KEKASIH ORANG LAIN

KEKASIH ORANG LAIN
2


__ADS_3

Orang berbondong- bondong berdatangan.


Alina mendekati orang- orang yang sedang menyiapkan bara api untuk mengguling ****.


"Sabar ya neng...belum jadi" ujar seorang laki- laki yang sudah berumur, dengan senyum nya melihat Alina.


Alina tersenyum dan mengangguk.


Ia melihat orang mulai menusuk **** itu dan merentangkan nya diatas bara api yang tadi dibuat.


"Hei" ujar Evano menepuk pundak Alina.


"Ehh apa" ujar nya sedikit tersentak karena kaget.


"Mending kamu kedapur gih, minta ibu masakin kamu ayam tadi" suruh Evano.


"Kenapa gak nunggu ini aja" sahut laki- laki tadi sembari menunjuk kearah **** guling itu.


"Dia gak makan pak" jawab Evano menyeringai.


Alina menunduk dan masuk kerumah menghampiri ibu Evano didapur, yang ternyata sedang memotong- motong ayam.


"Eh ibu...gak ke depan?" tanya Alina.


"Nanti, ibu masakin kamu dulu sayang" jawab ibunya lembut.


"Udah bu...biar aku aja yang masak nya, ibu ke depan aja" ujar Alina seraya meminta ibu Evano agar memberikan pisau yang beliau pegang pada Alina.


"Kamu gakpapa masak sendiri?" tanya ibu Evano.


"Gakpapa bu...ntar malah ngerepotin ibu" jawab Alina.


"Yaudah, ibu kedepan ya, kalo ada apa- apa panggil aja" ujar ibu Evano lalu beranjak pergi dari situ.


Alina melanjutkan memotong- motong ayam tadi dan ia memilih untuk menggoreng biasa.


Beberapa jam kemudian ia sudah selesai mengerjakam semua nya, ia pergi ke teras, dan kebetulan Evano terlihat baru saja duduk.


"Van..." tegur Alina.


Evano menoleh, tanpa menjawab.


"Mau makan gak? aku tadi goreng ayam" terang Alina.


"Nanti aja lah..." jawab Evano, "kamu gih makan dulu" tambahnya.


Ibu Evano lewat, "bu, mau makan?" tanya Alina.


"Ibu udah makan tadi cantik sebelum kita pergi kepasar," jelas ibu Evano, "kamu aja makan dulu gih."


"Aku makan dulu ya" ujar Alina pada kedua nya, mereka mengangguk iya.

__ADS_1


Ditengah- tengah makan nya, ia terpikir lagi pada keluarga Evano, "gue benar- benar bersyukur bisa diterima dengan baik disini sama ibu Evano, dan semoga bapak nya sudah tenang disana, juga suka sama gue" ucap nya dalam hati, sambil tersenyum sendiri.


***


Alina selesai makan sekaligus selesai mencuci piring. Ia kembali keluar. ia melewati kamar Evano. dan... Alina meneguk salivanya saat menatap Evano yang sudah di depannya, bahkan mereka bisa merasakan nafas lawannya, menandakan mereka bertatapan sangat dekat sekarang.


"Kamu kenapa menarik aku?" tanya Alina.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Evano langsung mengecup bibir Alina. Alina sedikit bergerak tanda ia tidak ingin.


Alina mendorong badan Evano pelan, "ish kamu nih kenapa" ujar Alina.


"Pengen berduaan aja" ujar Evano, ia menendang pintu pelan agar sedikit tertutup.


Alina bergegas ingin membuka pintu itu, namun terhalang oleh badan Evano, Evano mendekap badan mungil Alina. Sesekali ia menepuk pan*at Alina.


"Evano!" geram Alina, "Awas!" ujar nya lagi.


Evano tertunduk seakan putus asa, "yaudah kalo gak mau" ujar nya.


Alina merasa kasian melihat Evano, namun Evano bisa saja melakukan sesuatu padanya.


"Ayo keluar" ucap Alina pada Evano yang sekarang duduk ditepi ranjang nya dengan tertunduk.


"Maafkan aku, aku sudah lancang" ujar nya seperti menyesal.


