
Hari yang dinanti tiba, saat hari menjelang sore beberapa orang termasuk Isabelle datang ke rumah keluarga Elvander. Penata rias, designer, sampai dengan pengarah gaya sengaja Fagan datangkan untuk sang istri.
"Wah, wah, wah, apa ini?" tanya Cecilia pada ibunya.
"Hari ini pesta Elina digelar, Fagan akan membawa istri kampung annya itu ke sana dan mempermalukan dirinya sendiri," ejek Maria.
"Ah, sungguh? Kenapa Kakak masih saja terobsesi pada Elina? Bukankah itu sebuah hal yang menjijikan?" sahut Cecilia.
Maria melirik ke arah putrinya, sebenarnya dia tak setuju dengan pendapat itu. Bagi Maria, Elina juga seorang menantu idaman yang dia inginkan. Harta keluarga gadis itu dan juga kedudukan mereka sangat berharga bagi Maria.
Saat itu, Fagan belum kembali dari perusahaan. Dia masih mengurus beberapa hal penting yang tak bisa dia tunda. Sementara Lia memanggil Asya ke kamarnya untuk segera menemui orang-orang yang akan merubah penampilannya itu.
"Ini dia, bintang utamanya," kata Maria saat melihat Asya menuruni tangga.
Asya menghentikan langkah kakinya tanpa menurunkan pandangannya. Dia berani menatap wanita itu dengan sinar intimidasi yang luar biasa.
"Berani ya, kamu," celetuk Maria saat dia mendapati Asya memandangnya.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya sedang mempraktikkan apa yang sudah saya pelajari. Itung-itung latihan sebelum aku menemui mereka di pesta nanti," seloroh Asya.
Gadis itu segera melangkah pergi ke ruangan yang sudah Lia jelaskan tadi. Seharian Asya hanya di kamar atas perintah Fagan. Suaminya itu sengaja meminta Asya tetap di kamar untuk menghindari berbagai hal buruk yang bisa saja terjadi.
Setelah masuk ruangan itu, Asya mulai dipoles make-up elegan khusus untuk menghadiri pesta mantan tunangan suaminya itu. Make-up dengan look dewasa dan tegas itu membuat Asya nampak lebih elegan. Bibirnya yang berwarna merah darah itu, membuat Asya makin mempesona.
Sementara seorang penata rambut membuat rambut Asya nampak sangat cantik. Dengan beberapa aksen mutiara dan bunga di sana, menambah penampilan Asya menjadi semakin luar biasa. Rambut yang ditata mempesona itu menjadi nilai tambah untuk mendukung gaun yang sengaja di siapkan untuk acara itu.
"Sempurna," kata sang penata rias.
"Anda seharusnya jadi model," sahut yang lain.
__ADS_1
"Mana mungkin dia ingin jadi model, sementara jadi istri Fagan Elvander saja sudah bisa membuatnya membeli dunia dan seisinya," kata designer.
"Tutup mulut kalian," sentak Isabelle membela Asya.
Yang mereka katakan sama sekali tak sama dengan kenyataan yang ada. Kehidupan Asya sebagai menantu keluarga Elvander tak semulus dan tak seperti yang mereka pikirkan. Sebagai orang yang mengetahui segalanya, Isabelle merasa harus menghentikan apa yang sedang mereka bahas. Bagi Isabelle itu akan menyakiti Asya sebagai orang yang menderita berasa di tengah keluarga konglomerat itu.
"Apa sudah siap?" tanya Fagan setelah dia selesai bersiap bersama ajudannya.
"Dia sudah selesai, biar aku panggilkan," balas Isabelle.
Wanita itu berjalan ke arah ruangan tempat Asya bersiap, dia memberi komando agar Asya segera keluar. Saat Asya keluar sembari menyingsingkan sebelah gaunnya yang menyapu lantai itu, Fagan terperanjat. Istrinya itu terlihat sangat cantik dan bahkan sempurna. Tak hanya Fagan, Abrisam dan Maria yang juga ada di sana juga tersihir oleh tatap mata Asya dan juga penampilannya.
"Apa benar dia Asya? Ah, maaf, maksudku istri Tuan Muda?" Abrisam menjadi gagu.
"Kenapa? Kamu tak percaya?" desak Fagan.
