
"Hei bangun" ujar Evano lalu mengecup pipi Alina.
Alina menggeliatkan badannya, "jam berapa sekarang?" ujarnya terhenti.
"06.00" jawab Evano karena melirik ke jam tangan nya.
"Pagi?" tanya Alina dengan mata yang terbelalak, dan Evano mengangguk, "kamu tidur dari kemarin siang" ujar Evano.
"Astaga... Kenapa bisa begitu" ujar Alina.
Evano mengangkat bahunya tanda tidak tahu, lalu memeluk Alina.
"Ayolah menjauh...aku ingin mandi" ujar Alina mendorong Evano.
"Mandi bersama?" goda Evano.
Alina menepuk pipi Evano namun perlahan.
"Aduh" ujar Evano dengan manja nya mengusap pipinya yang sama sekali tidak sakit.
Alina pergi ke kamar mandi, beberapa menit kemudian ia sudah selesai, ia keluar dengan sudah berpakaian dan melirik ke meja makan, makanan sudah tersedia.
"Aku tidak mau makan" ujar Alina ketus.
"Kenapa?" tanya Evano heran.
"Takut kau masukkan obat macam-macam lagi" ujar Alina terkekeh.
Evano menghela napas lalu menyeringai, "aku tidak akan mengulang itu lagi" jelas Evano
Alina mengangkat sebelah alisnya, "awas saja" ujarnya.
Evano hanya tersenyum, dan mereka makan bersama, Alina sedikit parno karena masih terpikir tentang kejadiannya.
"Makan yang benar, jangan sambil melamun" ujar Evano.
Alina menyipitkan matanya menatap Evano, "sepertinya aku harus pulang dulu" ujar Alina, "aku tidak munglin kekantor memakai baju ini" tambahnya, karena sudah dari kemarin ia memakai baju itu.
"Nanti kita kerumah mu dulu" ujar Evano.
Alina mengangguk dan melanjutkan makannya.
***
Dijalan arah rumah Alina...
Evano mengambil tangan Alina dan menggenggam nya, seketika menciumnya.
Alina menatap kearah Evano,
"Andai aku benar-benar bisa memiliki mu" ucapnya dalam hati, lalu menarik tangannya.
"Kenapa" tanya Evano.
"Oh...eh....enggak...ponsel ku bergetar, sepertinya ada panggilan masuk" jelas Alina terbata-bata. Tapi memang benar ada panggilan dari Keyla.
"Hallo key...lo dimana?" ujar Keyla, "tumben belum datang" sambunmngnya.
"Gue baru mau pulang" terang Alina.
"Darimana?" tanya Keyla.
"Sudah dulu ya key...lagi dijalan" ujarnya lalu memutus panggilan.
Keyla bingung dengan sikap Alina. Tidak biasanya Alina begitu.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Alina, ia bergegas keluar dari mobil dan lari kerumahnya, lalu ke kamar, sedangkan Evano baru saja keluar dari mobil.
Evano duduk di sofa Alina, tidak lama kemudian Alina keluar, "ayo" ajak Alina.
"Kamu kenapa buru-buru?" ujar Evano.
"Keyla udah nungguin, mana aku kaya gitu tadi" jelasnya.
"Bilang aja abis dari apartemen nya Evano" saran Evano lalu terkekeh.
"Bisa-bisa dia berpikir macam-macam" ungkap Alina sedikit merengut.
***
Dikantor...
"Hai Key" sapa Alina santai.
"Darimana lo?" tanya Keyla.
"Em...dari...apartemen Evano" jawab Alina pelan.
"ASTAGA ALINA... NGAPAIN AJA LO SAMA EVANO BERDUAAN" ujar Keyla melototkan matanya pada Alina.
"Gak ngapa-ngapain sumpah" terang Alina.
"Awas aja lo... Jangan sampai terjadi apa-apa sama lo, lo kan tau Evano orang nya kaya gimana" jelas Keyla.
"Iya" jawab Alina pelan, mengingat ia pernah hampir berbuat yang tidak seharusnya dengan Evano.
"Kenapa muka lo? Langsung berubah gitu?" tanya Keyla, "jujur lo...pernah diapain sama Evano" tegas Keyla.
"Enggak" jawab Alina ceoat dengan wajah paniknya.
Alina hanya terdiam karena memang ia tidak ada kerjaan. Ponsel nya bergetar karena ada yang mengirim chat padanya di instagram, yang ternyata Delvin, seorang laki-laki seumurannya yang juga baru bekerja disana.
