
Asya yang hidup penuh tekanan akhirnya hanya bisa menyimpan segala gertakan yang dia lakukan. Dia tak bisa melawan dengan cara apa pun. Sejak ponselnya dihancurkan oleh Fagan minggu lalu, Asya sama sekali tak pernah tahu kabar orang-orang terdekatnya.
Selain itu, Fagan juga mendikte banyak aturan pada Asya. Rencana kabur diam-diam juga dia urungkan karena semakin ketatnya penjagaan yang Fagan berikan di rumah itu. Mungkin saja Fagan sudah berasa Asya akan melarikan diri, sehingga dia mengantisipasi segalanya.
"Ini tas Tuan Fagan, bawa masuk." Abrisam memberi perintah pada Asya.
Asya menerima tas Fagan dan segera membawanya ke kamar. Sore itu Fagan baru saja kembali dari perusahaan. Dia mulai bekerja setelah seminggu libur untuk acara pernikahannya dengan Asya.
Hari ini, Asya nampak lain dari biasanya. Dia memoles wajahnya tipis agar terlihat segar. Entah apa maksudnya, tak seorangpun tahu.
"Tumben banget pake make-up?" tanya Fagan dalam hati.
Istri yang biasa tampil polos dengan beberapa luka lebam di pipi itu nampak segar kali ini. Asya sengaja memakai make-up karena siang tadi sempat ada tamu dari keluarga Maria. Sehingga wanita itu memaksa menantunya menutupi sisa lebam yang ada di wajahnya dengan polesan make-up.
"Ada sesuatu? Kenapa pakai make-up di rumah?" tanya Fagan dengan nada penasaran.
"Karena mamamu yang minta." Asya menjawab singkat.
"Mama?" tanya Fagan.
"Bibimu datang, dia takut dianggap sebagai mertua kejam kalo sampai bekas lebam di wajahmu terlihat." Asya menjelaskan detailnya.
Fagan terdiam, dia menatap dalam-dalam mata wanita yang berdiri tepat di depan matanya itu.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu heran sama aku karena berani mengumpat mamamu?" Asya menghardik.
Rasa penuh tekanan di dalam dadanya begitu menyesakkan. Dia yang terus saja mengalah merasa harus melakukan perlawanan untuk membentengi dirinya sendiri.
"Berani kamu, ya." Fagan membentak.
"Tentu saja, Tuan. Aku terlalu diam selama ini, saat kamu melempar hpku, aku tak berani melawan sama sekali. Kamu dan mamamu mengekangku dengan seribu aturan yang membuatku hampir gila. Padahal baru dia minggu aku tinggal di sini." Asya mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Jangan macam-macam. Aku bisa lakukan apa pun padamu," ancam Fagan.
"Aku tahu, Tuan. Bahkan Anda bisa menembak mati aku sekarang jika Anda mau. Aku tahu, Tuan Fagan Elvander." Asya tertawa dengan suara yang cukup lantang.
"Sudah gila dia." Fagan mengumpat.
Dengan berani dia menyinggung kekurangan Fagan saat itu, hingga akhirnya Asya ambruk ke ranjang. Gelak tawanya hilang dan berganti isak tangis. Entah apa yang terjadi pada Asya, suasana hatinya mudah sekali berubah. Sampai-sampai dalam hitungan detik saja, tawa menggelegar itu menjadi isak tangis.
"Urus dirimu sendiri, aku nggak peduli. Mau ketawa, mau nangis, aku nggak peduli lagi." Fagan membiarkan Asya menangis sendiri di atas ranjang.
* * *
"Benar ini perusahaan milik keluarga Elvander?" tanya seorang pria paruh baya pada seorang resepsionis cantik yang bertugas di lobi perusahaan.
"Benar, Pak. Maaf, Anda siapa?" tanya sangat resepsionis.
__ADS_1
"Ah, syukurlah." Pria itu mengelap peluh yang ada di dahinya. "Saya mau ketemu sama mantu saya, Fagan Elvander." Dia menjelaskan.
"Menantu?" tanya gadis cantik itu. "Apa maksud, Bapak?" desaknya penasaran.
Ayah Asya menjelaskan maksud kedatangannya ke perusahaan. Dia ingin bertemu dengan Fagan karena Asya tak bisa dihubungi selama seminggu terakhir. Rasa khawatir sebagai seorang ayah tentu saja mampu menggerakkan pria itu untuk melakukan apa saja.
"Maaf, Pak. Tuan Fagan tak mungkin menikah dengan gadis ... em ... maaf, Pak. Saya harus katakan jika Tuan Fagan tidak menikah dengan gadis kelas bawah," jelas resepsionis.
"Fagan menikahi putriku, Asya." Ayah Asya tak menyerah.
Resepsionis itu tak mau percaya begitu saja, sisi hatinya mengatakan mungkin saja benar, tapi sisi lainnya dia menolak untuk percaya. Sehingga dia memutuskan untuk menghubungi Fagan untuk memastikan.
"Maaf, Pak. Tuan Fagan tak mengenal Anda. Beliau mengatakan orang tua Asya tinggal di luar negeri sehingga tak mungkin ada di sini sekarang." Resepsionis itu menjelaskan.
"Tapi, Mbak." Ayah Asya masih mencoba.
"Beliau ingin Bapak pergi sekarang, Pak. Jangan bikin masalah di sini, Tuan Fagan sangat keras. Dia bisa lakukan apa pun yang dia inginkan," jelasnya lagi.
Ayah Asya menurut karena takut terjadi sesuatu pada putrinya itu. Dia berjalan keluar dengan menundukkan kepalanya. Rasa sedih mengelayut di hati ayah dia putri itu. Hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria berperawakan tinggi besar di depan pintu masuk.
"Bapak nggak papa?" tanyanya merasa bersalah.
Ayah Asya hanya menggelengkan kepala dan segera pergi.
__ADS_1
"Mirip sama Asya? Apa dia ...?" tanya Abrisam dalam hati.