
Asya menghabiskan separuh dari hari itu dengan bercengkrama bersama ayah dan adiknya. Walau sesekali ada pertanyaan yang membuat Asya harus menjawabnya dengan kebohongan, tapi Asya tak terlalu memikirkan hal itu. Baginya melihat wajah adik dan ayahnya sekarang saja sudah cukup membuatnya merasa lega.
"Sekalipun setelah ini aku mati ditangan suami atau mertuaku, tak akan ada penyesalan yang aku bawa," kata Asya dalam hati pasrah.
Mereka bicara panjang lebar, mulai dari kabar sampai dengan hal-hal yang terjadi setelah Asya pergi dengan suaminya.
"Bapak sampai kadang bingung, Nak. Mau nyari kamu kemana? Mau bilang apa sama tetangga yang terkadang nanyain," ujar ayah Asya.
"Pak, bukannya udah jelas. Kepergian Asya karena pernikahan yang Asya jalani. Bilang aja Asya ikut suaminya," jawabnya dengan enteng.
"Justru itu yang bikin Bapak nggak bisa jawab, Nak. Apa yang akan mereka katakan saat anak gadis Bapak ini menikah tapi tak ada yang diundang," jelasnya.
Asya terdiam, dia jadi ingat bagaimana dia dan Fagan menikah tanpa kehadiran anggota keluarganya. Mereka semua menutup segala akses masuk bagi keluarga Asya dalam pernikahan itu. Bahkan ayah dan adik Asya tahu jika Asya menikah setelah resepsi selesai dan Asya memberi kabar saat itu.
"Bapak tau, kan? Kaya apa ini semua di mulai? Semua kacau saat itu, menolak dan menentang pun rasanya nggak akan mungkin bisa aku lakuin. Jadi, sekarang Asya cuma bisa melakukan yang Asya bisa, Pak. Asya sudah menjadi bagian dari keluarga itu dengan segala resikonya." Asya menjelaskan tanpa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.
Ada perasaan yang tak bisa ayah Asya jelaskan saat itu. Sebagai orang tua, tentu saja ada ikatan batin yang terjadi antara dirinya dan sang putri. Hanya saja karena Asya menutup rapat keadaan itu, sehingga ayah Asya tak berpikir jauh tentang apa yang bisa terjadi.
"Mereka pasti melihatmu begitu pandai mengurus Tuan Fagan. Sehingga mereka dengan mudah bisa menerimamu?" tanya ayah Asya.
Asya hanya mengulas senyuman. Entah apa yang dia pikirkan, tapi mendengar simpulan dari sang ayah membuat Asya merasa lega. Ternyata ada alasan yang bisa membuat kakinya tetap berdiri menghadapi semuanya.
"Aku nggak berpikir kaya gitu, Mbak. Aku justru mikir sebaliknya," ujar Zalina mencoba jujur.
Asya menatap adiknya penuh dengan kekhawatiran, apa yang Zalina pikirkan adalah yang sebenarnya terjadi. Namun lagi-lagi Asya tak mau membuat keadaan menjadi kacau. Karena itu juga akan mempengaruhi kehidupannya sebagai menantu keluarga Elvander di sana.
"Jika mereka menganggapmu, pasti kamu sudah akan lalu lalang di media. Secara keluarga itu selalu jadi sorotan. Kenapa kamu masuk berita cuma pas nikah aja?" celetuk Zalina.
__ADS_1
"Kamu tahu seperti apa aku? Apa menurutmu aku pantas dipamerkan di media?" Asya menghardik keras. "Aku nggak mau jadi bahan tertawaan, Zalina. Begitulah cara suamiku melindungi istrinya," bela Asya pada Fagan.
Kalimat tegas dan keras itu membuat Zalina termenung, dia merasa bersalah karena sudah menghardik kakaknya dengan pendapat yang sangat buruk.
"Maaf, Mbak." Zalina meminta maaf setelah menyadari apa yang dia katakan ternyata menyakiti kakaknya. "Tapi, aku nggak percaya sama apa yang kamu ceritakan. Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dengan sengaja dari aku dan Bapak," lanjutnya dalam hati.
