
Berbulan-bulan kemudian, aku dan saki benar-benar dekat, hingga dijuluki “ Twins Nerd ” karena kami memang suka membaca.. Yah aku hanya membaca komik tidak dengan saki yang benar-benar serius membaca pelajaran di perpustakaan.
“ Nara-chan, mau nggak nanti mampir kerumahku, sekalian aku mau kembaliin barang yang pernah aku pinjem ” ucap saki tersenyum menghindari orang-orang yang menjauhinya.
" Euhm ayo " singkat ku yang berusaha tidak ingin dekat dengan saki.
" Kalau gitu aku duluan ke kelas music ya " lanjutku buru-buru meninggalkan saki.
Aku tidak ingin membuat saki dibenci dan dijauhi oleh teman-teman yang lainnya karena bergaul denganku.
Sepulang sekolah setelah ada kelas tambahan, saki masih tetap menemani ku dengan antusias..Akhirnya aku pulang bersama ke rumah saki..
-Di Rumah Saki-
" Silakan masuk, maaf kalau berantakan " saki terlihat membuka pintu kamarnya.
“ Enggak kok ”
" Nah ini kamarku, kamu boleh duduk dimana aja.. senyamannya Nara " ucap saki sembari terlihat menaruh tasnya.
Aku memilih duduk di zabuton karena saki tidak memakai kasur..
Saat itu aku melihat foto saki yang tengah memakai pakaian biru..Ya pakaian rumah sakit.
Aku yang penasaran lalu bertanya tanpa berpikir apakah itu menyakiti nya atau tidak.
“ Kau pernah sakit parah ya saki? ” tanyaku tanpa ekpresi.
" Euhm ehh? " saki memasang wajah kaget sekaligus kebingungan kearahku.
" Ah itu fotomu " lanjutku menujuk foto menggunakan alis.
" Oh ini, iya aku pernah dirawat dirumah sakit " jawab saki tersenyum paksa.
“ Ohh sakit yaa? Sakit apa? ” lanjutku bertanya dengan ekpresi tidak peduli.
" Radang paru-paru sekaligus jantung " saki menjawabnya seperti tidak punya beban dihidupnya.
“ Aku kira kanker otak ”
" Ahaha bukan kok, hanya paru-paru ku sedikit bermasalah " tersenyum tidak enak.
Disitu aku berpikir, apa karena ini yaa saki tidak pernah terlihat dikelas?
**
" Ini minumannya, maaf hanya ada susu dan mochi kacang merah " ucap saki terlihat menyimpan nampan dan duduk berhadapan dengan ku.
" Engga apa, aku makan yaa "
" Ehm silakan "
Aku memakan dengan santai sembari memperhatikan detail kamar saki yang biasa saja, tidak modern dan juga tidak jadul.
Sangat praktis dan biasa saja tanpa hiasan ala-ala anak remaja Jepang.
" Kamu suka apa saki? "
__ADS_1
" Ehmm.. aku suka music kuno, seperti instrumental.. aku juga suka hal berbau fantasi istana kerajaan "
" Ehh selera yang buruk " ucapku tersenyum menatap saki.
" Gimana kalau kita ke disneyland, melihat putri-putri kerajaan " lanjutku menawarkan hal yang akan mempererat hubungan kami berdua kedepannya.
" Dengan senang hati, bagaimana dengan lusa nanti.. semampunya Nara aja, takutnya sibuk " jawab saki yang membuat ku kebingungan.
“ Sibuk ngapain? ” tanyaku heran.
" Kamu kan harus latihan panah dan juga.. "
" Itu udah lama, engga penting juga "
“ Ehh nggak penting?! ”
" Olahraga ngga penting sih bagiku "
" Saki biasanya ngapain? kalau ngga sibuk atau ada pertemuan, gimana kalau kita belanja ke mall hari ini " lanjutku menawarkan sesuatu, karena melihat saki seperti tidak punya selera akan jaman sekarang.
