
Black diam-diam masuk kamar Red, karena tak ada jawaban ketika dia memanggil. Black melakukannya lantaran khawatir bahwa apa yang tadi ia cari tau dari Google ternyata kejadian pada Red.
"Red," panggil Black pelan, seraya mendekat ke arah tempat tidur Red dari samping.
"Nampaknya, dia lemas. Kasihan kau Red." Black meletakkan nampan berisi bubur dan juga susu hangat ke atas nakas.
Terlihat wanita berambut pendek kecoklatan itu tertidur, Black pun berinisiatif untuk menaikkan selimut hingga sebatas dada.
Black menghela napas lega ketika, mendapati Red yang tertidur pulas bukan pingsan.
Kemudian ia mendekat ke sisi tempat tidur untuk memperhatikan keadaan Red.
"Wajahnya pucat. Apa menstruasi sesakit itu, Red?" gumam Black bingung.
Ketika sedang asik memperhatikan wajah Red sepuasnya. Black mendapati sebuah getaran ponsel di dalam saku celananya.
"Tuan Leo."
Black pun keluar dari kamar Red untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Tuan," jawab Black.
"DIMANA KAU DAN RED!" pekik Leo kencang dari balik panggilan telepon seluler tersebut.
"Astaga!" Black menjauhkan sesaat layar ponselnya dari telinga. Karena sang majikan berteriak cukup kencang.
"Bolong nih gendang telinga," sungutnya.
"Maaf, Tuan. Saya ada di kamar Red," jawab Black.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!" teriak Leo lagi.
Dan, Black pun kembali menjauhkan ponselnya.
"Gak bisa apa kalo gak teriak, oh astaga!" Black hanya bisa mengusap pelan telinganya yang langsung berdengung.
"Red, sedang sakit, Tuan. Saya--"
"TEMUI AKU CEPAT!!"
Black hampir saja membanting ponselnya. Kalau saja tak ingat dulu waktu beli sampai mencicil lima kali.
"Untung sayang," celetuk Black memaki orang yang barusan menghubunginya dari jauh.
Black pun menengok dulu keadaan Red.
__ADS_1
"Kamu terlihat manis kalo diem begini Red. Tapi, aku lebih suka kamu yang sehat dan marah-marah sama aku. Kalo begini ngeliat kamu aku tuh sedih. Hatiku langsung hampa. Ternyata, sebesar itu cinta aku sama kamu ya cewek galak. Sayangnya, kamu itu benci banget sama aku," monolog Black pelan.
Ia yakin jika wanita yang tengah tertidur ini tidak akan tau apa yang saat ini di bicarakan oleh bibirnya.
"Aku tinggal dulu ya. Tuan kayaknya butuh banget. Kamu istirahat aja nanti aku bakal balik lagi," ucap Black seraya mengusap pucuk kepala Red.
Sepeninggal Black, Red nampak membuka pelan kedua matanya dan bibirnya tersenyum tipis.
Di luar paviliun.
"Kalian berdua. Perhatikan keadaan ajudan Red. Lalu laporkan pada saya, paham!" titah Black pada pelayan yang tadi ia perintah membuat bubur dan susu.
"Baik ajudan Black!" jawab mereka berdua.
Black pun menyerahkan selembar uang merah pada mereka.
"Buat beli, pulsa," kata Black.
Keduanya pun menunduk dan mengucapkan terimakasih.
Black pun sampai ke mansion utama untuk menghadap pada Leo.
"Maaf, Tuan, Nyo--"
"Jelaskan padaku sekarang!"
"Sabar, suamiku. Bicara dan tanyakan pelan-pelan. Ingat, dia adalah orangmu yang setia," bisik Nadia mendinginkan kepala Leo yang isi otaknya sedang mendidih.
"Tuan, apakah anda tau jika Red meminta ijin libur itu ternyata dia sedang tidak sehat?" tanya Black penasaran.
Karena selama ini juga dirinya abai saja, tapi mungkin dengan Leo dia jujur.
"Tidak. Memangnya ada apa?" tanya Leo penuh selidik.
"Hari ini saya sangat kaget melihat keadaannya yang tiba-tiba drop. Bahkan, Red berlumuran darah pada saat kami berdua tengah membahas soal dokter kandungan," jujur Black.
Ia berharap agar majikanya ini menghadirkan dokter untuk memeriksa keadaan Red.
"Apa, darah!" kaget Nadia seraya membekap mulutnya.
"Katakan singkat dan jelas apa yang kau tentang Red dan keadaannya saat ini!" tuntut Leo dengan nada bicara yang tegas.
"Red, katanya sedang datang bulan. Tetapi, menurut saya keadaannya tidak normal. Karena darahnya banyak sekali dan wajahnya sangat pucat saat ini," terang Black sejelas-jelasnya.
"Aku akan melihatnya, Leo," kata Nadia.
__ADS_1
"Aku ikut."
Sesampainya di kamar Red.
Ketiganya di kejutkan dengan penampakan sosok yang sedang asik menikmati bubur.
"Red! Kau sudah bangun?" tanya Black heran.
Tentu saja dirinya langsung mendapat sorotan tajam penuh tanya dari Leo.
Red pun terkejut dengan kedatangan dua majikan di dalam kamarnya.
Padahal, seumur-umur Tuan Leo mana pernah menginjakkan kakinya ke paviliun belakang.
"Red, apa benar kau sedang datang bulan dan pendarahan?" tanya Nadia.
Red, sontak menoleh ke arah Black. "Dia ini, kenapa melapor segala pada tuan dan nyonya," gemasnya dalam hati.
"Jujurlah Red. Atau kami akan membawamu kerumah sakit. Iya kan Tuan," ucap Black macam orang bodoh.
"Mana ada orang menstruasi di bawa ke rumah sakit. Stupid!" omel Leo yang merasa anak buahnya ini hanya membuang masanya saja.
Nadia menatap kepada Red dan Black bergantian. Setelahnya ia tersenyum karena paham kenapa Black begitu panik dan khawatir.
"Aku akan memanggil dokter kesini. Red, tidak perlu kerumah sakit," kata Nadia, yang otomatis mendinginkan suasana.
"Dimana-mana, dan memang sebuah kenyataan yang tidak bisa di debat. Kalau cinta bisa membuat seseorang mendadak jadi bodoh," bisik Nadia pada Leo.
"A–apa aku juga, terlihat seperti itu?" sahut Leo dengan berbisik pula.
"Haih, ternyata kau tak sadar diri," cibir Nadia.
"Hei, apa iya? Kapan?"
Leo nampak tak terima.
"Mereka berdua lagi bahas apa?"
Red dan Black saling tatap lalu sama-sama mengangkat bahu mereka.
_________
Mendekati ending guys.
Jadi tinggal yang manis-manisnya aja ya.
__ADS_1
...Bersambung ...