
Tidak ada yg nyaman jika hanya dijadikan "pelarian"
Kau sudah benar benar mempunyai "perasaan"
Dan dia benar benar hanya "mempermain kan"
Alina terdiam sejenak dan sedikit melamun memikirkan Evano. Dengan otak yang sudah penuh dengan pikiran bagaimana cara ia mengganti milik Keyla secepatnya, ditambah pikiran nya terhadap sikap Evano yang tidak jelas benar benar menyukai nya atau tidak.
Keyla beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur, dengan maksud mengambil kan Alina air hangat, Alina melihat Keyla yang berjalan ke arah dapur dengan mata sayu nya tanpa berkata apa pun.
\*
"Lin...minum dulu deh.."Keyla menyodorkan air hangat.
Alina menyambutnya dan beberapa kali ia menyeruput minuman nya lalu meletakan di meja nya, dan mata sayu nya menatap keyla "what's wrong with me?" ucap nya hampir menetes kan air matanya.
"Lin!!. Lo ga ada salah sama sekali, terlalu mencintai seseorang juga ga salah!!. Ini semua diluar kehendak lo kan!, Jadi jangan berpikir macam macam!. dan... ini juga akan jadi pelajaran buat lo dikemudian hari, jangan sembarang membuka hati untuk seseorang, apalagi orang itu baru lo kenal" tatap Keyla .
"Disini gue yang disakiti, tapi kesan nya gue yang menjahati" ucap nya dengan nada pelan karna tidak kuat.
"Tapi lo bahagia ga sih sama Evano selama ini?" Keyla mengernyitkan dahi nya.
"Bahagia iya. Tapi gue juga sakit kalo liat dia sama Dyra" tatap Alina.
"Lin... Sebener nya gue mau kasih liat lo sesuatu...tapi liat keadaan lo kaya gini, gue ga tega" Keyla memegang tangan Alina.
"Kasih liat aja" ucap Alina.
Keyla memperlihatkan sesuatu diponsel nya yang membuat Alina meneteskan air matanya. Ya... Apalagi kalau bukan tentang Evano. Di situ terlihat jelas Evano sedang menggendong Dyra.
"Di hotel?" dengan cepat Alina menatap Keyla.
"Entahlah, mungkin juga dirumah."
Alina memperhatikan senyum Evano difoto itu, senyum yang jua ia berikan pada Alina.
Alina merasa Evano telah menghancurkan ekspetasi nya dengan seburuk nya kenyataan, atau mungkin hanya ia yang ber ekspetasi terlalu tinggi, dan bodoh nya lagi, Alina tidak bisa menghilangkan perasaan nya begitu saja terhadap Evano, karna perlu pertengkaran hebat dengan dirinya sendiri untuk mengambil keputusan itu.
Namun, jika saja ia mau berusaha, pasti semua nya bisa kembali seperti semula, ini hanya masalah waktu, karna cepat atau lambat ia akan terbiasa tanpa Evano, dan kembali bahagia.
Ia sadar, ia mencintai seseorang yang entah hatinya untuk nya atau tidak. Tapi yang jelas ia tidak bisa semudah membalik kan telapak tangan, karna sedikit rayuan dari Evano pun akan membuat nya semakin tidak bisa menjauhi Evano.
__ADS_1
"Memang dari awal ini kesalahan gue, gue terlalu bahagia hingga lupa menanyakan nya ingin mengikat sementara atau mengikat selamanya". Ucap Alina dengan mata sayu yang tertuju ke arah lain.
"Kalo tau gini, gue ga bakal biarin lo jatuh cinta sama Evano, bukan nya ga setuju, tapi gue juga ga mau lo sakit hati, makanya gue selalu tanya sama lo, lo ada perasaan ga sama Evano dan lo jawab engga".
"Iya. Karna gue ga mau ada orang yang tau, ya... Memang seharus nya gue ga nerima dia untuk datang di kehidupan gue" Alina menetes kan air mata.
