KEHENINGAN DUNIA ILUSI

KEHENINGAN DUNIA ILUSI
Episode 36 #Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Entah berapa minggu aku ada di Jepang, sepertinya lanar bosan dengan sikapku yang berubah ini..


Dia banyak melakukan hal agar aku bisa bicara dengannya, kadang kami sering ribut juga soal masalah kecil yang amat sangat sepele ini.


Setelah terbiasa hidup di Jepang dan keadaan di sekolah.


Pagi Harinya.. (Flashback)


-pov-


Pagi hari yang membosankan, aku terbangun dari tempat tidurku dan turun untuk menyapa sekaligus sarapan bersama.


" Udah bangun, nar " tanya lanar yang terlihat sedang memasak di dapur.


" Gak liat lo?! gue kan udah bangun " kesalku mengatakan itu pada lanar. dia hanya tersenyum dan kembali menyiapkan sarapan.


Setelah makanan sudah terkumpul rapih di meja makan, kami makan.. disana hanya terdengar sebuah dentuman sendok yang mengenai piring.. aku tidak peduli dengan suasana sunyi ini dan terus melanjutkan makan sembari menonton moutube di handphone ku.


" Jangan main hape mulu dong " tegas lanar tersenyum padaku membuka topik pembicaraan.


" Biarin aja " singkatku.


suasana menjadi hening sebentar..

__ADS_1


" Senyum dong! kamu pasti bahagia kan sekolah disini.. banyak temannya juga kan!? " tanya lanar terlihat antusias


(aku tidak pernah melihat nya seperti ini).


" Emangnya senyuman Nara penting ya buat kak lanar? " tanyaku mengubah ekpresi dingin menjadi biasa aja seperti dulu.


" Pentinggggg~ Bangett " Jawab lanar memasang wajah lucunya.


Mendengar itu aku lalu tersenyum menampakkan gigi ku yang membuatnya mencubit pipi ku.. benar-benar sakit.


" Lucu banget sihh adik kakak " ucap lanar terkekeh melihat tingkah lakuku.


Aku hanya bisa tersenyum.. tapi dia malah merusak mood ku kembali.


" Kamu hebat loh udah bisa bertahan kuat selama bertahun-tahun ini " ucap lanar kembali makan sembari masih tersenyum.


Sontak aku menunduk dan berdiri lalu menyingkirkan piring yang ada dihadapanku, yang membuat lantai berantakan dengan serpihan kaca bercampur makanan.


Aku kesal mendengar kata-kata itu, kak lanar pasti sakit hati dengan perilaku ku! Tapi aku tidak suka..kenapa dia masih tetap tersenyum manis kepada ku, seakan menerima semua perilaku bodohku itu.


" BISA ENGGA SIH GAK USAH BAWA-BAWA MASA LALU KAK! SAKIT TAU NGGA SIH!!!? " ucapku berteriak ke arah lanar.


" kamu gapapa kan, tangan kamu ga terluka?? " tanya lanar terlihat cemas memegangi tanganku.

__ADS_1


" Kakak denger ucapannya Nara gak sih!? Engga usah kaya orang b*doh deh! " tegas ku yang jelas-jelas tidak suka dengan perilaku lanar yang berubah.


" kakak denger kok, kalau kamu baik-baik aja ayo kamu duduk ditempat kakak, biar kakak buatin masakan baru buat nara " lanjut lanar berdiri dari kursinya dan menawarkan tempat duduk nya untukku.


" Dan juga, jauh-jauh dari serpihan kacanya ya! " tegas lanar yang hanya bisa tersenyum tipis dengan segala kecemasan nya.


" Nara gak mau makan!! cepet anterin nara ke sekolah! " jawabku tidak kuat melihat ini semua.


" iya iya tapi kamu jauh-jauh dulu dari serpihan kacanya, kakak takut kamu kenapa-napa " lanjut lanar berusaha menenangkan ku dengan tangannya.


" cik terserah kakak aja! " aku pergi meninggalkan kakak sendiri.


Aku yang kesal berjalan pergi dan dengan sengajanya menginjak serpihan kaca, yang membuat lanar melihat itu jadi marah besar.


" Nara! kakak masih sabar loh! kakak ga masalah sama apa yang kamu mau! tapi jangan terus-terusan lukain diri kamu sendiri! kakak Gak Terima itu nara! " tegasnya berteriak padaku.


Dia benar-benar membuat ekpresi yang menakutkan..


Aku menoleh dengan tatapan kesal dan membanting pintu kamar sekuat-kuatnya yang membuat pas bunga dekat dengan pintu kamar ku di atas meja terjatuh dan pecah.


Karena pintunya harus ditutup dengan tangan sendiri, bantingan itu membuat sedikit celah karena aku tidak menutupnya..


Aku hanya bisa melihat lewat pintu yang sedikit terbuka.. kak lanar tengah membersihkan sisa-sisa kaca tadi, itu membuatku makin bersalah dan rasanya aku makin ingin mat! saja.

__ADS_1


begitulah lanar yang memanggilku untuk segera berangkat sekolah.


Didalam mobil aku hanya diam memandangi jalanan melalui kaca, dengan diiringi ceramahanya. (lanar sangat menyayangi ku)


__ADS_2