
Sesampainya dirumah Alina, mereka hanya duduk duduk di ruang tamu dan bercanda gurau.
Evano menggenggam tangan Alina dan menatap nya, "aku merindukan mu" ujar Evano.
perlahan ia selipkan tangan nya di antara rambut dan leher Alina, wajah mereka semakin dekat, dan benar saja Evano kembali ******* bibir manis itu.
Alina yang sudah terbuai dengan ciuman yang ia rasakan itu hanya memejamkan matanya sembari menikmati.
Setelah itu Evano mengakhiri nya, timbul lah pikiran yang menyadarkan Alina, bahwa ia bodoh, kenapa mau mau nya di cium oleh pria yang baru ia kenal, dan... Yang mempunyai kekasih.
Alina berusaha membuang pikiran itu, "agh" lirih nya menggelengkan kepala.
"Kamu kenapa?" tanya Evano.
"Eh...gapapa" jawab Alina menyeringai, "kamu mau teh hangat?" tawar Alina.
"Boleh" jawab Evano.
Alina beranjak dari tempat duduk nya dan pergi ke dapur, saat ia membuatkan teh hangat untuk Evano, samar samar ia merasakan ada sesuatu yang berjalan di pinggang nya dan mengarah ke depan perut nya, dan terdengar suara nafas seseorang.
Evano melingkarkan tangan nya di pinggang Alina, dan menciumi leher nya.
"Ih...Van...udah" ucap Alina.
"Aku gak akan macam macam, percayalah" jawab Evano yang sekarang menaruh kepala nya di bahu Alina.
Alina berusaha mengatur nafas nya, hampir saja ia sedikit mengeluarkan sedikit suara lirihan dari mulut nya, "ayo van kita kedepan" ajak Alina, dan Evano melepaskan tangan nya dari pinggang Alina.
Kembali mereka duduk dengan santai dan menyemil makanan ringan yang mereka beli tadi.
"Van... Ga ada yang nyari kamu? tanya Alina.
"Siapa juga" jawab Evano sambil mengarahkan makanan ke mulutnya.
"Istri kamu"
"Haha ada ada aja" jawab Evano menggelengkan kepala nya.
"Oh iya... keyla itu emang sahabat kamu banget ya?" tanya Evano.
"Iya Van... Coba deh kamu lebih akrab juga sama dia, dia seru" jawab Alina.
"Emm...boleh, tapi aku liat Keyla itu sifat nya masih kekanak kanakan" ujar Evano.
"Kalo aku?" tanya Alina.
"Lebih dewasa, buktinya jago ciuman bibir haha" jawab nya dengan tertawa.
Alina memukul paha Evano, "plakkk."
"Aduh, kamu ih, mukul nya sakit banget" ucap Evano sambil mengelus paha nya.
__ADS_1
"Kamu juga sih ngomong gitu bikin aku malu aja" ujar Alina.
"Aku bercanda aja kok, maksud aku, kamu bisa diajak bertukar pikiran, bertukar pendapat, dan pemikiran kamu lebih terbuka, apalagi tentang perbedaan, contoh nya,religion" jelas Evano.
"Ya...aku tidak pernah sama sekali memikirkan tentang agama orang yang ada disekitar ku, karena itu urusan masing-masing, makanya aku gak pernah menyinggung about your religion, aku nya bakal langsung ga enak hati kalau gitu" jawab Alina.
"Kamu ingat kan,saat kita bicara bertiga? beberapa kali Keyla menyinggung tentang perbedaan agama" ujar Evano.
"Ya... Nanti aku kasih tau dia kalau itu gak baik" jawab Alina.
"Aku menyukai perempuan seperti mu, sudah cantik juga pintar" ujar Evano lalu mengelus kepala Alina.
"Seperti aku, tapi bukan aku haha" cetus Alina.
Evano hanya terkekeh mendengar itu, tiba-tiba ponsel nya berbunyi, sebelum ia melihat siapa yang menelpon, lebih dulu terlihat Evano melirik ke arah Alina yang menatap nya, dan Evano sedikit menjauhkan diri nya, dan mematikan ponsel nya.
"Kenapa di matiin?" tanya Alina menatap Evano.
"Ah nomor gak penting" jawab Evano dan tersenyum kaku.
"Jangan bohong. Kalau memang dari Dyra angkat saja, aku juga tidak akan marah" cetus Alina
"Bukan kok," ucap Evano.
Alina terdiam karena mood nya yang langsung hancur berantakan, Evano membuyar kan nya, "heii... Kita masak sosis yang kita beli tadi yuk" ajak Evano
"Sosis kamu?"
Evano sedang membuka plastik sosis, dan Alina berpikiran jahil, Alina mengambil satu sosis dan memasukkan kemulut nya, lebih tepat nya mengeluar masuk kan, "eehmm" lirih nya.