Gadis itu memiliki pemikiran sendiri yang tak sama seperti ayahnya. Beberapa gerak-gerik Asya membuat Zalina mengerti jika apa yang dia katakan tak semuanya benar. Hubungannya dengan Asya bukan hubungan teman yang sekedar sapa, Zalina merasa hubungan darah yang dia dan Asya miliki benar-benar bisa membuatnya memiliki pemikiran yang sekarang ini masih dia sembunyikan.
Hingga akhirnya ponsel Asya berdering, Fagan memberi kabar jika dia dan Abrisam akan segera sampai. Mereka sudah dalam perjalanan dan meminta Asya bersiap untuk dijemput.
"Sepertinya aku harus beberes," kata Asya.
"Suamimu menelepon?" tanya ayahnya.
"Iya, Pak. Dia akan segera sampai," jawab Asya tanpa melihat ke arah ayahnya.
Sebenarnya suasana hati Asya sudah mulai berubah setelah perdebatannya dengan Zalina dan juga setelah mendengar suara Fagan. Dia merasa akan kembali ke neraka dan meninggalkan surga yang dia rindukan itu.
Tak lama berselang, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah dan Asya mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Dia kenal benar jika itu adalah mobil suaminya. Dia segera bergegas keluar karena tak mau menunggu Fagan berteriak atau marah.
Dia keluar dengan langkah kaki cepat sambil membawa barang-barang yang sudah dia siapkan. Namun tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu rumah itu.
"Abrisam," lirih Asya menebak.
Dia segera membuka pintu rumah dan ternyata Fagan berada di balik pintu itu.
"Kenapa turun, Tu ... Tu ...," kata Asya khawatir.
__ADS_1
"Sayang, aku merindukanmu. Berpisah semalam saja membuatku segera ingin menjemputmu," sela Fagan saat Asya akan memanggilnya dengan sebutan Tuan. "Di mana ayah mertua?" tanyanya basa-basi.
Asya menjadi sangat bingung, dia tak mengerti dengan apa yang Fagan lakukan. Yang Asya ketahui dengan pasti adalah saat ini suaminya itu sedang bersandiwara.
"Boleh aku masuk?" tanya Fagan karena Asya tak kunjung beralih memberinya jalan.
"Te ... tentu saja," sahut Asya.
Saat Fagan masuk, Zalina dan ayahnya kemudian muncul dari dalam. Mereka nampak diam dan menunduk hormat pada Fagan. Mengingat saat mereka bertemu selalu dalam keadaan yang menegangkan.
"Apa kabar, Pak?" tanya Fagan dengan sangat ramah.
"Ah, ba ... baik, kabar kami baik, Tuan," jawab ayah Asya.
"Aku menantumu, Pak. Kenapa memanggilku dengan sebutan Tuan?" sahut Fagan.
"Ma ... maaf, Tu ... ah, maaf, Nak." Ayah Asya masih sangat gagu.
Fagan mengulas senyum yang sangat berbeda dia begitu manis dan sama sekali jauh dari kata mengerikan.
"Ada titipan dari mamaku. Dia sengaja menyiapkan ini saat aku mengatakan jika aku akan menjemput Asya hari ini," kata Fagan menunjukkan beberapa paper bag yang dia bawa.
Abrisam segera memberikannya pada Zalina. "Terima kasih, Tuan," sahut Zalina begitu menerima itu dari Fagan.
"Nggak perlu makasih, kok. Bukankah ini biasa terjadi saat seorang menantu mengunjungi mertuanya." Fagan berdalih.
Setelah basa-basi yang tak berarti, Fagan akhirnya membahas tentang perombankan rumah yang dia inginkan. Dia meminta Abrisam mengurus semuanya dan meyakinkan ayah Asya jika apa yang dia lakukan adalah sebuah kewajiban sebagai seorang menantu. Ayah Asya tak bisa menolak dan dia menurut setelah Fagan menyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Apa Nyonya Besar tahu tentang rencanamu ini, Tuan?" tanya Asya setelah mereka berada di dalam mobil untuk pulang.
"Kamu takut?" ujar Fagan dengan nada mengejek.