KEKASIH ORANG LAIN

KEKASIH ORANG LAIN
KAMPUNG EVANO


__ADS_3

Hari ini Alina mempacking barang- barang dan pakaian yang akan ia bawa nanti sore. Mereka akan berada disana selama 2 hari. Ia deg- deg an dengan ini semua, ia sangat takut jika orang tua Evano tidak menyukai nya.


, walau bukan dalam hal menantu atau apapun, tapi hanya dalam pertemanan.


"Pasti orangtua nya jua baik, anak nya saja baik" gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya, sambil memasukkan baju nya kedalam koper.


Hati dan otaknya benar- benar tidak bisa bersahabat sekarang, "aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi hanya untuk bertemu orang lain" ujar nya, menghela napas.


Ia pergi kekasur dan membenamkan wajahnya, sekarang ia dilema untuk pergi ikut Evano, "batalkan atau tidak" batinnya, "ya tuhan...kenapa aku sangat cemas begini" ucapnya dengan mata tertutup.


Seperti ada tangan yang mencoba melingkar di badannya, "membatalkan apa?" bisik seseorang itu. Ia mengubah posisi berbaring nya sekarang menjadi telentang, "Evano" ucapnya kaget, "kenapa gak ketuk pintu dulu?."


"Pintu nya gak kamu tutup, tapi aku beberapa kali manggil nama kamu, tapi gak jawaban, pas aku masuk, aku kira kamu tidur" jelas Evano.


"Oh...ternyata aku yang gak dengar" ujar nya terkekeh.


"Apa yang mau kamu batalkan?" tanya Evano.


"Ehm...gak...bukan apa- apa" Alina mengelak.


"Jujur saja, kamu ragu ikut dengan ku?" tanya Evano yang sekarang mempererat pelukannya di tubuh Alina.


"Enggak...eh...bukan gitu" jawab Alina terbata- bata, "aku hanya takut orangtua mu melarang mu berteman dengan ku" ungkap nya.


"Orangtua ku baik, yakinlah, mereka akan menyukai mu" ujar Evano meyakinkan Alina.


Ia mencium kening Alina, dan pergi meninggalkan nya sendirian, sekarang ia duduk disofa, lebih tepatnya akan membaringkan tubuhnya disitu.


"Mau minum apa van?"tanya Alina sambil berlalu menuju dapur.


"Gak usah" sahut Evano.


Alina langsung mandi, ia menyalakan shower dan berdiri dibawahnya, disela- sela membersihkan rambutnya, pikiran yang tadinya sudah hilang sekarang malah muncul kembali.


"Astaga aku benar- benar belum tenang sebelum bertemu dengan mereka" ucapnya dalam hati.


Ia mempercepat mandinya dan keluar dengan baju nya yang sudah rapi,


Ia mendekati Evano yang terlelap di sofa, "van...ayo...udah jam 4 nih" ucapnya membangunkan Evano, sesekali menggoncang tubuhnya.


Evano bergegegas bangun dan mencuci mukanya, "ayo" ujarnya.


Ia mengangkat koper milik Alina dan menaruh nya di bagasi mobil.


Alina mengunci pintu nya dan mereka pergi.


***


Evano menggenggam tangan Alina, ia mencoba menenangkan karena melihat wajah Alina yang penuh kecemasan.


"Enjoy aja..." suruh Evano.

__ADS_1


"Aku takut" ujar Alina.


"Ibuku akan menyukaimu" terang Evano.


Mereka menempuh waktu kira-kira 6 jam untuk sampai di kampung halaman Evano. Karena ini bisa disebut di pedalaman. Dimana udara juga masih segar, pepohonan masih banyak, banyak gunung- gunung, air terjun, dan tempat wisata lainnya yang menyajikan keindahan alam.


"Kalau kamu mengantuk, tidur aja" saran Evano.


Alina mengangkat alisnya dengan cepat kode ia mengiyakan ucapan Evano.


"Bagaimana bisa tidur kalau otak ku dipenuhi ketakutanan" ucap nya dalam hati.


Ia menarik nafas dalam- dalam, dan menghembuskan perlahan, berharap dirinya akan sedikit tenang dengan itu.


2 jam sudah mereka menyusuri jalanan lurus itu.


"Sabar ya" ucap Evano.


Alina menoleh kearah Evano, dan mengangguk, Evano menggenggam tangan nya.


