihan dari bibir Dygta.
"Tuan, Tuan!!"
Dygta pun membuka pintu kamar sehingga tampangnya yang berantakan serta tangannya yang berdarah-darah dapat di ketahui eh pelayan di rumah itu.
Pelayan sontak membekap mulutnya menahan teriakan kaget.
"Tuan, anda--"
"Ada apa!" potong Dygta dengan pertanyaan yang bernada kasar.
"Nyonya tak sadarkan diri. Kami sudah menghubungi ambulance dan sebentar lagi akan tiba," jawab pelayan tersebut dengan bibir yang bergetar menahan takut.
"Argh!!" Dygta langsung memukul dinding.
"Apalagi ini!!" marahnya seraya menutup pintu dengan keras. Hingga kening pelayan tersebut terbentur daun pintu.
"Aww!!" Untung saja pelayan tersebut tidak mengalami luka yang serius. Hanya terjengkang saja dan hal itu membuatnya mendelik kaget seraya memegangi dadanya.
"Keluarga gila dan jahat. Kalian pantas mendapatkan ini semua!" pekiknya, seraya bangun dan kembali berlalu ke bawah.
"Setelah nyonya di bawa ke rumah sakit. Kita semua pergi dari rumah ini!" ucapnya pada pelayan yang lain.
"Lalu bagaimana dengan gaji kita?"
__ADS_1
"Kalian ambillah barang-barang berharga di rumah ini yang masih laku di jual," titah pelayan senior itu lagi.
Maka jadilah ketika Dygta pergi kerumah sakit membawa Filma maka para pekerja di rumahnya telah merencanakan kabur secara serempak.
"Toh, meskipun kita menagih gaji kepada tuan Dygta, dia tidak akan membayar upah kita. Mereka sudah habis dan tidak lagi memiliki apapun sekarang. Lalu apa yang bisa kita harapkan dari majikan yang miskin lagi jahat?"
Para pelayan pun mulai menggasak apapun barang yang sekiranya berharga dan berguna. Sukur-sukur mereka masih bisa menemukan sisa batang yang laku di jual. Karena nyatanya Filma masih menahan semua gaji pelayan sejak bulan lalu.
Di rumah sakit, Dygta terduduk di depan ruang tindakan.
Tabungannya sisa sedikit, sang ibu malah masuk rumah sakit. Untung saja kartu asuransi masih berlaku karena Dygta masih membayarnya di bulan lalu.
Akan tetapi, ada satu yang Dygta pikirkan.
"Dana asuransi Ibu jika meninggal ternyata besar juga. Dua milliar setengah adalah jumlah yang lumayan untuk membuka usaha ekspedisi independen," gumam Dygta dengan seringai jahat di wajahnya.
Kau, tidak sedang berpikir untuk mendoakan ibumu agar lekas mati kan, Dygta gila! 🙄
"Tentu saja tidak, berdoa itu hanya buang-buang waktu. Aku akan membuat ajal Ibu cepat datang. Anggap saja ini adalah tanggungjawab terakhirnya sebagai orang tua. Toh, selama hidup aku sudah menyenangkannya bukan?" batin Dygta dengan serangkaian rencana jahat di dalam kepalanya.
Oh, Dygta kau rupanya sudah benar-benar gila!
"Aku gila? Ya, aku nyatanya memang sudah gila!" Dygta pun tergelak sendirian di koridor rumah sakit yang sepi itu.
___________
Malam harinya.
"Halo Bu. Kata dokter ibu terkena stroke. Daripada ibu menyusahkan aku lebih baik ibu pergi dan sejahterakan anakmu ini sekali lagi," ucap Dygta pelan sambil menutup aliran oksigen dan juga menghentikan jalannya infuse water.
Dalam sepersekian detik raga Filma pun kejang-kejang.
Layar monitor yang menunjukkan kerja jantungnya tak lama pun berbunyi nyaring.
Seketika Dygta kembali membuka aliran oksigen dan juga infus seperti semula namun hal itu tak mengubah keadaan Filma yang kini sudah tak bernyawa.
"Ibu ...!!" teriak Dygta.
Ia menekan tombol merah dan para tim dokter pun bergegas masuk kedalam ruangan khusus ini.
"Maaf, Tuan. Pasien sudah pergi," ucap sang dokter setelah memeriksa keadaan Filma.
Anak kejam kau Dygta! 😳
"Ibu!!" Dygta kembali menghambur ketika dokter melipat tangan Filma di atas dadanya.
"Terimakasih, Bu ... terimakasih," bisik Dygta.
...Bersambung ...
__ADS_1