( Tidak seperti remaja Jepang yang kekinian )
" Boleh, aku ngga sibuk juga kok "
" Kamu ngga les, atau ketemu teman.. sanak saudara? " tanyaku lagi untuk memastikan.
" Aku tidak punya teman yang benar-benar dekat, di sekolah mereka hanya membutuhkan ku..Bukan benar-benar ingin berteman " lanjut saki tersenyum tipis.
" Maaf ya, aku jadi ketularan bawel gara-gara temenan sama kamu, kita jadi sama kaya twins " lanjutku tersenyum.
Jujur aku tidak betah dikamarnya, karena bau obat begitu nyengat disana.
Di mall aku dan saki membeli banyak camilan, dan juga membeli bros kembar dan ikat rambut.. Benar-benar menyenangkan, kami juga menonton film bersama..
" Terimakasih ya sudah menemani ku nonton, sampai larut malem gini " ucapku merasa tidak enak pada saki.
" Santai aja, kalau ada waktu ayo besok juga jalan-jalan " lanjut saki memberikan kupon brosur.
" Apa ini? " tanyaku mengambil kupon bergambarkan ikan.
" Ayo ke aquarium untuk lihat ikan, ada pertunjukan mermaid juga loh! kusus untuk hari minggu nanti "
" Ehm gitu ya, yasudah ayo pergi bareng "
Saki hanya tersenyum memegang tanganku, tapi pandangannya begitu cepat teralihkan..Dia buru-buru berlari ke sebelah toko ikan dan berteriak histeris.
" NARA!! LIHAT IKAN INI SANGAT CANTIK SEKALII!! " teriak saki hingga anjing menggonggong ke arah kami berdua.
" Saki kecilkan suaramu~ " lanjutku berjalan menghampiri saki.
" Ini kalau engga salah nama ikannya, ikan tropis..Ayo beli dan pajang dirumah masing-masing "
" Ngapain, aku ngga suka ngurus hewan, nanti mati loh " ucapku terlihat membalasnya dengan malas.
" Yaudah aku yang beli deh, tapi aku kasih buat kamu, jadi kamu harus ngurus ikannya yaa " lanjut saki terlihat memberikan uang kepada paman penjual nya.
" Hei~ "
__ADS_1
" Kamu pilih yang mana? "
" Yaampun dasar maksa " ucapku geleng-geleng kepala.
" Kamu harus jaga ikannya ya! jangan sampai mati! " tegas saki memperingati ku.
" Yasudah aku pilih yang warna putih pink "
" Oke aku yang biru "
" Hmm~ " dengusku menatap saki sesaat.
Dijalan..
" Kasih nama apa ya?? " saki terlihat begitu senang melihat ikannya secara terus menerus.
“ Shin-Sun ”
" Nama yang bagus, aku ambil yang sun dan Nara yang shin ya! "
" Ahh baiklah terserah padamu saja " ucapku yang masih terlihat cuek dan sedikit kesal.
Tapi aku senang melihat saki yang begitu antusias, bahkan hingga membelikan ku ikan.
-Di Rumah-
" Makasih ya saki, maaf sudah merepotkan mu hari ini.. Terimakasih atas traktiran ikannya " ucapku di depan rumah.
" Tidak apa, nanti kamu yang traktir aku ya, makan kue melon "
“ Euhm baiklah, Hati-hati ”
" Iya dah Nara, mimpi indah..Aku akan menghantui mimpimu dan mendatangimu untuk bermain bersama lagi! " ucap saki langsung pergi meninggalkan ku.
“ Gadis yang aneh ” ucapku menggeleng kan kepala dan langsung mengunci pagar.
" Aku pulang "
" Habis dari mana? "
" Main sama teman "
“ Itu ikan? ” tanya lanar.
" Hmm "
" Kemari, biar aku masukkan ke dalam aquarium kecil "
" Ini, aku akan pergi mandi "
" Baiklah, aku akan masak makan malam dulu, Nara ingin makan apa? "
" Ebifurai dan udon "
“ Yaampun selera yang buruk ”
" Terserah " ucapku langsung pergi meninggalkan lanar.
__ADS_1