
-pov-
" Nara prustasi hidup kaya gini terus kak " ucapku pada lanar hari itu yang sedang melihat sunset bersama.
" Kak..? " Tanya lanar menatap ku kaget dengan wajah lucunya.
" Kenapa? " lanjutku bertanya dengan wajah lelah.
" E-enggak "
" Nar "
" Hmm " dengusku pada lanar.
" Gimana kalau kita tinggal di Jepang biar refresing aja itu pikiran.. sekalian kakak juga ada pertemuan penting disana " jelas lanar padaku.
Mendengar lanar mengatakan itu aku hanya menatap nya sesaat dan kembali menatap ke depan. lalu aku mengangguk tanpa tersenyum.
Kita akhirnya kembali dan makan malam Direstauran sembari membicarakan soal kepergian ke Jepang.
" Gimana kalau kamu lanjutin masa SMA di Jepang, kamu juga pasti rindu kan? dengan tempat kelahiran mu.. " tegasnya padaku.
" ... "
" Aku akan ikut denganmu.. namun "
" Apa? " Tanya lanar.
" Bagaimana bisa aku mempercayai mu? " lanjutku bertanya pada lanar.
" Karena kita keluarga " lanar tanpa basa basi dan terbata-bata langsung sepontan mengatakan itu dengan senyum ditambah wajahnya yang percaya diri.
Melihat lanar aku menjadi yakin dan mempercayai nya. selesai makan aku kembali ke rumah dengan di antar oleh lanar.
__ADS_1
Ini kedua kalinya lanar masuk kedalam rumahku, dia dengan berani mengajak bicara ayahku empat mata.
Setelah beberapa menit menunggu dengan tenang di temani minn kee dan lee park yang ikut menunggu dengan wajah serius, akhirnya lanar masuk ke kamar dengan tersenyum.
Namun aku sadar bahwa mata lanar memerah, sepertinya dia habis menangis..
Saat itu juga aku mengemasi barang-barang, aku tidak dilarang sama sekali, bahkan minn kee tidak berkutik sedikit pun.
Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Indonesia.. esoknya adalah hari minggu..
Hari minggu ini aku pergi mengunjungi makan jiwon, terlihat jelas salib menancap di atas tanah kubur.
Aku hanya terdiam seakan mati rasa untuk menangis, beberapa jam berlalu aku terus terdiam di depan makam nya.
Melamun entah memikirkan apa, seakan aku sudah tidak peduli dengan lanar yang sedari tadi berdiri dibelakang ku sembari memayungi ku karena hujan tiba-tiba turun begitu deras. Seperti saat kematian nya hari itu. Menyakitkan sekali..
Yang membuatku terkejut kak lanar masih tetap setia menemaniku disana sembari memayungi ku dengan payung hitam nya itu.
Hingga matahari kembali menyinari tempatku itu dan lalu aku pergi dan semakin jauh dari tempat makam nya jiwon.
Tidak berani menatap kebelakang, dan semakin jauh.
**
Aku yang bawel dan hobi tersenyum, mendadak jadi jarang tersenyum setelah pelatihan hari itu. Tapi sekarang aku bahkan enggan sama sekali untuk tersenyum,
ini seperti bukan aku yang sebenarnya.
Tidak lupa aku juga mengunjungi elouna untuk mengucapkan perpisahan sembari meminta maaf padanya..
-pov-
" Selamat malam Pak, saya lanar ingin mengunjungi tahanan no 302 atas nama elouna " ucap lanar sembari memegang pundak ku.
__ADS_1
" Selamat malam juga tuan lanar, silakan biar saya antar ke tempat nona elouna "
Kami diantar polisi itu, disana elouna sudah duduk dekat tembok lorong..
lanar mendorongku perlahan..
" Kalian bicara aja dulu, aku tunggu diluar " ucap lanar langsung pergi.
"... " aku hanya terdiam menunduk tanpa berani menatap ke arah elouna.
" Ngapain berdiri aja? sini duduk " tegas elouna tersenyum menepuk kursi panjang di sebelah nya.
Mendengar itu aku berjalan dan duduk di sebelah nya sembari terus menunduk.
" Engga kerasa yaa.. udah berapa bulan kita ngga ketemu nar.. " tanya elouna tersenyum tipis menatap langit-langit yang gelap.
" Engga tau " ucapku menoleh melihat wajah elouna.
Kita berdiam lagi, karena tidak ada yang ingin buka suara. Aku memilih duluan bicara.
" Maaf.. aku ngga becus buat jadi ketua, seharusnya aku bisa kontrol diri aku sendiri.. ini pasti engga akan terjadi kan ell.. "
" Kenapa ngomong gitu? ini kan pilihan kamu sendiri, kamu yang udah milih ini.. berarti kamu udah tau resiko dari ini semuanya " jawab elouna mengusap tanganku.
" Aku yang seharusnya minta maaf nar, aku tau kamu hanyalah terbawa emosi oleh mereka.. tapi justru aku tidak mencegahmu.. bahkan menyelamatkan mu saat di pukul pun " ucap elouna yang masih tetap tersenyum tipis.
" Ini semua salah aku.. aku engga bisa lindungin kamu sama jiwon, padahal aku tangan kanan kamu nar.. " lanjut elouna jelasnya padaku.
" Tapi aku yang m€mbvnvh mereka.. seharusnya aku yang- "
" Sttss ini adalah hukuman paling pas untukku, setelah keluar kamu boleh hukum aku lagi " jawab elouna membuat menangis.
Kenapa dia terus terang menyembunyikan semua kesalahan yang diperbuat ku agar tidak merasa bersalah sepenuh nya..
__ADS_1