Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#50. KIYD.


__ADS_3

"Ah Leo! Sayaaangg ...!" teriak Nadia yang terlihat begitu menikmati, olahraga mereka siang itu. Akhirnya Nadia menyerah dan memutuskan untuk bermandi peluh dengan suaminya.


"Ratuku, kau telah mengalihkan duniaku. Ini ... rasanya nikmat sekali," racau Leo terus bergerak sambil sesekali melabuhkan kecupannya.


"Benarkah Leo. Tapi aku kan--"


"Aku apa? Kau tau kenapa pria gila tak tau malu itu masih terus mengejarmu? Itu karena dia tidak bisa menemukan kenikmatan ini dengan wanita lain," ungkap Leo.


"Kenapa harus bahas dia. Kau merusak suasana!" dengus Nadia.


"Agar kau percaya, kalau milikmu ini sungguh membuatku gila, Nadia!" Leo menggeram pertanda pria itu akan mencapai puncaknya.


"Oh, Leo aku--" Nadia tak bisa berkata-kata lagi dan ia terlihat mendekap erat bahu suaminya dengan erat.


Leo sudah melupakan segalanya dan pria itu terlihat mempercepat ritme gerakannya, dengan hentakan yang cepat dan kuat.


lantunan suara kepuasan itu pun keluar bersamaan dari mulut mereka berdua. Dengan keadaan raga perkasa yang melenting, serta kepala yang mendongak ke atas.


Sementara, Nadia mendekap erat tubuh penuh otot itu dengan sedikit bangun dari posisinya yang terlentang.


Dada keduanya nampak naik turun dengan napas yang tersengal-sengal.


Dengan sedikit meringis, Leo melepas penyatuan mereka. Lalu duduk bersandar, sambil mengontrol napasnya yang tak beraturan. Kepala Nadia ia naikkan ke atas pangkuannya kemudian Leo memainkan rambut hitam pekat Istrinya itu.


Senyumnya mengembang sempurna, menatap raga polos Nadia, dengan beberapa hiasan buatannya di beberapa bagian tubuh seksi itu.


"Jangan menatapku." Nadia sontak menyilang kan kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit menaikkan kakinya dan menekuk.


"Apa yang ingin kau sembunyikan dariku, hm?" tanya Leo heran, padahal ia telah mengetahui setiap inchi tubuh molek istrinya itu. Bahkan ia pun hafal, dimana letak satu-satunya tanda lahir istrinya itu.


"Aku mau membersihkan tubuhku duluan." Nadia hendak bangun.


"Kita bersama saja." Leo seketika berdiri lalu meletakkan tangannya di bawah pinggang dan juga bahu Nadia.


"Aaa ... Leo!" Nadia berteriak kaget karena tubuhnya seketika terangkat. Segera ia mengalungkan lengannya di leher kekar Leo.


"Aku gak mau ya, kalo nanti kamu modus," ancam Nadia seraya mengerucutkan bibirnya.


Cup!


Melihat bibir yang seksi itu maju, sontak saja Leo langsung membungkamnya dengan ciumannya yang cepat.


"Leo!" pekik Nadia.


"Ngapain modus, mau makan tinggal makan," celetuk Leo.


"Aku bukan makanan Leo!" sungut Nadia.

__ADS_1


Cup!


Kali ini Leo mencium lagi bibir istrinya dengan sedikit sesapan.


Kedua mata Nadia pun semakin membulat sempurna.


Cup!


Leo kembali meraup bibir itu berkali-kali.


"Leo!" Nadia pun meronta di dalam gendongan suaminya.


"Lagi?" goda Leo, setelah pria itu melepaskan tautannya. Tentunya dengan senyum yang semakin membuat wajahnya tampan berkali-kali lipat.


"Tidak!" tolak Nadia meski kedua pipinya itu memerah dan hangat.


Cup!


Ciuman Leo kali ini gagal, dan hanya mengenai punggung tangan. Karena Nadia yang geram telah sengaja membekap mulutnya sendiri.


Hal itu tentu saja membuat Leo terkekeh geli. Menggoda istrinya itu memang moodbooster untuknya. Macam suatu kebahagiaan tersendiri.


Leo melenggang gagah dengan sosok Nadia yang berada di dalam gendongannya. Gemas sekali rasanya tak ingin berhenti untuk terus menikmati keindahan itu jika saja dia tak memikirkan keadaan istrinya yang sudah kelelahan.


"Sini, biarkan aku menggosok punggung mu," tawarnya, yang mana kini ia tengah memangku sang istri di dalam bath up.


