Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#62. KIYD.


__ADS_3

Red dan Black tertidur di ruang tamu ketika jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sebab, keduanya menunggu sang majikan yang tak kunjung keluar dari ruang kerja.


Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana sampai betah sekali.


Tentu saja betah ketika kau bersama dengan pasangan yang membuatmu nyaman. Lagipula ruangan tersebut komplit dan mewah. Lantas hal apa yang membuat mereka merasa tak betah.


Buktinya, pasangan kucing dan tikus ini saja nyaman dengan aksi menunggu mereka yang sangat kompak.


Keduanya tertidur di sofa yang sama.


Red bahkan tanpa sadar telah menyandarkan kepala di bahu Black yang tertidur dalam keadaan mulut terbuka.


Tak lama Nadia dan Leo keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja dalam keadaan sang istri yang sudah lemas dan tertidur di dalam gendongannya.


Leo menggelengkan kepala melihat keadaan kedua ajudannya.


Menurutnya rencana Nadia menjodohkan pasangan itu ada benarnya juga. Mereka sangat kompak dan cocok selama ini.


Bahkan pikiran Nadia cukup jauh ke depan. Harapan kedua ajudannya itu memiliki anak yang sepantaran dengan bayi kembar mereka nanti. Sehingga, dirinya dapat mempersiapkan ajudan yang hebat untuk menjaga baby twin di masa depan.


"Kau ini memang cerdas sayang. Perhitunganmu sangat matang. Ku rasa kau ini hanya memanfaatkan momen mengidammu agar mereka tak bisa menolak," gumam Leo sambil tertawa lebar.


Menyadari kejeniusan Nadia. Bahkan dirinya pun tidak kepikiran sampai kesana.


Betapa hebat nanti anak Black dan juga Red, karena keduanya adalah ajudan tangguh yang serba bisa.


Bahkan Leo sudah beberapa tahun belakangan ini begitu mengandalkan keduanya.


____________


"Sayang, akhirnya mereka setuju untuk menikah!" seru Nadia senang bukan main. Sampai ia terlupa dengan keadaan perutnya yang sudah besar dan hampir saja melompat.


"Kau ini bisa diam sedikit tidak? Aku takut perutmu jatuh nanti," ucap Leo sambil memegangi bahu Nadia agar badan istrinya itu diam jangan bergoyang-goyang lantaran girang.


"Sayang, mana ada sih perut jatuh," tawa Nadia yang merasa ucapan Leo sangat konyol dan mengada-ada.


"Ya, makanya kamu diam. Kau tau tidak aku itu ngilu melihatnya," pinta Leo lagi dengan memelas. Sungguh seluruh tubuhnya gemetar ngeri ketika melihat gerakan Nadia yang begitu gesit.


"Iya suamiku yang tampan dan cerewet. Istrimu ini akan diam," ucap Nadia sambil memasang wajah menggemaskan untuk menggoda suaminya.


Melihat aksinya itu tentu saja Leo tak bisa tinggal diam begitu saja.

__ADS_1


Leo pun menarik wajah Nadia untuk di dekatkan pada bibirnya dan ...


Cup!


"Berhenti menggoda jika aku sedang bicara serius denganmu, sayang," ucap Leo seraya menatap ke dalam manik hazel Nadia yang semakin dipandang akan menenggelamkannya ini.


Mendengar ucapan serius dari suaminya itu justru membuat Nadia tertawa geli. Hingga pada akhirnya Leo pun ikut tertawa lepas.


"Kau ini, kenapa tak bisa membuatku marah sih," ucap Leo yang pada akhirnya memilih untuk menggigit gemas pucuk hidung mancung Nadia.


Sebelum sampai pada perhelatan pernikahan dari kedua ajudannya, Leo lebih dulu membawa Nadia untuk pemeriksaan rutin kandungan.


Betapa bahagia keduanya ketika USG kali ini, menggunakan 4 dimensi. Sehingga, bentuk dari janin yang berada dalam kandungan Nadia terlihat dengan jelas.


Baby twins terlihat begitu aktif di dalam sana.


"Tuan, Nyonya lihatlah. Bayi kembar kalian ini berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kondisi mereka berdua pun sehat dan normal," jelas dokter kandungan tersebut yang bernama Celine.


"Leo kau dengar kan. Bayi kita sepasang!" pekik Nadia seraya membekap mulutnya.


Air mata tak terasa merembes begitu saja melewati pipi hingga ke dagunya.


