
Esoknya pagi-pagi buta sekali ada seseorang yang memanggil namaku, benar-benar menganggu waktu istirahat ku di pagi hari.
“ NARA!! OHAYOU!!! ”
" hah?! hmm? " dengusku membuka mata dan menatap sekitar dengan perasaan was was.
" Mimpi buruk apa sih sampai pagi-pagi gini saki bangunin " kesalku berdiri dari kasur untuk membuka gorden.
" Hah? siapa tuh? " ucapku yang masih berusaha mengumpulkan nyawa.
“ Itu dia!! Nara Selamat Pagi!! ”
ucap saki menatap ku sembari melambai-lambaikan tangan.
" Yaampun bukan mimpi ternyata "
Aku segera turun tanpa cuci muka dan menghampiri saki yang tengah ada dibawah.
“ Oi! ngapain teriak pagi-pagi dirumah orang! mau cari ribut sama tetangga yang lainnya? ”
" Heheh ayo aja sih, nanti kamu juga harus ikut di marahin ya! " ucap saki tersenyum tanpa dosa.
" Ngapain? "
" Sekolah dong Nara chan~ "
" Aku libur hari ini "
" Yasudah ayo main dirumahmu saja "
“ Kamu nggak sekolah? ” tanyaku heran melihat saki.
" Kan kamu libur, aku juga libur dong.. Satu kelas bukan? " lanjut saki membuka pagar rumahku.
" Bener sih, yaudah ayo masuk "
" Heheh terimakasih sudah mengijinkan "
**
" Permisi "
" Ehh siapa? temennya Nara? " tanya lanar yang kebetulan masih ada di rumah.
" Bukan dia cuma orang asing yang sokab aja " candaku menatap dingin lanar.
" Gue mandi dulu ya "
Saki hanya menganggu dengan senyum lebarnya, dasar aneh.
“ Kau kakak nya Nara ya?! ”
" Adikmu Nara sangat keren sekali!! aku senang bisa berteman dengan nya "
" Euhm syukurlah, aku nitip Nara ya..Tolong bantu dia agar tersenyum kembali ".
(Lanar benar-benar beban Sekali!!)
Saki yang tidak penasaran atau pun bertanya dengan ucapan yang dimaksud lanar, langsung mengiyakannya dengan antusias.
__ADS_1
" Aku akan selalu membuatnya tersenyum selama ada disisi ku "
" Aku lanar, karena hari ini sibuk..tolong bilangin sama Nara, makanan udah di siapin di dalam kulkas, ada puding labu juga sama es krim, kamu boleh memakannya " ucap lanar siap-siap segera pergi.
" Baiklah, Hati-hati dijalan " saki masih tetap tersenyum ngembang.
Lanar hanya bisa membalasnya dengan anggukkan.
" NARA AKU KE ATAS YA!!! "
Sekali lagi aku celingak celinguk keheranan dengan suara itu, jarang sekali aku mendengar teriak yang amat sangat berisik ini.. Hari-hariku yang malang..
**
-Dijalan-
" Kita mau pergi kemana? "
" Hmm aku ingin makan cake di cafe "
" Hei kau sudah makan puding labuku di rumah sebanyak 13pcs !!! " kesalku menatap saki.
" Heheh maaf, aku benci puding labu..Tapi kalau dikasih gratisan siapa yang bisa nolak "
" Yaampun~ "
" Nara lihat itu! ayo main game capit boneka, ada gacha juga loh "
" Heeh~ kamu ngerti hal ginian ternyata "
" Aku nggak sejadul yang kamu kira tau! "
Kami tertuju pada salah satu toko besar yang di dalamnya dipenuhi dengan mainan pencapit hadiah..Saki terlihat begitu antusias, aku saat itu memilih untuk duduk dan minum terlebih dahulu.
Baru saja ditinggal bentar untuk minum, itu bocah sudah mendapatkan boneka yang membuatku melotot kaget.