Evano terdiam melihat kelakuan Alina, "pakai sosis yang ini aja" ucap Evano sambil menunjuk ke arah bawah.
"Gila kamu," ujar Alina menyempitkan matanya.
"Lagian kamu juga sih, suka banget mancing mancing" ujar Evano dengan cepat mencium Alina di bibir nya.
"Nyium itu di pipi, bukam di bibir" cetus Alina.
"Aku suka disitu, gimana dong"
"Sering sama Dyr..." Belum selesai Alina bicara, "udah nih, ayo kita goreng" sela Evano.
"Kamu gih, aku mau bagian makan nya aja" ucap Alina terkekeh.
Evano menyempitkan matanya menatap Alinaz lalu melanjutkan menggoreng.
Beberapa menit Alina menunggu sambil memainkam ponsel nya, "sudah selesaiiiii, ini untuk tuan putri nya Evano" ucap Evano.
"I love you" kata Evano.
Alina terdiam, ia bingung menjawab atau tidak, namun Alina menganggap ini hanya candaan, "i love you too"jawab nya
__ADS_1
Mereka bersama memakan sosis itu, Alina melirik ke arah jam, "jam 12" batin nya.
"Van... Kamu ga pulang? Udah tengah malam, atau mau nginep di sini aja?".
"Kalau boleh, besok subuh aku pulang kerumah" jawab Evano.
"Yaudah, tapi kamu tidur di sofa gapapa kan?" Tanya Alina.
"Iya gapap kok" jawab Evano.
"Karena kan kalo dikamar takut khilaf haha" ucap Alina terkekeh.
Evano menempel kan telunjuk nya di bibir Alina, "shuttt" lalu mendekatkan wajah nya, "khilaf nya kan sama kamu" kata Evano dengan senyum nakal yang mengembang sempurna.
"Ini jari aku gigit baru tau rasa kamu" cetus Alina.
"Mau dong masukin ke mulut kamu haha" ujar Evano lalu tertawa.
"Kamu ya... Dasar cowok mesum" ujar Alina.
"Kamu cewek nakal, berati cocok dong" jawab Evano.
Alina terkekeh mendengar itu, "aku sebenarnya gak nakal, hanya saja suka menggoda, dan itu cuma bercanda" terang Alina.
"Van... Kamu sama Dyra beneran gak.." ucapan Alina terpotong, "ia gak ada apa apa, dari awal dia kerja disitu, aku gak pernah anggap dia apa apa" Sela Evano.
"Kenapa orang orang banyak yang bilang kalau kalian ada hubungan" tanya Alina.
"Ya aku gak tau, itu pendapat mereka" jawab Evano.
"Oh..." Alina termenung.
"Hei.." Evano menjentikan jari nya didepan wajah Alina, "kamu cemburu kah?" tanya Evano.
"Dihh... Pede banget ya kamu, ngapain juga aku cemburu" cetus Alina.
Evano memeluk Alina dan mengelus lembut kepala nya, "tenang saja, kamu prioritas aku" ujar Evano.
Pelukan itu membuat Alina nyaman, entah bagaimana, pelukan erat dari Evano selalu membuat nya tenang, itu membuat nya sedikit lega, karena terkadang, orang hanya butuh pelukan seperti itu saat ia gundah, dan Alina mendapatkan itu pada diri Evano.
"Van... Kamu gak mau tidur? Udah tengah malam loh" ucap Alina menengadahkan kepala nya dan menatap Evano.
"Aku belum ngantuk, kalau kamu mau tidur, tidur aja sambil aku peluk, nanti aku gendong kamu ke kamar" ujar Evano.
Alina memejamkan matanya, berusaha untuk tidur, namun pikiran tentang Dyra kembali muncul, "gue tau sekarang Dyra pasti nyari Evano, sebenernya gue jahat gak sih kaya gini, tapi ini juga bukan kehendak gue, semua berjalan gitu aja, aduhh Alina!" Pikiran itu menghantui kepala nya, namu Alina tetap berusaha untuk terlelap.
Beberapa jam kemudian Alina berhasil ke alam tidur nya, ia tidur dengan nyeyak di pelukan Evano, entah apa yang ada di pikiran dan perasaan Evano saat itu, namun yang jelas, Evano seperti tidak ini melepas pelukan nya dari Alina.
Seperti sadar bahwa Alina membutuhkan itu, ia memang mengetahui nya dari Alina yang memberitahu nya tentang kata kata yang Alina rangkai setelah ia merasakan pelukan pertama kali dari diri nya.
Karena malam sudah semakin larut, Evano menggendong Alina ke kamar nya, lalu merebahkan nya dikasur nya, dan dengan satu kali kecupan di kening Alina, ia menatap Alina sebentar, lalu tersenyum, dan beranjak pergi dari kamar Alina.
__ADS_1