KEKASIH ORANG LAIN

KEKASIH ORANG LAIN
APARTEMEN


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun masih tercium sedikit aroma hujan bekas tadi malam, membuat udara pagi itu sangat segar.


Alina membuka jendela kamarnya, dan menghirup udara segar begitu dalam, sampai memenuhi rongga pernapasan nya.


Lalu kembali ia merebahkan badannya diranjang


yang masih berserakan, dengan beberapa bantal dan guling yang berjatuhan dilantai, dan selimut yang tergumpal didekat kakinya.


9.30 am.


Perut ramping nya mulai keroncongan, dengan gontai ia berjalan menuju dapur, dan menyiapkan makanan untuknya sendiri. Selesai makan, ia kembali kekamarnya dan kembali merebahkan badannya.


Hari libur membuatnya malas untuk bergerak, bingung apa yang harus ia kerjakan, perlahan ia menutup matanya kembali, hampir ingin terlelap.


Dering ponsel menyadarkannya kembali, ia mencoba mengarahkan tangannya kedekat lampu tidur untuk mengambil ponsel, tapi masih dengan mata tertutup, ia menerima telpon, entah dari siapa.


"Hallo" ujarnya dengan nada pelan.


"Lagi ngapain?" terdengar suara Evano dari seberang telpon.


"Mau tidur" jawab Alina yang setengah sadar.


"Gak mau main ke apartemen aku?" tanya Evano.


"Boleh" ujar Alina langsung membuka matanya.


"Siap-siap sekarang, akan ku jemput" suruh Evano


"Oke tunggu, nanti aku beritahu kalau sudah selesai" ujar Alina.


"Oke cinta, see you" ujar Evano, dan Alina memutus panggilannya,karena Evano tidak mau terlebih dahulu untuk memutusnya.


Alina membereskan kamarnya, mencuci piring dan gelas bekas ia makan, membersihkan rumahnya, dan mandi.


***


"Jemput aja sekarang" ujar Alina mengirim chat pada Evano.


"Oke aku otw" balas Evano beberapa menit kemudian.


***


"Alina" ujar Evano sambil mengetuk.


Alina membuka pintu dan tersenyum, Evano mengulurkan tangan nya, dan Alina menyambutnya.


Mereka pergi ke apartemen Evano yang memakan waktu hanya beberapa menit, "sampai" ujar Evano memberhentikan mobilnya.


Mereka keluar dari mobil, dan Evano menggenggam tangan Alina. Lalu memasuki private lift, karena apartemen Evano termasuk apartemen mewah jadi ditersedia private lift sehingga penghuni disana tidak perlu berbagi lift dengan banyak penghuni lainnya.

__ADS_1


Sesampainya didalam, "mau minum apa?" tanya Evano, lalu menunjukan isi kulkasnya.


Dan terpampang lah susunan rapi minuman-minuman Evano seperti, Tuak,ciu,bir,wine,vodka,wiski,rum,soju,sake.


Namun ada juga stok susu-susu kemasan, beberapa susu kedelai botol kaca, kopi susu kemasan botol kaca yang ia beli dari teman nya dan tentu ada juga air putih.


"Kamu punya banyak minuman memabukkan, apa itu berarti kamu selalu mabuk?" tanya Alina dengan mata yang masih tertuju pada jejeran minuman itu.


"Jangan lupa, aku juga banyak minuman susu dan kopi, yang berarti aku tidak selalu meminum alkohol itu" jelas Evano, "aku bukan pemabuk berat, aku hanya sesekali meminum itu, dan juga sedikit-sediki" tambahnya.


"Kalau bukan pemabuk berat, bagaimana kamu menghabiskan begitu banyak minuman ini" ujar Alina menoleh pada Evano.


"Tentu saja aku tidak bisa menghabiskan ini semua" ujar Evano, "terkadang teman-teman ku kesini, dan mereka minta beberapa botol untuk dibawanya pulang" tambahnya.


Alina mengangguk paham...


"Malam itu, kenapa kamu datang kerumah ku dalam keadaan mabuk?" tanya Alina.


"Oh...kalau itu aku pulang party, dari apartemen temanku, kebetulan apartemen nya dekat rumahmu, karena aku juga sudah tidak kuat untuk menyetir, makanya aku pulang kerumahmu" jelas Evano.


"Dan sebutir aphorodisiac?" kata Alina. menatap tajam Evano.


"Emm... it-itu sebenarnya diberi temanku" jawabnya terbata-bata.