" Hehe tada Nara, aku dapat boneka yang paling besar Loh " ucap saki berjalan sembari menggendongi boneka yang ia menangi.
" Boneka yang kau dapat ukurannya sama semua " ucapku menatap datar saki.
" Yasudah giliran Nara "
Sebenarnya aku tidak tertarik, tapi melihat saki yang langsung mendapatkan nya membuatku Yakin bahwa aku juga pasti bisa.
' ANDA GAGAL '
Jujur sudah 33× aku mendengar suara itu.
“ BERISIK BANGET SIH ELU S!ALAN!!! ” kesalku ingin m€m*kul kaca yang ada di hadapan ku itu.
" Ehh!! Nara! Nara!! "
" Nggak boleh! "
" Habis ngeselin banget sih!! " marahku menc*ci-c*ci mesin itu.
" Belom waktunya dapet boneka mungkin, ayo kita pergi aja " ucap saki menarik tanganku karena tidak enak dengan penjaga tokonya.
" Ckk nyebelin! " marahku langsung menarik jaket yang tadi di tarik saki.
__ADS_1
" Yang sabar dong, kamu mainnya nggak pake hati sih " ucap saki sedikit memarahiku.
" Berisik ah! Gue nggak punya hati "
ucapku pergi meninggalkan saki duluan.
" Kalau gitu aku mau kok kasih hat!ku buat Nara heheh " dia tersenyum mengejarku.
" Tidak perlu nanti aku ketularan s!nt!ng "
" Makan es krim ditaman aja Yuk! " lanjut saki berkata sembari merangkul tanganku.
Aku hanya bisa melihat itu dengan ekpresi kesal, dan mau tidak mau harus menurutinya.
Entah sejak kapan, sikapku jadi lebih kasar, sensitif dan tomboy..
**
Aku duduk menatap ke depan sembari tanganku menahan topangan dagu, sembari menatapi anak-anak kecil yang tengah bermain bersama.
" Seru banget ya, mereka masih pada muda jadi melakukan apapun tidak akan salah dan mudah dimaafin " ucap saki buru-buru berdiri.
“ Mau ngapain? ”
" Pegangin dulu es krim nya dong, aku mau main bareng mereka " ucap saki menaruh boneka di atas paha ku dan menyimpan es krim tepat di tanganku.
" Heh aku bukan gantungan barang mu Ya!! "
" Itu es krim bukan barang!! " teriak saki.
Aku menatap nya sesaat.. benar saja, saki langsung berbaur dengan anak-anak yang tidak dikenalinya sendiri..
Aku hanya menatap saki memainkan bola dengan lincah dan sangat bahagia.
“ Kekanak-kanakan ”.
**
Aku diantar pulang seperti biasanya..
Sebelum benar-benar pergi dan bertemu kembali besok, saki mengatakan sesuatu.
" Selamat malam, jangan lupa mimpiin saki Ya! " ucapnya tersenyum di luar pagar.
" Ogah aku mau tidur dengan tenang "
" Heheh yasudah ini boneka nya buat Nara, buat peluk biar bisa tidur nyenyak "
" Ehh ngasih nih? "
" Iya, boneka ini adalah penghubung antara kita berdua yaa! kedepannya~ " ucap saki tersenyum mengulurkan jari kelingking nya.
" Euhm baiklah, tapi ga apa nih? kan kamu yang menangin " ucapku membalas uluran jari saki.
" Kamu kelihatan nya pengen banget itu boneka, karena lucu kan?? anggap saja ini adalah hadiah atas kesabaran Nara selama ini " saki terlihat buru-buru pergi dan sebelum itu dia menoleh dan tersenyum kearahku.
( Aku bersyukur karena telah membalas jari kelingking saki tanpa berpikir pendek terlebih dahulu )
Setiap hari dia sering mengajak ku main keluar, itu tidak terlalu berat untukku, waktu ku jadi dapat terpakai dengan baik.. Dibandingkan hanya diam di rumah saja.
__ADS_1