
Kekhawatiran Fagan rupanya benar terjadi. Bahkan hatinya kini begitu merasa kesal pada ibunya mendapati kenyataan istrinya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Makan ini dan jangan biarkan perutmu kosong." Abrisam masuk kamar ruang rawat Asya dengan membawa beberapa paper bag berisi makanan dari sebuah restoran cepat saji.
Rupanya pria itu pergi ke restoran untuk membeli makanan setelah mengurus kamar perawatan Asya.
Melihat ajudannya begitu perhatian pada sang istri, Fagan merasa kesal. Hatinya yang panas karena sikap dan perlakuan Maria, ditambah dengan sikap Abrisam yang mengambil alih perhatian Asya.
"Perhatian sekali kamu," sindir Fagan.
"Bukan, Tuan. Dokter mengatakan perut Nyonya Muda kosong, jika menunggu jatah rumah sakit akan sangat lama. Saya keluar untuk membeli makanan," jawab Sam menjelaskan dengan cukup jelas.
Fagan tak menimpali, dia memilih diam dan tak menanggapi karena tak ingin membuat Asya menjadi tak nyaman.
"Biar aku bantu," kata Fagan dan mendekati istrinya.
Binar mata Asya terlihat jika dia sangat bahagia. Suami dingin dan kejam itu terlihat sekali sangat lemah dan tak berdaya. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, tapi kenyataannya memang Fagan dipenuhi dengan rasa bersalah.
"Anda baik-baik saja, Tuan? Kenapa terlihat sangat buruk?" bisik Asya.
Mata Fagan teralih dari makanan yang ada di depannya ke arah Asya. Dia melihat senyum tipis terukir di bibir tipisnya.
"Ada apa dengan bibirmu? Kenapa terlihat sangat manis?" goda Fagan.
Agaknya pria itu sengaja menggoda Asya agar Sam merasa tak suka. Fagan menangkap sinyal perhatian Sam adalah sesuatu yang berlebihan untuk Asya.
"Manis?" tanya Asya sembari mengusap lembut bibirnya.
Keningnya mengernyit dan dia menjadi sangat malu.
"Asya, makan dengan benar. Kamu sudah membuatku malu dengan apa yang terjadi hari ini. Jangan ulangi lagi," balas Fagan memberi peringatan.
Asya tak menggubris dan segera memasukkan potongan kentang ke dalam mulutnya. Bagaimana juga keadaannya memang berbeda sekarang. Sikap dan perhatian Fagan membuat Asya menjadi senang.
Asya makan dengan sangat lahap, dia tak ingin membuat Fagan kecewa dengan apa yang ada. Suaminya sudah beberapa kali melakukan protes karena perutnya yang keroncongan sejak di IGD tadi.
__ADS_1
Di sisi lain, Maria merasa khawatir. Fagan pergi meninggalkan rumah dengan kemarahan yang memuncak di dalam hatinya tadi. Kemarahan itu sempat diungkapkan pada wanita tua itu, hanya saja dengan segala bantahan Maria mampu mengelak.
Wanita itu tak yakin jika putranya itu percaya apa yang dia katakan. Sehingga kekhawatiran merasuk begitu dalam ke dalam hatinya.
"Kenapa, Ma?" tanya Cecilia.
"Ah, sesuatu terjadi hari ini," jawab Maria.
"Sesuatu? Apa menghebohkan? Kenapa Mama keliatan khawatir?" sesak Cecilia penuh dengan canda.
Maria menatap tajam ke arah putrinya itu. Dia kesal karena masalah serius yang sedang dia khawatirkan dianggap candaan.
"Ma, serius banget, sih?" desak Cecilia.
"Asya masuk rumah sakit," balas Maria menggantung.
Cecilia terkejut dengan berita yang ibunya sampaikan. Hanya saja memang karena tak tahu apa yang terjadi lebih dalam, Cecilia memilih untuk diam.
"Dia jatuh dari tangga saat membersihkan lemari tas mama. Dahinya terluka, Cecilia," jelas Maria.
"Fagan marah besar, dia mencaci habis Mama dan pergi begitu saja. Mama khawatir padanya," lanjut Maria.
"Kakak marah? Apa artinya Kakak membela istrinya itu?" desak Cecilia.
"Bukan hanya membela, dia bahkan membentak Mama," sahut Maria.
