
Setelah itu tidak ada lagi komunikasi antara Alina dan Evano.
Sekarang Alina sadar, ia hanya di jadika pelarian, andaikan kalau Evano kembali mendekati nya, mungkin akan tetap ia terima, mengingat Evano juga sangat baik pada nya.
Sabtu.
Mereka libur bekerja, Alina memberanikan diri menyapa Evano terlebih dahulu.
"Hai van" ujar nya mengirim chat pada Evano.
Evano langsung menelpon Alina.
"Hallo" ujar Alina lebih dulu.
"Hallo sayang...astaga aku kangen banget" ungkap Evano.
"Kangen kangen, tapi kemarin gak jadi ngajak ketemu" ucap Alina dengan jutek.
"Aku tuh lupa mulu, coba kamu telpon aku" ujar Evano.
"Takut hehe" ujar Alina tertawa pelan.
"Kenapa?" tanya Evano.
"Kalau ada Dyra, nanti kalian berantem lagi" terang Alina.
__ADS_1
"Halah...Dyra lagi...orang iri itu..."ujar Evano. lalu terkekeh.
"Kan aku sudah bilang, Dia bukan siapa- siapa aku" jelas Evano, berbohong.
"Tapi kan kamu dekat banget sama dia" ujar Alina .
"Sudah lah...kenapa malah membahas orang iri itu" terang Evano.
Lalu mereka terkekeh.
"Istri mu" ledek Alina.
"Kamu" sahut Evano dengan cepat.
"Jangan bikin salah tingkah" ujar Alina.
"Hmmm...boleh?" tanya Alina.
"Iya boleh lah" jawab Evano.
"Yaudah deh, kapan kamu mau kesana" tanya Alina.
"Hari ini, sore" jawab Evano.
"Oke" ujar Alina singkat.
__ADS_1
"Nanti aku jemput" ujar Evano, "sekarang aku nyelesain kerjaan dulu" tambah nya.
"Oke dadah, see you" ucap Alina.
"See you sayang" ujar Evano.
Ke kampung Evano? pasti akan ada orang tua nya. Apa mungkin orang tua Evano akan melarang Evano dekat dengan Alina, karena merekanm berbeda kepercayaan.
Alina benar- benar memikirkan itu semua, ia takut kalau orang tua nya Evano tidak menyukai nya, atau bahkan melarang Evano berteman dengan nya.
Saat seperti ini, membuat nya sadar, bahwa ini semua akan sia- sia, Evano akan tetap bersama Dyra, walau ia benar- benar mencintai Evano. Perbedaan mereka sangat sulit untuk membuat mereka bersatu, tapi Alina juga tidak bisa melupakan Evano begitu saja.
Cinta yang kemarin sudah mulai hilang, kini kambuh lagi, dengan Evano yang kembali memberi perhatian dengan nya.
***
Hari ini Alina mempacking barang- barang dan pakaian yang akan ia bawa nanti sore. Mereka akan berada disana selama 2 hari. Ia deg- deg an dengan ini semua, ia sangat takut jika orang tua Evano tidak menyukai nya.
, walau bukan dalam hal menantu atau apapun, tapi hanya dalam pertemanan.
"Pasti orangtua nya jua baik, anak nya saja baik" gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya, sambil memasukkan baju nya kedalam koper.
Hati dan otaknya benar- benar tidak bisa bersahabat sekarang, "aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi hanya untuk bertemu orang lain" ujar nya, menghela napas.
Ia pergi kekasur dan membenamkan wajahnya, sekarang ia dilema untuk pergi ikut Evano, "batalkan atau tidak" batinnya, "ya tuhan...kenapa aku sangat cemas begini" ucapnya dengan mata tertutup.
__ADS_1
Seperti ada tangan yang mencoba melingkar di badannya, "membatalkan apa?" bisik seseorang itu. Ia mengubah posisi berbaring nya sekarang menjadi telentang, "Evano" ucapnya kaget, "kenapa gak ketuk pintu dulu?."
"Pintu nya gak kamu tutup, tapi aku beberapa kali manggil nama kamu, tapi gak jawaban, pas aku masuk, aku kira kamu tidur" jelas Evano.