"Apa airnya kurang hangat?"Leo mengalihkan ucapan Nadia. Pria itu semakin menikmati kegiatannya mengusapkan sabun ke seluruh tubuh istrinya itu. Bahkan di beberapa area kesukaannya, Leo pun sengaja berlama-lama.


"Kondisikan tanganmu, suamiku!" protes Nadia gemas, yang sejak tadi sudah geram. Karena dirinya dianggap mainan bagi suaminya ini.


Semakin marah maka kau semakin terlihat menggemaskan sayang," batin Leo.


"Suamiku. Sepertinya kedinginan," kata Nadia beralasan pada Leo yang tengah menyandarkan dagu pada bahunya sambil memejamkan matanya. Akan tetapi, kedua tangannya tetap saja tak mau diam.


"Kan, tadi aku udah bantu menggosok tubuhmu. Sekarang, gantian dong," ucap Leo membuat Nadia menghela napasnya.


"Ya sudah, aku keluar dulu." Nadia hendak beranjak bangun, tapi lengan Leo malah membelit pinggangnya. Hingga ia tercebur kembali kedalam genangan air.


"Aaaa ...!"


"Leo!" pekik Nadia kesal.


Suaminya ini ternyata mempermainkannya.


Kini mereka jadi berhadap-hadapan, dan seketika Leo terpesona pada wajah dengan rambut basah itu. Di mana air mengalir, melewati hidung mancung serta bibir istrinya yang selalu nampak menggoda.


"Kenapa teriak sih sayang. Aku masih rindu padamu. Setidaknya berikanlah aku sebuah ciuman, boleh kan?" tanya Leo dengan sorot mata yang membuat Nadia tak mampu menolak keinginannya.

__ADS_1


Leo tidak bisa menahan keinginannya itu setiap melihat wajah istrinya yang selalu saja mampu menggoda di setiap suasana.


"Ah ya baiklah," jawab Nadia setuju. Setidaknya semua cepat selesai, ia sudah menggigil saat ini.


Dan,


Cup!


"Emhh ...!" Setelah sang istri menempelkan bibirnya, maka Leo tidak akan melepaskannya begitu saja. Akal pria itu sangat licik sekali.


Sungguh modus kau Leo.


Semua itu, bahkan tidak akan cukup sampai di situ saja.


Mereka kembali melepas gelora yang memunculkan sengatan panas. Mengarungi nirwana hingga lupa diri.


Entah bagaimana caranya, Leo si pria polos meski di usianya yang telah sangat matang itu. Menemukan cara bermandi peluh dengan sang istri, lewat imajinasinya sendiri.


"Leo!" Nadia menekan kedua pahanya sendiri. Ketika, lagi-lagi dirinya telah merasakan puncak dari permainan panas mereka. Di barengi dengan lenguhan berat dari Leo. Menandakan bahwa, mereka telah mendapatkan kepuasan secara adil.


Akhirnya, raga lemas Nadia terkapar di atas dada bidang dengan bulu halus itu.


Pada akhirnya Nadia kembali terperdaya bujuk rayu setan eh Leo.


"Maafkan, aku. Karena tidak bisa menahan diri," bisik Leo lembut di telinga Nadia, seraya mendaratkan kecupan lembut di pipi penuh keringat itu.


"Sepertinya, aku tidak kuat masak," keluh Nadia dengan bibir yang mengerucut secara spontan dengan matanya yang menatap sinis kearah suaminya.


"Aku akan menggendongmu, jika kau ingin berjalan ... tenang saja. Aku pasti bertanggung-jawab atas perbuatanku. Soal masak, itu tidak lagi penting. Aku punya koki, kau lupa." Sontak, kata-kata terakhir dari Leo, membuat Nadia menggeleng pelan.


"Tentu saja, sebagai istrimu. Aku akan menuntut pertanggung-jawaban padamu." Akhirnya tawa Nadia pun lepas.


"Sepertinya, kau masih kuat satu ronde lagi?"


"Kau ingin ku sunat lagi, Leo!" ancam Nadia kesal campur gemas pada suaminya ini.


"Kau yakin, sayang? Kau yang rugi nanti!" gelak Leo yang puas ketika melihat wajah Nadia yang semakin memerah.


Pria bertubuh atletis itu pun turun meninggalkan Nadia sendirian di atas tempat tidur. Karena Nadia menolak untuk di ajak mandi bersama. Pasti nanti suaminya tidak akan dapat menahan diri lagi.


"Bisa mati aku. Kenapa dia seperti banteng," gerutu Nadia.


Banteng??


😆


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2