"Apa dia juga mengatakan jika Asya adalah istrinya?" tebak Cecilia.
Maria terkejut mendengar pertanyaan Cecilia. Tepat sekali rupanya, akhir-akhir ini, Fagan memang sering menyebjt Asya sebagai istrinya. Hal tersebut rupanya juga disadari oleh Cecilia.
"Benar, kan, Ma? Kakak sudah jatuh hati pada Asya, Ma. Seperti yang aku perkirakan." Cecilia menjelaskan.
"Nggak, Fagan-ku tak boleh jatuh cinta pada gadis kampungan itu," sahut Maria.
"Terlambat, Ma. Kakak sudah jatuh hati padanya. Ini tak terhindarkan lagi," Jawa Cecilia.
__ADS_1
Pernyataan Cecilia membuat Maria menjadi kesal. Putrinya itu membuat hati Maria semakin buruk. Dia yang tak ingin percaya apa pun mencoba membantah apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja semua menjadi semakin buruk.
"Rasa benci Kakak pada Asya mencapai titik akhirnya dan kini berbalik. Segala kesakitan yang pernah Kakak berikan pada Asya membuatnya ingin menembus segalanya sekarang ini," lanjut Cecilia.
"Enggak, Cecilia. Fagan tak boleh merasa seperti itu," elak Maria.
"Bersiaplah, Ma." Cecilia memberi peringatan.
Cecilia menyimpulkan jika kakak kandung laki-lakinya itu sudah jatuh hati pada Asya. Dia membaca semua dengan jelas beberapa hari terakhir ini. Fagan nampak tak peduli dengan dendam masa lalunya pada Elina lagi dan kini menjadi sangat fokus pada Asya yang senantiasa ada di sisinya.
Maria menatap kepergian Cecilia tanpa kata, dia merasa kalimat putrinya itu merusak segala sesuatu yang sedang hancur di dalam pikiran dan juga kegelisahannya. Maria sama sekali tak ingin melihat putranya itu membuka hati untuk Asya. Namun sepertinya apa yang Cecilia katakan mendekati sebuah kebenaran yang ada.
* * *
Matahari mulai tergelincir ke arah barat, kabut malam mulai turun menyelimuti hari buruk Asya yang membuatnya terdampar di sebuah ruang rawat inap rumah sakit itu. Matanya menatap ke arah jendela yang kainnya melambai diterpa angin sepoi senja itu. Bahkan dari jendela kamar VVIP itu terlihat semburat senja nan indah.
Ada Fagan di sisi lain dari ruangan itu, dia tengah berkutat dengan tablet berukuran sepuluh inch yang ada di tangannya. Seperti biasa, pria itu tengah menggunakan otaknya untuk fokus pada pekerjaan yang dia tinggalkan sejak tengah hari tadi.
"Permisi." Suara seorang perawat memecah keheningan yang ada. "Makan malam Nyonya Asya sudah siap. Silakan di makan dan segera minum obatnya," jelas perawat itu.
"Terima kasih, Sus." Asya menjawab lirih.
Sedangkan Fagan hanya melihat sebentar dan kembali fokus pada tablet yang dia pegang. Setelah perawat itu pergi, Asya berusaha untuk duduk sendiri. Dia bersusah payah melakukan itu karena kepalanya yang memang masih terasa pusing.
"Biar aku bantu," kata Sam yang tiba-tiba muncul di sisi Asya.
"Akh, aku baik-baik saja. Aku bisa sendiri," balas Asya.
Fokus Fagan terpecahkan, pria yang sedari tadi dia minta menunggu di luar tiba-tiba saja masuk dan menyentuh istrinya.
"Istrimu mau duduk, Tuan. Mengapa Tuan biarkan dia sendiri," tanya Abrisam seperti orang yang sedang mencari pembelaan.
"Bukankah kamu sudah di sana? Mengapa membuatku merasa kecil?" desak Fagan tak mau kalah.
Melihat dua pria yang menjaganya saling berdebat, tentu saja membuat Asya menjadi kesal. Dia memutar kedua bola matanya dan menarik kembali selimutnya.
__ADS_1
"Dia istrimu, Tuan, tapi kenapa kamu membuatnya merasa sendiri? Bukankah Anda menyewa kamar ini untuk menunjukkan jika Anda adalah pelindungnya?" tantang Abrisam.