
Dikediaman keluarga Zee, Veronica yang baru saja mendapatkan telpon dari Erika tentang membatalkan perjodohan. Membuat dirinya memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
"Siapa Vero?" Tanya Kania saat putrinya itu kembali menghampiri mereka.
"Nyonya Erika, Mih." Ujar Veronica sambil duduk kembali disebelah mamihnya.
"Ohh ya bagaimana persiapan pernikahan cucu mamih? Semua berjalan dengan lancar kan?"
Veronica terdiam menatap mamihnya itu. Erlano menatap tatapan putrinya itu yang terlihat gelisah.
"Ceritakan saja."
Veronica menatap papihnya itu. Dia tau betapa pekanya sang papih dan dia tidak bisa menyembunyikan masalah apapun dari papihnya.
"Tadi nyonya Erika telpon, dia ingin membatalkan perjodohan."
Kania terkejut, begitupun dengan Erlano. Mereka tau betapa kuatnya pendirian Erika untuk menjodohkan keduanya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba berubah.
"Nyonya Erika tidak ingin menyakiti Tania maupun Sean. Kalau perjodohan ini terus berlangsung, akan menyakiti keduanya." Ujar Veronica membuat Erlano mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Tania? Apa dia akan baik-baik saja, mengingat dia sudah mulai menerima dan mencintai Sean." Ujar Kania yang tidak ingin menyakiti hati cucunya.
"Mau gimana lagi mih, disini harus ada yang tersakiti. Daripada hubungan ini semakin dipaksa dan malah berdampak tidak baik, lebih baik di batalkan dari sekarang."
Erlano setuju dengan pendapat putrinya. Walaupun mereka harus melihat Tania tersakiti nantinya.
Brakk ...
Bunyi pintu di buka kasar itu, membuat ketiganya menoleh menatap Tania yang berjalan dengan wajah yang dipenuhi air mata.
"Hikss, aunty." Tania langsung memeluk Veronica.
"Sudah jangan menangis, kau pasti bisa melupakan Sean." Veronica membalas pelukan keponakannya itu. Dia tau betapa sakitnya melupakan seseorang yang mereka sayang.
Kania dan Erlano menatap kasihan cucunya. Kenapa kehidupan putri mereka dan cucu mereka tidak berjalan dengan baik. Putri mereka yang terus menerus gagal dalam pernikahan kini dialami kembali oleh cucu mereka.
"Dengarkan aunty, aunty tau bagaimana perasaan kamu. Jika pernikahan ini terus berlangsung, yang ada kamu yang sakit Tania. Buat apa menjalankan pernikahan hanya dengan satu hati?"
Tania menunduk mendengarkan perkataan Auntynya itu. Semua yang dikatakan auntynya benar. Tapi dia tidak masalah jika dia yang harus tersakiti nantinya, asal dia tetap bersama dengan Sean.
__ADS_1
"Tania gak masalah, Tania gak peduli jika Sean tidak mencintai Tania. Asal kita bisa terus bersama aunty."
Kania, Erlano dan juga Veronica menatap tidak percaya kearah Tania.
"Kau gila? Grandma tidak setuju, buat apa kalian menikah kalau Sean tidak mencintai mu." Kali ini Kania yang mulai angkat bicara.
"Grandpa juga tidak setuju, masih banyak pria diluar sana Tania." Erlano menatap tajam cucunya itu.
"Mungkin diawal kau kuat, tapi apa kau yakin akan terus kuat sampai akhir?" Tania terdiam.
"Jangan terlalu bodoh karna cinta Tania, Sampai kapanpun Sean tidak akan pernah mencintai mu. mau seberapa kuat usaha mu, kalau dia tidak ingin membuka hatinya untuk mu buat apa? Yang ada semua kerja keras dan pengorbanan mu akan sia-sia dan semakin membuat kau terluka." Ujar Veronica menepuk bahu keponakannya itu.
"Tapi kenapa Sean tidak mau berusaha mencintai ku Aunty? Tania kurang apa?" Tania mulai terisak, cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit.
"Cinta tidak bisa di paksa dan juga tidak ada yang kurang darimu. Hanya saja kau bukan jodoh Sean." Tania memeluk Auntynya itu, dia menangis terisak di dalam pelukan auntynya.
"Kau kuat Tania, jangan jadi orang jahat untuk memaksa seseorang untuk tetap bersama kita." Ujar Veronica yang tidak ingin keponakannya berubah jahat karna ambisi dirinya untuk memiliki Sean.
Kania bangun dari duduknya dan ikut memeluk keduanya. Dia juga ikut merasakan rasa sakit yang dialami cucunya itu. Bagaimanapun Kania pernah di posisi seperti cucunya, mencintai tanpa dicintai.
__ADS_1
~Bersambung~
Likenya jangan lupa ya๐