"Berlebihan kamu, Sam. Biasa aja," dusta Maria.
Maria melengos dan beranjak ke kamar karena tak mau melihat Asya lagi.
"Kamu siap?" tanya Fagan.
Asya menganggukkan kepalanya dan menerima ukuran tangan Fagan. Tanpa disadari Fagan bersikap sangat manis pada Asya. Sekalipun banyak sekali masalah yang melanda mereka berdua selama ini, ternyata masih ada dorongan untuk menyukseskan malam ini. Terlebih Asya, dia ingin melakukan semua dengan penuh semangat agar bisa segera bertemu dengan orang tuanya.
"Ingat, Asya. Ini adalah jalanmu satu-satunya untukmu bisa bertemu bapakmu. Jangan siakan dan semua harus sempurna," kata Fagan mengingatkan.
"Tentu saja, tujuanku hanya itu. Setidaknya tak akan ada penyesalan jika sampai aku mati di sini," balas Asya ketus.
Perjalanan menuju pesta sangat hambar. Tak ada obrolan sama sekali. Mereka berdua sama-sama menatap ke arah kaca mobil tanpa saling peduli. Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Elina yang nampak sangat ramai karena memang pesta iti diadakan di taman rumah itu.
__ADS_1
"Aku hanya perlu berjuang dua jam kedepan, setelah itu aku akan memeluk erat bapakku," ujar Asya dan dia segera turun dari mobilnya.
Dari arah pintu lain, Fagan sudah menjalankan kursi rodanya ke arah Asya. Dia menggandeng tangan hangat Asya dan tangan lainnya mengendalikan laju kursi rodanya. Pria itu nampak gagah walau hanya duduk di kursi roda. Setelah tuxedo yang dia pakai begitu elegan dan mewah. Fagan segaja mempersiapkan semuanya dengan matang untuk memperlihatkan pada Elina jika dia bahagia.
"Itu istrinya Fagan?" tanya seorang wanita.
"Hm, mereka menikah beberapa minggu yang lalu. Masih pengantin baru, jadi wajar kalo masih mesra," balas yang lain.
Kerumunan para orang-orang tersohor tak terhindarkan saat malam semakin larut. Mereka semua berkumpul sembari membicarakan banyak hal. Begitu juga dengan Fagan, walau raganya terbatas, tapi dia masih memiliki pengaruh yang besar dalam lingkungan itu.
"Dia lebih cantik daripada saat kita bertemu di pesta pernikahanmu," canda seorang pria.
"Jangan kurang ajar, kamu. Dia istriku," balas Fagan.
"Apa kamu yang mengurus semua tentang suamimu?" tanya yang lain, "bukankah itu sangat sulit?" cecarnya tak menyerah.
Asya melirik ke arah suaminya yang nampak khawatir, dengan cepat dia membaca jika Fagan dengan jawaban apa yang akan Asya katakan di depan orang-orang itu.
"Bukankah ketika kamu berdiri di altar dan bersumlah di hadapan Tuhan artinya kalian akan siap dengan segala keadaannya?" Jawaban Asya begitu masuk akal. "Aku menikah dengan suamiku karena cinta, kami sama-sama jatuh cinta dan memutuskan untuk melangkah lebih serius. Kenyataan jika Fagan lumpuh, sudah aku ketahui sebelum kami memutuskan menikah. Jadi mau lumpuh atau tidak, aku rasa mengurus suami adalah tugas utama seorang istri." Asya menghardik tepat sasaran.
"Wow," lirih seorang teman Fagan.
"Kenapa? Istri kalian tak melakukan itu? Mereka sibuk dengan ponsel dan aplikasi belanja untuk menghabiskan uang yang kalian miliki? Bayangkan saja jika nanti kalian mengalami apa yang Fagan alami. Bukankah mereka akan pergi meninggalkan kalian?" Asya mengutuk dengan nada bicara yang kesal.
"Kok nyumpahin?" sahut yang lain.
"Bukan sumpah, tapi wajah kalian mengatakan jika istri-istri kalian bukan istri yang bisa memberikan layanan yang terbaik," jawab Asya.
"Layanan macam apa yang kamu maksud, Nyonya Muda Elvander?" Seorang teman dekat Fagan mendekat.
__ADS_1