
Berlin, Jerman
Tokk ...
Tokk ...
Tokk ...
" Quenn!!!"
Lika terus berteriak memanggil nona mudanya itu. Tapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.
" Queen, ini sudah siang! Kau tidak ingin makan siang?!!" Teriak Lika sambil terus mengetuk pintu kamar Queen.
Cklek ...
Akhirnya pintu kamar berwarna putih itu terbuka, menampilkan Queen dengan rambut yang berantakkan sambil menguap.
" Ada apa kak? Aku mengantuk sekali. " Ujar Queen sambil bersandar di pintu, dia membuka setengah pintu kamarnya.
" Ini sudah siang! Ayo makan dulu. Nanti sore kau ada jadwal pemotretan. " Ujar Lika yang sebenarnya tidak tega melihat nona mudanya itu, lika tau betapa capeknya menjadi Queen.
" Hoamm, baiklah. Sepuluh menit aku turun kebawah. " Ujar Queen dengan menguap.
" Baiklah, aku tunggu dibawah. " Ujar Lika dan diangguki Queen.
Queen pun mulai menutup kembali pintu kamarnya. Gadis cantik itu langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka agar terlihat lebih segar.
" Apakah harus sore ini juga? " Ujar Queen sambil membasuh mukanya.
Baru pagi tadi dia sampai dan sorenya harus melakukan pemotretan juga. Capek sekali rasanya.
" Semangat Queen!!!" Teriak Queen menyemangati dirinya sendiri, mau gimana pun ini pilihannya bukan?.
__ADS_1
...------------------...
Disisi Lika, kini dia sudah duduk manis di meja makan sambil menunggu kehadiran nona mudanya itu.
Di meja sudah tertata rapih semua jenis makanan. Dari mulai sayur, lauk pauk, nasi, dan juga buah-buahan. Semua itu telah disiapkan oleh maid. Beruntung juga orang tua Queen mengirimkan maid untuk mereka selama disini.
" Kak Lika. " Panggil Queen yang berjalan mendekati dirinya.
" Mari duduklah, kita makan. Nanti sore Mr Gio akan menjemput kita. " Ujar Lika mulai menyendokkan nasi dan juga lauk pauk ke piringnya.
" Hmm, apa harus nanti sore? " Ujar Queen membuat Lika yang ingin menyuapkan nasi kedalam mulutnya jadi tertahan.
" Harus, besok kau sudah mulai tampil. Pemotretan sore nanti untuk di belakang layar saat kau tampil nanti. " Terang Lika yang mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
" Ohh gitu, baiklah. Padahal aku ingin istirahat, badan ku pada sakit semua. " Rengek Queen dengan meminum segelas orange juice yang sudah di tuangkan oleh maid.
" Bersabarlah, pemotretan kali ini cepat. Setelah selesai kita langsung pulang. " Ujar Lika dengan tersenyum.
" Baiklah. " Ujar Queen dengan pasrah dan mulai memakan makanannya yang sudah diambilkan oleh maid.
Paris, Prancis.
Kini di ruangan Ceo, terlihat Sean yang tengah fokus dengan laptopnya. Setelah kepergian kekasihnya ke Jerman, laki-laki itu mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor.
Tokk ...
Tokk ...
" Masuk! " Teriak Sean yang masih fokus dengan laptopnya.
Ceklek ...
" Sean..." Panggilan itu membuat Sean mendongak menatap seseorang yang masuk kedalam ruangannya itu.
__ADS_1
" Ngapain kau kesini? " Ujar Sean dengan tidak suka menatap kehadiran Tania.
" Aku kesini anter makan siang untuk mu, kata bunda kau tidak sarapan tadi, makanya aku kesini bawa makan siang untuk mu." Ujar Tania dengan tersenyum.
Tania mencoba untuk melakukan pendekatan terhadap Sean. Dia ingin mengambil hati Sean dan membuat Sean bisa menerima kehadirannya.
" Ck, tidak sudi makan makanan mu. " Ujar Sean dengan ketus dan kembali menatap laptopnya.
Sean tidak memperdulikan lagi kehadiran kekasihnya itu. Tapi Tania masih mencoba mengabaikan perkataan Sean, gadis itu mulai meletakkan bekal makan siang di meja kerja, membuat Sean menatap tajam kearahnya.
" Aku letakkan disini ya, nanti kalau kau lapar bisa memakannya. Kalau gitu aku pergi, aku harus balik lagi ke galeri. " Ujar Tania yang mengacuhkan tatapan tajam Sean.
Saat Tania ingin melangkahkan kakinya keluar. Sean melempar bekal makan siang yang di bawanya tadi dan membuat semua isi makanan di dalam kotak makan itu berhamburan di lantai.
Tania membalikkan badannya dan melihat lantai yang tadinya bersih kini sudah kotor dengan makanan yang dibawanya tadi.
" Sudah ku bilang, aku tidak sudi memakannya! " Ujar Sean membuat Tania menahan air matanya.
Dia berjalan mendekati meja kerja Sean sambil menatap laki-laki brengsek itu yang sialnya adalah tunangannya.
" Kenapa? Kenapa kau tidak bisa menerima kehadiran ku sebagai tunangan mu? Tidak bisakah kau sedikit mencintai ku? " Ujar Tania yang berhasil meluruhkan air matanya.
Sean masih diam dengan tatapan datarnya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah atas sikapnya yang sudah keterlaluan. Dan sampai kapanpun juga dia tidak akan mencintai gadis di depannya ini.
" Jawab?! Tidak bisa kau mencintai ku dan melupakan dia?! " Ujar Tania yang sedikit meninggikan suaranya.
" Ck, mimpi. " Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Sean langsung berlalu pergi dari ruangannya meninggalkan Tania yang masih berdiri dengan berderai air mata.
Apakah sesakit ini mulai mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintainya? Bahkan tidak menerima kehadiran dirinya?.
~Bersambung~
__ADS_1
Sedih juga ya jadi Tania🥺 Tapi bakal lebih sakit+sedih lagi jika Caca tau mereka sudah bertunangan🤧
Btw, author mau tanya. Kalian masih suka gak sih sama cerita ini? Jujur kalau kaya gini author gak semangat buat up nya🥲