Namun Alina tau dengan Evano, Evano seperti itu hanya untuk membuat Alina kasian dengan nya.


"Buka pintu" ujar Alina yang baru saja menyadari ternyata pintu itu terkunci.


Evano mendongakkan kepalanya, sekarang ia menatap Alina dengan senyum nakal nya, "nanti" ujar nya sembari meletakkan jari telunjuknya dengan lembut di bibir Alina.


Alina lagi- lagi meneguk saliva nya, "Evano! jangan macam- macam" tegas Alina.


"Iya" jawab Evano yang sekarang mendekatkan bibirnya pada bibir Alina.


"harus berapa kali aku mendorong mu agar menjauh" ujar Alina memutar bola matanya.


lagi- lagi badan Evano didorong oleh Alina. Dengan cepat ia merogoh kantong celana jeans milik Evano.


Evano menahan tangan Alina, "kenapa pegang- pegang" ujarnya nakal.


Alina menarik paksa tangannya, setelah itu kembali merogoh celana Evano, sampai akhirnya kunci itu ia temukan.


Ia bergegas membuka pintu, mempercepat gerakan nya, dan akhirnya lari keluar, Alina meninggalkan kunci itu di dekat pintu kamar Evano.


Evano tertawa kecil melihat nya, ia menyusul Alina yang duduk di teras, "hei, kok lari?" ujar nya terkekeh.


"kamu nakal" ujar Alina merengut, membuang wajah dari Evano.


Evano memutar wajah Alina agar menghadap dengan nya, "apaansih" ujar Alina.

__ADS_1


"jangan marah- marah dong" ujar Evano.


"Iya kamu nya juga jangan macam- macam" ungkap Alina.


"iya deh" ujar Evano, mengelus rmbut Alina.


Alina mendekati ibu Evano yang sedang membantu orang memasak, "kamu udah makan?" tanya ibu Evano.


"udah bu... aku mau bantuin" ujar Alina.


"Ihh, gak usah, nanti kamu cape, kamu duduk aja gih sama Evano tuh" ujar ibunya sembari menunjuk kearah Evano yang sedang duduk.


Mata Alina mengikuti arah tunjukan tangan ibu Evano, dan sampai pada Evano yang sedang duduk itu, ia memutar bola mata nya karena kesal dengan Evano.


"hehe iya bu" ujar nya tertawa kecil dengan paksa, agar tidak dilihat sedang berkelahi dengan Evano.


"Ayo gih" ujar ibunya, mengangguk dengan senyum.


Alina berjalan kearah teras, lebih tepat nya ke arah Evano.


Evano terkekeh melihat raut wajah Alina yang terlihat sangat kesal dengan nya.


Alina duduk disamping Evano, sedikit menjatuhkan badan nya dengan kasar.


"pelan pelan dong" ujar Evano menoleh ke arah Alina.


Alina tidak menghiraukan perkataan Evano.


"sombong amat" ujar Evano.


Alina menghela napas dengan kasar, semakin membuat Evano tertekekeh saat melihat nya.


"ngapain sih liatin mulu" ujar Alina, sedikit menepuk pipi Evano.


"Nampar mulu" sahut Evano. menahan tangan Alina di pipinya, lalu mencium nya.


Sebenarnya Evano sangat romantis dengan Alina, namun Alina juga tidak bisa berharap lebih dengan nya, dengan semua halangan yang ada, dan perbedaan ini, ia memang pantas dengan Dyra. Namun hati tidak bisa asal melepas jika sudah nyaman.


Alina menatap sayu pada Evano yang sedang mencium tangan nya, sembari memikirkan semua tentang mereka.


"kenapa? liat liat?" tegur Evano, membuyarkan Alina yang sedang menjalankan pikirannya itu.


Alina dengan cepat menarik tangan nya, "udah" ujar nya.


"cium doang" celetuk Evano.


"malu lah diliat orang, apalagi ada ibu" terang Alina.


"ntar jadi istri masih malu juga?" tanya Evano.


"apaansih" ujar Alina sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"jangan buat gue berharap" ujar Alina dalam hati.


__ADS_2