"Kamu kaya nya dekat dengan Evano" ujar Delvin.
"Enggak" balas Alina.
"Jujur saja. Aku sudah beberapa kali melihat kalian berangkat dan pulang berdua" jelas Delvin.
"Dia hanya mengantarku" balas Alina.
"Boleh aku minta nomor wa mu?" ujar Delvin, lalu Alina memberinya, dan mereka berpindah ke Wa.
"Bulan depan aku dipindahkan tugas" ujar Delvin.
"Oh ya... Berarti sebentar lagi" balas Alina.
"Iya, makanya aku mau ajak kamu jalan, karena aku sudah lama ingin berkenalan dengan mu" jelas Delvin.
"Boleh, kapan-kapan" ujar Alina.
"Tapi jangan bilang sama Evano" terang Delvin.
"Iya" balas Alina singkat.
"Oh iya, kamu tau Dyra?" tanya Alina.
"Iya...pacar Evano" balas Delvin.
"Mereka beneran pacaran?" balas Alina.
"Iya...kamu tidak tau?" tanya Delvin.
__ADS_1
"Enggak, tapi aku sudah menduganya" balas Alina.
"Dengar-dengar, kamu dekat sama Evano" ujar Delvin.
"Enggak kok" bantah Alina, "kata siapa?" lanjutnya.
"Kata Afnan" ungkap Delvin.
"Jangan percaya sama Afnan" balas Alina diiringi stiker tertawa.
"Haha, iya enggak kok" ujar Delvin.
"Lanjutin kerjamu dulu gih" balas Alina.
Pintu didorong oleh seseorang yang ternyata Evano, ia masuk dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Untukmu" ujarnya, meletakkan itu di meja Alina, dengan senyumnya yang mengembang.
"Apa ini" tanya Alina bingung karena tidak ada hari spesial atau apapun.
"Hadiah" jawab Evano.
"Aku belum ulang tahun" ujar Alina masih bingung.
"Kemarin hari ulang tahun ku" ungkap Evano, lalu Alina tertawa, "kamu serius?" ujarnya, yang masih tidak percaya.
"Kenapa kamu tidak bilang? terus kenapa malah kamu yang ngasih aku hadiah?" ujar Alina yang tidak bisa menyembunyikan tawanya.
"Ya... gapapa, aku memang tidak mau kalau orang-orang tau" terang Evano.
"Btw makasih ya" ujar Alina, "dan selamat ulang tahun" tambahnya.
"Kenapa tidak mau orang lain tahu?" tanya Alina.
"Ada sih yang tau, dari kemarin ponsel ku dipenuhi ucapan dari karyawan disini, dan dimeja ku juga penuh kado,coba kamu keruangan ku" jelas Evano.
"Maaf aku gak ngasih kamu hadiah" ujar Alina dengan mata berbinar nya.
Evano mengelus rambutnya, dan berkata, "iya gapapa, biar aku aja yang ngasih kamu hadiah."
"Kebalik" jawab Alina lalu tertawa.
"Kaya nya kamu malam ini akan sibuk dengan istrimu, iyakan" goda Alina.
"Siapa? Dyra? haha" ujar Evano lalu tertawa, "Dyra udah ngucapin selamat ulang tahun 5 hari lebih dulu" lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Alina.
"Entahlah, dia salah tanggal, jadi aku jawab aja siapa yang ulang tahun" jelas Evano, "dan kaya nya dia malu sendiri" lanjutnya.
"Biar kaya gitu kan istri kamu" ujar Alina lagi.
"Sssttt" desis Evano, "pacar aja bukan apa lagi istri."
Alina tersenyum menatap Evano, masih saja Evano mengelak tentang hubungan nya dengan Dyra, tidak bisa kah Evano jujur saja, pikirnya.
"Jangan sampai aku aduin kamu sama Dyra, karena kamu tidak mengakui nya" gretak Alina.
"Aduin silahkan" ujar Evano.
"Tapi nanti kamu gak akan didekatin Dyra lagi" ujar Alina.
"Gapapa, siapa takut, toh bukan siapa siapa ku juga" sahut Evano dengan songongnya, "Biar kamu aja yang dekat sama aku" sambungnya.
Alina memutar bola matanya, "dasar buaya" ketusnya. Evano tertawa mendengar itu.
__ADS_1