Nadia sangat terharu karena kali ia dapat menjaga kandungan serta janinnya dengan baik. Bahkan, ia dan Leo hanya tinggal menunggu waktu saja hingga momen pertemuan mereka tiba.


Karena jauh di dalam hatinya ia lebih bersyukur dari apa yang Nadia syukuri akan kehadirannya.


Leo pun pada akhirnya menyerah juga. Pria itu tak mampu menahan rasa haru yang menyeruak keluar dari dalam dadanya. Hingga bulir kristal bening itu, tak mampu lagi dibendung oleh kelopak matanya.


"Pada saat ini kalian sudah bisa mempersiapkan segala kebutuhkan bayi," kata Dokter Celine yang juga sempat membuka kaca mata untuk menyeka embun yang menguap dari rasa haru itu.


"Terimakasih Dokter. Atas dukungan anda dan perawatannya selama ini. Saya sudah tidak sabar rasanya untuk melihat dan menyentuh mereka," ucap Nadia yang masih berada dalam pelukan suaminya.


"Sama-sama, Nyonya. Anda berhak berbahagia dan bersabarlah sebentar lagi. Karena anda memiliki kemungkinan besar untuk melahirkan secara normal," sahut dokter cantik itu.


"Siapkan dan lakukan hal yang terbaik untuk istri saya. Jangan biarkan dia kesakitan pada saat melahirkan nanti. Kita sudah pernah membicarakan bukan!" tegas Leo dengan tatapan menuntut pada Celine.


Glek!


Dokter cantik yang masih betah dalam kesendiriannya itu merasa kesusahan hanya untuk sekedar menelan ludahnya.


"B–baik, Tuan. Semua sudah kami persiapkan dan soal rasa sakit, maaf kami tim dokter tidak dapat menghilangkan rasa alami yang menjadi titik penentu pertemuan antara ibu dan juga bayinya," jelas Dokter Celine sabar.

__ADS_1


Ya, dia harus sangat-sangat, sabar dalam menghadapi keposesifan pria ini terhadap istrinya.


"Sayang, biarkan aku menikmatinya. Aku pasti akan dapat melewatinya karena selalu ada kau di sisiku," ucap Nadia berusaha menenangkan hati Leo yang ia tahu tengah sangat gusar saat ini.


"Aku takut, Nadia. Aku sangat takut apalagi ketika aku tau bahwa proses itu adalah perjuangan antara ... hidup dan ... mati," ucap Leo dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


Nadia menarik wajah suaminya agar dapat menatapnya dan pada saat itulah ia dapat melihat buliran air mata itu kembali tumpah dari pria yang ia tau sangat kuat terhadap apapun serta kebal rasa.


"Hentikan semua pikiran yang bukan-bukan. Berjuanglah bersama kami," ucap Nadia yang sekuat hati menahan agar tak menangis.


"Aku akan berjuang bersama kalian bertiga," jawab Leo dan kembali memeluk erat istrinya itu.


"Aku sangat bahagia, Tuhan. Terimakasih telah menghadirkan dia dalam hidupku," bisik Leo dengan kecupan yang tak henti-henti berlabuh di pucuk kepala Nadia.


__________


"Jangan melamun. Tidak perlu banyak memikirkan aku. Sebentar lagi, kita tidak akan terpisahkan," ucap Black dengan wajah yang terlalu dekat pada Red.


Deg!


Red, mulai tak dapat menguasai debaran dalam dadanya acap kali pria tengil ini dekat-dekat dengan dirinya.


"Hatiku ini kenapa sih? Kenapa makin kesini makin lemah?" sungut Red dalam hatinya.


"Sampai saat itu tiba, sebaiknya kau menjauhlah dulu, Black!" usir Red yang mendorong wajah menyebalkan itu dari hadapannya.


"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan meminta pada tuan untuk mengawasi perusahaan cabang Merauke sampai hari pernikahan kita," ucap Black nampak serius.


Glek!


Kedua mata Red mendelik kaget.


"Hei, aku tidak bermaksud mengusirmu sejauh itu!"


Black pun memalingkan wajahnya sambil memasang senyum penuh kemenangan.


Bagaimanapun dia telah memenangkan hati si cewek galak.


Tak apa babak belur karena sebentar lagi Black yang akan menghajar Red hingga K.O di atas peraduan mereka.


Wohohoo ...

__ADS_1


Kondisikan isi pikiranmu, Black! 😏


...TAMAT...


__ADS_2