Keyla mengambil tisu yang ada diatas meja nya dan melap kan air mata Alina. "Yasudah, jangan dipikirin lagi, ntar ada yang liat. kan ga enak... Atau lo mau gue panggilin Evano nya? ucap Keyla dengan sedikit senyum.
"Jangan goda gue kek gitu"kata Alina hampir tertawa.
\*
Sudah beberapa chat masuk dari Evano. Tetapi keyla memilih untuk tidak membalas nya, ia beristirahat di kasur ternyaman nya itu dan menatap langit langit kamar nya.
"Jadi gue harus gimana?" tanya nya pada diri sendiri.
"Di satu sisi gue ga bisa ninggalin Evano, di sisi lain gue bakal lebih sakit lagi kalo harus ngejalanin ini semua sama orang yang hanya pura pura suka sama gue."
Malam itu ia berkelahi hebat dengan dirinya sendiri. Ia juga tidak bisa sepenuh nya menyalahkan Evano, karna benar kata Keyla, jika saja ia tidak membuka hati nya, ini semua juga ga akan terjadi, walau semanis apapun sikap Evano terhadap nya.
Hampir ia terlelap namun gagal karna dikejutkan oleh dering ponsel nya, Alina mengangkat telpon itu dengan mata nya yang masih tertutup. "Hallo" ucap nya pelan.
"Aku mau ketemu kamu malam ini."
"Hallo..."
"Halloooooo".
"Cintaaaa"
Teriak Evano.
"Hah?? I...iyaa Van.??" Jawab nya terbata-bata.
"Mau ketemu kamu malam ini" ucap Evano memelas.
"Ga bisa. Aku kecapean...."
"Aku kerumah kamu aja nganterin makanan gimana?."
"Ga usah Van...Aku ga enak sama kamu, ga mau ngerepotin kamu, lagian aku juga udah makan."
"Engga sama sekali."
__ADS_1
Alina ingin memutus telpon dari Evano, tapi ia juga tidak enak. Akhir nya ia mati kan data seluler nya, dan akhir nya telpon nya terputus.
Ia memilih untuk mandi, agar menenangkan sedikit pikiran nya.
Setelah menyelesaikan mandinya dan kegiatan lain nya, ia kembali membaringkan badan nya dan menghidupkan kembali data seluler ponsel nya, lalu kembali ia letakan di ponsel itu d samping nya.
Terdengar notifikasi dari ponsel nya, ia mencoba tidak menghiraukan suara itu, karna pasti saja dari Evano. Tidak lama ponsel itu berdering.
"Hallo key ada apa."
"Buka chat gue deh."
"Tunggu."
"Oh lagi dirumah pacar nya haha" Alina tertawa paksa.
"Itu bener tangan Evano ga?" tanya Keyla memastikan.
"Iya tangan Evano. Tadi dia mau kerumah gue, tapi gak gue bolehin".
"Ohh...terus karna ga lo bolehin makanya kerumah pacar nya deh ahaha".
"Iya sana sini sama cewek lain lain" Alina terkekeh.
"Belajar lupain dia ya lain, jangan menetap dilubang yang salah."
"Iya key... Tapi lo tau gue kan, gue orang nya gak bisa di manis manisin bakal makin susah kalo mau menjauh."
"Iya berusaha aja lin...lo pasti bisa... Lo kan dulu juga sering kaya gini...masa cuma lupain Evano doang ga bisa" Keyla tertawa
"Apa maksud lo sering kaya gini?."
"Iya sering juga nyakitin cowok hah."
"Key.... Jangan jangan ini karma buat gue." ucap Alina serius.
"Yah gue mah ga tau lin kalo masalah karma... Mungkin aja lo cuma sial kali ini."
"Udah dulu ya, gue mau jalan dulu" ucap keyla dan mematikan telpon nya.
"Belom juga d iya in, udah d matiin aja. Dasar keyla" ucap Alina.
Alina memilih memaksakan dirinya untuk tertidur walau ia tau usahanya itu mustahil.
__ADS_1