"Sudah berapa perempuan yang kamu ajak bertemu orangtua mu" ucap Alina dalam hati, dan kembali menatap lurus kejalanan.


"Aku lihat foto di sosmed Dyra saat di kampung Evano benar- benar terlihat menyenangkan, karena mereka menjalankan kepercayaan bersama, bagaimana dengan ku" ujar nya dalam hati, membuat nya menghela napas berat.


"Kamu kenapa? Kelelahan?" ujar Evano saat mendengar nya menghela napas seperti itu.


"Hah? Enggak" ujar Alina. Tersenyum tipis.


Mereka sudah hampir 5 jam di perjalanan, Alina tertidur dari 1 jam yang lalu, di perjalanan mereka beberapa kali singgah di warung pinggir jalan untuk membeli makanan ringan.


"kesian" ujar Evano, ia terkekeh, melihat Alina yang tertidur sepertinya sangat kelelahan karena hampir seharian di dalam mobil.


***


23.00


"Lin...sayang" ujar Evano membangunan Alina.


"ehh...udah sampai?" tanya Alina sambil mengucek mata nya.


"iya" jawab Evano singkat.


"Ayo kita turun" ujar Evano.


Alina kembali tidak yakin, "gakpapa?" ujarnya ragu- ragu.


"Iya...gak usah ragu kaya gitu, gakpapa ko" ujar Evano, "Mau aku gendong?" tanya Evano.


"Enggakkk..." ujar Alina cepat.


Evano tertawa kecil, "ya ayo kita keluar dari mobil terus masuk" jelas nya. "kamu juga pasti mau istirahat kan?" tambah nya.

__ADS_1


"Tapi aku takut" ujar Alina menatap dalam mata Evano.


"Astaga....gak akan di gigit kok" ledek Evano.


"Ehm" gumam Alina.


Perlahan Alina membuka pintu mobil, dan ia keluar, Evano menggenggam tangan Alina, tapi Alina berusaha menahan dirinya agar tidak berjalan.


"Ishh ayo" ajak Evano.


"Tapi..." ujar Alina terpotong, "gak ada tapi tapian" potong Evano.


Sejenak ia meyakinkan dirinya, dan ia mengangguk.


Evano mengetuk rumah orang tua nya, dan keluarlah seorang wanita yang seperti nya seumuran dengan ibunya.


"Evanoo..." ujar ibunya, lalu memeluk Evano, terlihat senyum kebahagiaan diwajah ibunya.


"Kamu sama siapa" ujar ibunya menatap pada Evano masih dengan senyuman nya.


DEG DEG DEG...


Jantung Alina seakan mau copot rasa nya, ia benar- benar takut.


"Ini Alina bu" ujarnya memperkenalkan Alina.


Alina mencium tangan ibu Evano, "Alina" ucapnya.


"Nama yang cantik, sama seperti orang nya" pujo ibu nya.


"Terima kasih" ucap Alina menyeringai, sekarang ia sudah tidak terlalu deg- deg an lagi.


"Ayo- ayo nak masuk" ujar ibunya mempersilahkan.


"Assalamualaikum" ucap Alina pelan seperti berbisik.


"Nak...kamu langsung istirahat aja, ibu tau kamu cape, kamu tidur dikamar ini" ujar ibu Evano, sambil mengelus kepala Alina yang berkeringat karena gugup, lalu menunjukan kamar tamu untuk Alina tidur.


"Iya bu, makasih banyak" ujar Alina tersenyum, sedangkan Evano kembali ke mobil dan mengeluarkan koper- koper mereka.


Alina masuk kekamar yang di tunjukkan oleh ibu Evano, tidak lama kemudian, Evano masuk kekamar itu untuk menaruh koper milik Alina.


"Sudah ku bilangkan, ibu ku pasti suka dengan mu" ujar Evano, duduk disamping Alina.


"Iya..." jawab Alina tersenyum kecil.


"Yasudah...sekarang kamu tidur" ujar Evano, perlahan merebahkan badan Alina, dan menyelimutkan nya.


Alina menutup matanya, sampai akhirnya Evano keluar dari kamar itu.


Alina kembali membuka matanya, "keluarga ini memang baik" ucap Alina, tersenyum sendiri, dan kembali menutup matanya, hingga akhirnya ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2