
Prangg ...
Prangg ...
Pyarr ...
Sekretaris Will hanya bisa terdiam berdiri diambang pintu melihat kegilaan nyonya Erika. Sejak mengetahui putranya tidak ada diruangannya, Erika terus membanting apapun yang ada di depan matanya.
Sedangkan Tania yang juga menemani Erika hanya bisa terdiam disamping sekretaris Will. Tania bingung harus bagaimana menenangkan calon ibu mertuanya.
"Nona lakukan sesuatu, kalau tidak semuanya akan hancur." Bisik sekretaris Will ke Tania.
"Aku harus gimana?" Gumam Tania yang juga bingung cara menghentikan calon ibu mertuanya itu.
"Deketin nyonya Erika dan ajak dia pulang." Bisik Sekretaris Will membuat Tania menengok kearahnya.
"Apa akan berhasil?" Ujar Tania dengan ragu.
"Coba dulu nona."
Tania mengangguk mengiyakan. Dia mulai berjalan mendekati Erika yang masih saja membanting barang yang ada di depan matanya.
"Bu-bunda..."
Erika berhenti dan menoleh kesamping menatap menantunya itu.
" Hentikan bund, kita pulang saja." Ujar Tania dengan sedikit gugup.
"Tidak bisa, kalau bunda diam terus anak itu akan semakin berulah. Kita tunggu sampai dia datang." Ujar Erika membuat Tania hanya bisa mengangguk.
Takk ...
Takk ...
Takk ...
Bunyi langkah kaki yang semakin mendekat, membuat sekretaris Will menoleh kebelakang dan mendapati kehadiran bosnya.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga tuan, lihat ruangan mu seperti kapal pecah." Ujar Sekretaris Will menatap prihatin kearah ruangan bosnya yang sudah sangat-sangat berantakkan.
Sean mengepalkan tangannya. Dia berjalan menghampiri bundanya yang kini sudah menatap kearahnya.
Plakk ...
Erika langsung melayangkan tamparannya saat putranya itu sudah berdiri dihadapannya.
Sekretaris Will dan juga Tania menatap terkejut atas tindakan yang dilakukan Erika. Begitupun dengan Sean yang terdiam mendapatkan tamparan di pipinya.
"Darimana saja hahh?! Kau lupa kalau hari ini kalian harus feeting baju?!" Bentak Erika.
"Keluar." Ujar Sean yang masih terlihat tenang.
"Berani kau ngusir bunda?!!" Erika semakin marah mendengar putranya mengusir dirinya.
"Keluar!!!" Teriak Sean membuat sekretaris Will dan juga Tania terlonjak kaget.
Sekretris Will menatap bosnya itu yang tengah mengepalkan kedua tangannya. Tania yang kini berdiri disebelah Erika menatap raut wajah Sean yang dipenuhi amarah.
"Begini sikap mu ke bunda? Dimana sopan santun mu Sean!" Ujar Erika menatap tajam putranya itu.
"Ini pasti ajaran gadis itu! Sejak dia datang sikap mu berubah!"
Sean makin mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak terima bundanya menjelek-jelekkan kekasihnya.
"Berhenti memfitnah kekasih ku! Sekarang keluar dan bawa gadis murahan itu!" Ujar Sean penuh penekanan.
Tania yang mendengarnya hanya bisa menundukkan kepalanya. Apa dia begitu buruk dimata tunangannya itu?.
Tidak bisakah Sean melupakan cinta pertamanya?, dan mulai mencintainya?.
"Berhenti mengatakan Tania murahan Sean, bunda tidak terima kau mengatakan hal seperti itu ke Tania!"
"Saya juga tidak terima anda menghina kekasih saya nyonya Erika!!!" Bentak Sean.
"Satu lagi batalkan pernikahan sialan ini! Dan berhenti mengatur hidup ku!!!"
__ADS_1
Sean memilih untuk pergi dari ruangannya. Dia tidak ingin menyakiti bundanya lagi. Bagaimanapun dia masih ada rasa sayang walaupun bundanya sudah sangat keterlaluan.
"Sean!!!" Teriak Erika mengejar putranya itu.
Tania yang sempat menahan tangan Erika dihempaskan begitu saja oleh wanita paruh baya itu. Hal hasil Erika berlari mengejar putranya dan disusul sekretaris Will dibelakangnya.
"Sean, bunda bilang berhenti!!!" Teriak Erika terus memanggil dan mengejar putranya itu tanpa memerdulikan tatapan para karyawan yang memerhatikan mereka.
Sean terus berjalan keluar dan saat dia ingin masuk kedalam mobilnya, Erika langsung menahan tangannya.
"Sean bunda mohon jangan seperti ini." Ujar Erika yang mulai meredam amarahnya.
"Bunda hanya ingin yang terbaik untukmu." Sambung Erika yang kini sudah meneteskan air matanya.
Erika tidak bisa terus bermusuhan dengan putranya. Ditambah dia bisa melihat tatapan kebencian putranya tadi yang makin menambah rasa sakit dihatinya.
Putranya yang dulu sangat lembut, sopan dan selalu menyayanginya kini sudah berubah. Sekarang hanya ada kata makian, bentakkan yang dia terima.
"Terbaik untukku?" Sean menoleh menatap bundanya itu.
"Itu semua hanya terbaik untuk mu nyonya Erika!" Bentak Sean yang langsung menghempaskan tangan bundanya dan memilih masuk kedalam mobilnya.
Erika terdiam menatap mobil putranya yang mulai menjauh. Sekretaris Will memilih untuk tetap di perusahaan membereskan kekacauan yang dilakukan nyonya Erika.
"Will..."
Sekretaris Will yang ingin kembali keruangan bosnya itu kembali terdiam.
"Will bisakah kau membujuk tuan mu itu untuk bisa menerima Tania?" Ujar Erika menghampiri sekretaris Will.
" Maaf nyonya saya tidak bisa, ini bukan tugas saya."
Sekretaris Will memilih untuk kembali keruangan bosnya itu. Meninggalkan nyonya Erika yang masih terdiam.
~Bersambung~
Author rencanya pengen buat ceritanya Arsen🤭 Kayanya bagus deh kalau author bikin cerita arsen si badboy🤭
__ADS_1
Kalau setuju bisa komen dan jangan lupa likenya😉😘