Kebangkitan Istri Yang Dikhianati

Kebangkitan Istri Yang Dikhianati
Bab#44. KIYD.


__ADS_3

Setelah melihat penjahat itu mati terkapar dengan darah yang keluar dari mata, hidung dan juga telinganya.


Kini, giliran Nadia merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Air matanya seketika luruh seiring tubuhnya yang juga jatuh bersimpuh.


"Aku, aku sudah membunuh orang dengan kedua tanganku," gumam Nadia lirih seraya melihat kedua telapak tangannya.


Semua kejadian ini perlahan telah membuat dirinya menjadi orang yang berkepribadian lain. Lebih kuat dan berani tanpa takut mati.


Apakah karena, memang dirinya pernah mencoba untuk mati dan gagal.


"Sebentar lagi pasti akan ada yang datang, tentu saja para anak buah mu yang bodoh itu. Aku akan menghabisi mereka satu persatu, kau pikir aku akan takut! Tidak, aku tidak akan takut!" Nadia justru kini meneriaki Barca yang telah mati.


Nadia kembali menghapus kasar air matanya, ia pun gegas keluar dengan berlari.


Nadia berlarian di lantai marmer dengan kaki tanpa alas. Sepasang mata indahnya menelisik setiap arah, mencari jalur untuk turun. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan yang kekar membekapnya masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.


Brak!


Pintu di tutup.


Klik.


Lampu dalam ruangan kecil itu pun menyala. Meskipun redup tapi dapat menampakkan satu wajah yang sejak tadi sangat ia harapkan untuk kehadirannya.


Terutama, ketika tangan si busuk

__ADS_1


Barca menyentuhnya.


"Leo," lirih Nadia dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu lambat menjemputmu ...," lirih Leo, seraya menarik tubuh bergetar itu ke dalam rengkuhannya.


"Leo, kenapa kau lama sekali? Ku pikir kau tidak lagi perduli padaku!" omel Nadia sambil memukuli dada bidang suaminya dengan pukulan lemah.


"Itu tidak mungkin. Sungguh maafkan aku." Leo berulangkali meminta maaf, kemudian mendekap Nadia sambil melabuhkan kecupan pada ujung kepala istrinya itu.


Nadia mendadak rapuh di hadapan lelakinya, dia yang tadi sok kuat dan berani, kini bergetar hebat dalam isak tangisnya.


Tenggelam di dada bidang itu, menelusup kan rasa rendah dirinya.


"Pria itu menyentuh tubuhku dan aku tidak bisa menjaga diriku dari sentuhannya." Nadia terisak semakin kencang dan mengeratkan pelukannya.


"Jangan!" Nadia menahan pinggang Leo dengan melingkarkan kedua tangannya d sana. Karena Leo ingin menghabisi Barca yang kini tak bernyawa.


"A–aku, aku sudah menghabisinya," ucap Nadia yang mana hal itu membuat Leo kaget dan mencengkeram bahu istrinya. Tatapan Leo penuh tanda tanya.


"Bagaimana bisa? Apa yang kau lakukan padanya?" cecar Leo.


"Aku menggunakan senjata jarum kematian milik Red yang mana jarum itu beracun dan harus tepat menyerang titik syaraf agar dapat meledakkannya," jelas Nadia takut-takut.


"Red memberikannya padamu atau kau--?"


"Aku, mencurinya. Red pasti marah padaku," jawab Nadia kembali menangis.

__ADS_1


"Sudahlah, kalau begitu kau tak perlu khawatirkan yang lain. Bagiku, keselamatanmu adalah yang lebih penting. Lagipula, Red pastinya akan bangga padamu. Kau itu ternyata cepat sekali belajar," kata Leo, bermaksud membuat tenang hati istrinya.


Manik mata setajam serigala miliknya menatap mata berair itu serta memegangi kedua bahunya.


"Aku berjanji, ini terakhir kalinya kau lepas dari pengawasanku." Leo kembali merengkuh raga itu, membawa kedalam pelukannya. Memberi ketenangan dan keyakinan, bahwa rasa di hatinya tidak akan berubah.


"Kita keluar dari sini." Leo pun menuntun tangan dingin itu. Membawanya menuruni tangga, hingga sebuah tembakan melesatkan peluru di antara kaki mereka.


Tarr!


"Akh!" Nadia memekik kencang karena hampir saja peluru itu mengenai kaki nya.


"Kesini." Leo dengan cepat menarik tubuh Nadia untuk bersembunyi dibalik dinding.


Leo pun mulai mengokang senjatanya lagi.


Dadanau naik turun pertanda adrenalinnya kembali terpacu.


Dor dor!


Dorr!


Tembak-menembak pun tak terelakkan lagi, hingga terdengar kembali jeritan dari seseorang yang terkena lesatan timah panas itu.


"Leo!!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2