
Berlin, Jerman
Caca berhasil menemukan anak perempuan pria yang dia tolong. Ternyata dugaan Caca benar, gadis kecil itu tengah berdiam menikmati pemandangan dari atas gedung.
"Thank you for helping me miss" Ujar Pria sambil tersenyum.
"You're welcome, I'm happy to help" Ujar Caca yang juga membalas dengan senyuman.
"Aunty, let's play at Clara house." Ajak gadis kecil itu sambil menggenggam tangan Caca.
"Clara..."
Caca melihat Clara yang melepaskan pegangan ditangannya dan menundukkan kepalanya saat ditegur pria itu.
Caca masih belum mengetahui nama pria yang ditolongnya. Mereka belum sempat berkenalan.
"I apologize for Clara's attitude."
Caca bisa melihat tatapan tidak enak pria itu. Mungkin pria itu merasa dia terganggu dengan perkataan yang dilontarkan putri kecilnya.
Sebenarnya Caca juga merasa tidak enak menolak ajakan gadis kecil itu. Tapi dia juga tidak bisa pergi ke mansion seseorang yang baru dikenalnya.
"No Problem Mr, Then I'll take my leave, I still have a few things to do."
"yes, thanks again for helping me." Ujar Pria itu sambil mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Aunty, can Clara meet Aunty again?" Ujar Clara mendongakkan kepalanya menatap Caca.
"Of course this is aunt's business card. There is Aunt's telephone number there, Clara can contact Aunty." Ujar Caca sambil memberikan kartu namanya. Clara mengangguk dan menerima kartu itu.
"Bye aunty." Clara melambaikkan tangannya saat Caca mulai berlalu pergi meninggalkan keduanya.
......................
Paris
Ditempat yang berbeda, tepatnya di club ternama. Sean meminta sang supir untuk membawanya ke club. Dia ingin menenangkan pikirannya disini sambil menikmati beberapa botol wine.
Sudah menjadi rutinitas Sean mendatangi club, saat sedang ada masalah. Entah itu masalah di perusahaannya atau masalah dengan keluarganya.
"Selamat datang tuan, seperti biasa?" Ujar sang bartender saat menyadari kedatangan pelanggan setianya.
Sean langsung meneguk wine itu hingga tandas dan meminta kembali. Sang bartender dengan setia menuangkan kembali wine di gelas Sean.
"Kali ini apa masalahnya?" Ujar bartender itu yang ternyata teman Sean dan juga Will.
Dulu mereka sempat satu sekolah di bangku SMA dan berpisah saat kuliah. Sean dan Will yang memilih tetap berkuliah disini dan Hiro yang memilih untuk kuliah di negara kelahiran sang ibu di Amrik.
Sean baru bertemu kembali saat dia pertama kali mendatangi club ini. Dia tidak menyangka Hiro menjadi seorang bartender disini. Sedangkan Will belum mengetahui kepulangan Hiro kesini.
Sean hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Hiro. Pria itu malah asik meminum winenya dan menuangkan kembali ke gelasnya.
__ADS_1
"Will tidak ikut?" Hiro kembali mengajukan pertanyaan dan dibalas gelengan oleh Sean.
"Jangan terlalu mabuk, nanti kau menyusahkan ku. " Ujar Hiro dengan ketus dan menghampiri pelanggan yang lain.
Sean merasa tidak peduli. Dia sudah menghabiskan satu botol wine.
"Berikan sebotol lagi." Ujar Sean pada Hiro yang tengah meracik minuman untuk pelanggan lainnya.
Hiro mengacuhkan permintaan temannya itu. Dia datang menghampiri pelanggannya yang tadi dan memberikan minumannya.
"Kau dengar tidak?!" Ujar Sean dengan jengkel diacuhkan oleh Hiro.
"Sudahlah, kau pulang sana. Jangan buat ku repot. " Ujar Hiro yang masih mengingat kejadian dimana Sean yang mabuk dan membuat ulah di bar.
"Berikan! Atau ku laporkan keatasan mu."
Hiro mendengus kesal dan mau tidak mau memberikan sebotol wine lagi.
"Awas saja jika menyusahkan ku." Hiro meletakkan botol wine itu dengan perasaan kesal.
"Hmm, nanti hubungi Will jika aku mabuk." Ujar Sean yang kembali meminum wine itu.
Hiro terus berdiam memandangi temannya itu yang terlihat sangat kacau. Dia penasaran dengan masalah yang dihadapi temannya itu hingga membuatnya kacau seperti ini.
~Bersambung~
__ADS_1
Maaf ya untuk part ini sedikit, otak author buntu banget. Mungkin sebentar lagi tamat, alurnya author cepetin.
Likenya jangan lupa ya๐