
Hari-hari berlalu, dan luka? luka semakin tertancap mantap di hati ku, memang luka menyadarkan ku, bahwa keputusan yang aku pilih hanya akan memperparah luka ku.
Namun aku juga tidak bisa mengelak dengan perasaan ini, aku tidak bisa melepas Evano dengan begitu saja, setelah apa yang ku lewati, dan apa yang aku lakukan dengan Evano.
Setiap hari kami selalu berkomunikasi, hingga larut malam, dan aku rela menunggu untuk itu, aku rela menahan kantuk ku, aku rela merubah jam tidur ku, dan semua nya... semua nya hanya demi menunggu kabar dari Evano.
Akhir-akhir ini kami sering bertemu, entah itu hanya untuk pergi sebentar, dan Evano mengatakan ia merelekan pekerjaan nya demi bertemu dengan ku, namun entahlah, mungkin saja itu hanya omong kosong belaka yang keluar dari mulut nya.
Aku tidak gila, aku waras, aku sadar, dan aku paham betul dengan perbedaan kami, aku bisa meluluhkan hati nya, hati orang tua nya, dan hati keluarga lain nya, namun TIDAK untuk hati Tuhan nya.
Aku pun sempat terpikir, semua yang sudah ku jalani dengan nya sampai detik ini, pasti akan berakhir dengan sebuah PERPISAHAN bukan PERSATUAN, inilah KE-TIDAK MUNGKINAN YANG AKAN TERJADI. Namun selalu ku harapkan.
Aku pernah menulis rangkaian kalimat ini di note ponsel ku "Kau harus tau kapan waktunya berhenti dan kembali ke-awal, karena perjalan yang tidak ada tujuan hanya akan berakhir melelahkan".
Ya... aku menulis itu dengan sadar dimalam itu, namun... diriku sendiri? apa aku berbalik arah? apa aku kembali ke-awal? apa aku berhenti berjalan?, TIDAK.
Aku masih saja dengan bodoh nya melanjutkan perjalanan ku, perjalanan yang sudah aku tau hanya akan melelahkan diriku, ragaku, jiwaku, batinku.
__ADS_1
Hingga akhir nya, aku mulai sadar, ia kepadaku hanya untuk melepas kesepian nya saat kekasih nya tidak ada. Namun bagaimana mungkin aku bisa melepas jeratan dari nya, karena ia lah yang selalu menjadi benteng ku, benteng yang mengahalangi agar kesedihan tidak menembus diriku. Bisa dibilang ini kemanisan yang berada di dalam kepahitan.
Aku mengetahui semua nya... yaa... semua nya... namun, apa itu berdampak dengan diriku? TIDAK. tidak ada dampak apapun yang aku dapat setelah aku mengetahui semua kenyataan nya, aku masih saja dengan santai nya berjalan ke arah yang salah.
Banyak orang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, dan aku percaya kata-kata itu, jika kita mau berusaha, kita pasti akan mendapat apa yang kita inginkan. Namun kali ini aku percaya tentang hal yang tidak mungkin itu.
Sekuat dan serajin apa pun aku berusaha untuk bersatu dengan nya akan tetap berakhir dengan perpisahan. Karena salah satu dari kami harus memilih, dan itu pilihan yang berat, yaitu, memilih ciptaan atau sang pencipta.
Aku mencintai nya, tapi aku juga harus lebih mencintai Tuhan ku, dan misal kan ia mencintai ku, ia juga harus lebih mencintai tuhan nya. Itulah mengapa aku pernah mengatakan pada diriku sendiri bahwa diantara kami ada dinding pemisah. Dan diantara kami tidak akan ada yang berani untuk menghancurkan dinding itu.
Dari awal jalan kami sudah bercabang, dan sesuatu yang bercabang memiliki kemungkinan kecil untuk bersatu. Namun entahlah, jika semesta sudah menghendaki, mungkin itu akan terjadi.
Aku yakin pada pencipta ku, ia pasti menciptakan suka dan duka itu dalam satu paket, namun hanya perlu waktu untuk kita menerima satu persatu apa yang ada di paket itu.
Ingin sekali aku menciptakan kisah cinta yang indah seperti di buku novel, namun pikiran itu harus ku buang sejauh jauh nya, aku harus menyadari bahwa ini semesta, bukan novel yang bisa ku tulis alur nya dengan sesukanya.
-Banjarmasin, 8 Juni
__ADS_1
*****
Hari sudah semakin larut malam, namun Alina masih saja menuangkan apa yang ada di otak nya kedalam bentuk tulisan, ia berhenti sejenak menatap langit langit kamar nya, sembari memikirkan kata-kata yang cocok untuk melengkapi kalimat nya tersebut.
Tulisan itu benar benar mengalir begitu saja, ia menulis dengan kantuk yang sudah mulai muncul dimata nya, namun otak nya masih saja berjalan sempurna, memaksa nya untuk tetap melanjutkan tulisan nya.
Sesekali Alina membuka notifikasi nya yang penuh dengan chat dari Evano, Keyla, dan teman teman lain nya, namun ia mengabaikan semua chat itu, untuk menulis apa yang ada diotak nya.
Pernah terpikir ia ingin menjadi seorang penulis terkenal, dimana orang orang menyukai tulisan nya, membaca keluh kesah nya, membaca apa yang orang terdekat nya tidak tau, dan banyak lagi. Namun ia takut jika tidak ada yang menyukai tulisan nya, di sisi lain ia juga tau keberhasilan memang tidak instan.
Tengah malam, semua kejadian yang sudah terjadi atau pun yang belum terjadi, semua nya muncul diotak Alina, membuat pikiran pikiran baru nya semakin menumpuk.
Entah itu pikiran tentang kisah cintanya, cara ia agar bisa sukses, cara bagaimana ia membahagiakan orang tua nya, kisah hidup nya kedepan nya, dan lain lain nya. Semua mengumpul di otak Alina, membuat ia semakin tidak bisa tidur, apalagi jika ditambah ia menunggu kabar dari Evano. Sampai pagi pun mungkin akan ia relakan jam tidur nya itu.
Jika ditanya tentang kesuksekan, Alina belajar semua tentang kesuksesan itu dari Evano, Evano pernah mengatakan pada nya, "kita harus bisa menjadi pemimpin di usaha kita sendiri, jika dirimu saja tidak ingin berusaha maka siap siap lah kau hidup hanya mengikuti nasib yang sudah ditentukan, nasib bisa kita rubah menjadi lebih baik dari apa yang sedang kita jalani, jika kita mau berusaha"
Itu yang selalu ia ingat, dan itulah yang membuat nya mencoba coba untuk menulis, merangkai kalimat, karena memang ia menyukai tulisan, namun Alina adalah anak yang semangat di awal, tapi di tengah tengah sudah akan mulai bermalas malasan untuk melanjutkan.
__ADS_1
Alina selesai menuangkan isi pikiran nya, ia berbaring menatap langit langit kamar nya yang dipenuhi bintang hiasan, sambil mengingat ngingat kejadian kejadian yang ia alami bersama Evano pada malam itu,hingga akhir nya Alina tertidur.