Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#49. KIYD.


__ADS_3

Keduanya nampak terdiam ketika berada di dalam mobil. Entah kenapa Red yang merasa justru tidak enak pada situasi yang tidak seperti biasanya. Kebetulan wanita maskulin ini yang mendapat tugas untuk membawa kedua majikannya ini dengan selamat sampai ke mansion De Xarberg.


Meskipun Leo membisu pada Nadia ketika di dalam mobil. Pria itu tetap saja perhatian terhadap wanita yang telah memenuhi relung hatinya itu.


Leo memutuskan keluar lebih dulu dan memutari kendaraan mewah itu untuk membukakan pintu bagi istrinya. Terlepas tangannya yang besar itu setia menjaga agar pucuk kepala Nadia tidak terbentur atap mobil.


Anehnya, wajah itu tetap dingin dan datar tanpa senyum seperti biasanya.


Apalagi setelah itu Leo berjalan tanpa berkata sepatah katapun. Meski tangan pria itu tetap menggenggam jemari Nadia.


"Dia itu, kenapa sih?" batin Nadia yang bingung.


Leo mencoba untuk bertahan tidak menoleh maupun melirik ke arah istrinya. Karena di sudut hatinya tersimpan rasa sedikit kesal entah karena apa.


"Nyatanya, kehilangan kamu sebentar saja merupakan hal yang sangat berat bagiku. Kenapa kau selalu membuatku takut Nadia? Kau tau penculikan itu meninggalkan rasa trauma di dalam sini dan sini," ucap Leo seraya menunjukan letak hati dan juga otaknya. Pria itu yang pada akhirnya tak mampu lagi memendam perasaan ketika keduanya telah sampai di dalam kamar.


"Iya, maafkan aku, Leo. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir, aku--" Nadia tak mampu meneruskan ucapannya karena Leo telah membungkam bibirnya dengan ciuman yang manis dan hangat.


Nadia sangat menyesal dan bersalah karena ia bisa merasakan bagaimana dada Leo berdentum kencang pada saat memeluknya. Itu pertanda jika suaminya ini tengah menahan sebuah perasaan yang luar biasa besar.


"Jujur, aku belum pernah memiliki perasaan yang begini besar kepada seorang wanita. Kau telah membuat hidupku yang datar dan kaku ini tak lagi hampa. Kau teramat sempurna sebagai wanita dan hal itu membuatku sangat takut kehilanganmu Nadia. Aku sangat takut," bisik Leo lirih.

__ADS_1


Nadia tak mampu lagi untuk menahan air matanya. Kata-kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat indah itu begitu menyentuh dalam ke dasar hatinya.


Hingga, Nadia tak kuasa untuk memberikan tanggapan maupun jawaban atas pernyataan yang Leo ungkapkan kepadanya.


Nadia hanya bisa memeluk erat tubuh kekar itu, serta menelusupkan wajahnya semakin dalam pada dada bidang Leo.


"Selamanya bersamamu, itulah yang aku inginkan Nadia. Tolong, katakan padaku jika kau ingin pergi. Jelaskan padaku jika ada hal yang ingin kau ubah dari kelakuanku. Bicaralah padaku akan apapun itu. Aku, ingin tau semua yang ada dalam pikiran dan juga hatimu," ucap Leo lagi, tapi kini kedua tangannya yang besar nampak memegang kedua pipi nadia, dan ibu jarinya mengusap lembut.


Manik matanya yang tajam dan pekat itu menyorot tajam dan tak bergeser sedikitpun dari wajah cantik alami yang sendu karena ulahnya.


"Sayang, aku sedang tidak menyalahkanmu ataupun marah padamu. Ini semua hanya ungkapan dari kelemahanku yang mana tak boleh di ketahui oleh para musuhku. Ya, Nadia ... kamu adalah kelemahanku," ungkap Leo dengan setetes demi setetes air yang mengalir dari ujung matanya.


Untuk pertama kalinya di usianya yang sudah sebanyak ini.


Bahkan, ketika sang adik mati bunuh diri pun, Leo tidak menumpahkan air matanya.


"Leo, tolong jangan menangis demi aku. Aku semakin merasa bersalah padamu," Isak Nadia.


Mendengar Isak tangis yang keluar dari bibir Nadia, Leo sontak menyadari bahwa ia telah terlalu terbawa suasana hingga hatinya begitu mellow saat ini. Bahkan, butiran kristal yang selama ini membeku bak gletser mencair.


"Ha, itulah hebatnya kau Nadia. Kau telah membuat Leon King ini meneteskan air matanya," ucap Leo di sertai tawa renyahnya.

__ADS_1


Betapa kaget Nadia karena pria ini begitu cepat berubah suasana hatinya.


"Apa dia baik-baik saja?" heran Nadia dalam hati.


"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu karena semua yang kau lakukan adalah reaksi dan inisiatif alami. Tetapi, untuk ke depannya aku tidak lagi mengijinkan reaksi itu. Kau adalah ratuku, dan aku lah yang memiliki kewajiban untuk membahagiakanmu Nadia," ucap Leo lagi, seraya memainkan bibirnya ke setiap inchi wajah istrinya itu.


"Kau adalah my Leon. Mulai saat ini aku tidak akan pergi lagi tanpa ijin dan sepengetahuan dirimu. Selangkah pun aku berjanji tidak akan keluar dari mansion ini tanpa dirimu," ucap Nadia yang sedikit geli karena bulu-bulu halus Leo menggelitik pipinya.


"Kau adalah singa betinaku. Kau milikku seorang saat ini, nanti dan selamanya," ungkap Leo jujur yang semakin membuat kedua pipi Nadia memerah bak udang rebus.


"Iya, iya, suamiku sayang. Lalu, apa aku boleh masak sekarang?" tanya Nadia yang mulai terbakar gairahnya karena sentuhan demi sentuhan lembut dari Leo.


"Kau ini! Kenapa masih saja memikirkan untuk memasak? Memangnya kamu tau apa yang mau aku makan sekarang?" cecar Leo.


"Aku sudah membeli beberapa jenis bahan masakan yang kau suka. Katakan saja hari ini menu apa yang ingin kau makan," jelas Nadia seraya memejamkan matanya pada saat bibir Leo mulai menjamah tulang selangkanya.


"Aku mau makan kamu."


Kau ini Leo.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2