"Bukannya kemarin kamu bilang obat itu sudah lama dijaket mu" sindir Alina.


"Dari mana kamu tau obat itu?" tanya Evano cepat.


Alina menjelaskan dari awal ia menemukan obat itu sampai ia menyimpannya didekat lampu tidurnya, "berarti kamu masuk kamarku" celetuk Alina.


"Ya... aku benar-benar minta maaf, aku merogoh kantong jaket ku, dan obat itu sudah tidak ada, aku pikir kamu menyembunyikan nya, makanya aku cari kedalam kamar, dan aku menemukan obat itu didekat lampu tidur mu" jelas Evano.


"Terus? kenapa kamu memasukkan nya kedalam minuman ku?" tanya Alina.


"Aku sudah terbawa nafsu saat melihatmu, aku pikir kamu pasti akan marah jika aku melakukan itu saat kamu sadar, makanya aku memilih meminumkan obat itu pada mu, sampai akhirnya kamu tenggelam dalam libido mu yang sudah tinggi, dan kamu menjadi agresif" jelas Evano panjang lebar.


Alina mengangkat alisnya, "Btw aku baru tau seorang Evano yang terkenal dengan wibawanya di kantor ternyata kamu juga menyukai susu" ujar Alina lalu tertawa terbahak-bahak.


Evano tersenyum nakal, "semua susu, termasuk itu" ujarnya lalu melirik sebentar kearah dada Alina, membuat Alina dengan cepat menyilangkan tangannya didepan dada.


"Jangan macam-macam" ujar Alina merengut.


Evano terkekeh, tanpa sadar dengan kulkas yang masih terbuka, "jadi mau minum apa?" tanya Evano lagi.


"Ini aja" ujar Alina, menunjuk susu kedelai itu.


Evano mengambilkan dan memberikan nya pada Alina.


"Thanks" ujar Alina, lalu duduk disofa.

__ADS_1


Evano menghampiri Alina dengan membawa sebotol kopi susu.


"Udah jam 12 ternyata" ujar Alina melihat jam dinding Evano.


"Iya...kamu lama banget siap-siap nya" ujar Evano melirik Alina.


"Ya maaf... Aku harus beres-beres dulu, kan udah ku bilang baru bangun" jelas Alina.


"Iya iya...aku juga gak marah kok. Kalau kamu mau tidur lagi, tidur aja" terang Evano.


"Gak" jawab Alina cepat.


"Kenapa? takut kejadian itu terulang lagi?" tanya Evano sambil menatap mata Alina dalam.


"Ya" jawab Alina juga menatap Evano.


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi" ungkap Evano.


"Ah masaaa..." ujar Alina meledek.


"Iya, janji" ujar Evano lalu mencubit pipi Alina yang sedikit chubby itu, "kamu gemukan ya" tambahnya lalu meloloskan senyumnya.


"Gak kok, cuma pipi doang" bantah Alina cepat.


"Kamu mau makan?" tanya Evano, "biar tambah gemuk" sambungnya.


Alina termasuk perempuan yang susah sekali untuk gemuk, padahal ia sudah makan dengan porsi banyak, tapi tetap saja badannya segitu saja. Namun pipi nya yang semakin mengembang, membuat orang lain ingin sekali mencubitnya


Karena sudah dibuktikan dengan beberapa laki-laki yang dekat dengannya dari ia smp, dan semuanya selalu ingin mencubit pipi Alina, bahkan ada yang dengan tiba-tiba.


"Kamu mencubit sakit" ujar Alina mengelus pipinya bekas cubitan Evano.


"Sini aku hilangin" ucap Evano, seketika mencium Alina.


Alina tersenyum salah tingkah.


Alina merebahkan badannya di sofa, "dasar kaum rebahan" ucap Evano tertawa.


"Aku mengantuk" ujar Alina menutup pelan matanya.


Evano beralih dari sofa dan dudui dibawah sofa, lalu mengelus kepala Alina, Alina menyadari ada tangan dikepala nya, lalu ia menoleh, dan benar saja. Evano mengelus kepalanya seraya tersenyum.


"Tidur, aku tidak akan macam-macam" terang Evano.


Alina kembali menutup matanya, Lalu terlelap, Evano melihat Alina kasian, ia menggendong Alina dan merebahkannya di kasur.


Sepertinya Alina benar-benar masih mengantuk, pikirnya.


Evano juga tidur siang, namun ia tidur di sofa.

__ADS_1


__ADS_2