
Fagan berhasil membuat Elina marah dan kebakaran jenggot atas apa yang dia dan Asya lakukan. Mereka berdua segera masuk mobil dan melaju pergi. Sementara Aksa mencoba menenangkan Elina yang masih menyumpah serapahi pasangan gila itu dengan berbagai umpatan.
"Sudahlah, ini bukan salah mereka. Ini salahmu sendiri yang mengundang mereka." Aksa justru menyalahkan Elina.
"Oh, jadi kamu salahin aku?" tanya Elina kasar.
"Ya, jelas. Ini salahmu, karena kamu egois dan berniat membuat keadaan menjadi panas, kamu undang mereka dan justru kamu yang dibuat kepanasan sama mereka." Aksa menjelaskan.
Elina tak berkutik. Dia diam seribu bahasa. Wanita itu tak menyangka jika Aksa akan menyalahkan apa yang dia perbuat. Baginya, mengundang Fagan adalah sebuah rencana yang harusnya menjadi panggungnya untuk menunjukkan jika dia temukan pria sempurna seperti Aksa dibanding Fagan yang sudah lumpuh. Namun kenyataan berkata lain, justru Fagan tampil sebagai pasangan sempurna dan membuat Elina kebakaran jenggot sepanjang pesta digelar.
* * *
"Kamu diam saja mentang-mentang tugasmu sudah selesai?" kata Fagan pada Asya.
Pria itu masih terbawa suasana manis dalam pesta sehingga perangainya masih sangat bersahabat bagi Asya. Dia tak pernah menunjukkan wajah hangat seperti itu sebelum malam ini, sehingga membuat Asya menjadi sangat gugup.
"Enggak, Tuan. Bukan begitu," balas Asya menanggapi pertanyaan yang Fagan berikan.
"Perjalanan ke rumahmu akan berlangsung dua jam. Sebelum berangkat, kita mampir dulu untuk mengganti pakaianmu. Nanti dikira aku jual kamu kalo kamu pulang pakai pakaian kaya gitu," jelas Fagan.
"Baik, Tuan." Asya menjawab singkat.
Mobil melaju membelah malam yang dingin itu dengan sangat cepat. Mereka segera sampai kediaman Elvander dan Asya segera turun. Namun saat itu Fagan tak turun, dia hanya menitipkan jasnya pada Asya untuk di bawa masuk.
"Anda tak turun, Tuan?" tanya Asya.
"Aku tunggu di sini, kamu harus pergi denganku," jelas Fagan.
Asya tak menyangka jika suaminya itu akan mengantarnya bertemu sang ayah. Bagi Asya itu sama sekali tak terpikirkan, dia kira hanya akan pergi bersama sopir atau ajudan pribadi Fagan untuk menemui ayahnya.
__ADS_1
"Ba ... baiklah, Tuan," sahut Asya dan dia segera berjalan masuk.
Gadis itu masuk dengan hati-hati, beruntung sudah sangat larut, sehingga nenek lampir dan putrinya itu sudah tidur. Asya bergegas ke kamarnya dan melucuti semua gaun pestanya dan mengganti dengan pakaian sederahana tapi bermerk yang memang sudah tersusun rapi di lemari yang Fagan siapkan.
Karena terburu-buru, Asya berniat membersihkan make-up dan juga tatanan rambutnya di mobil saja. Dia khawatir Fagan menunggu terlalu lama. Asya segera turun dengan langkah kaki panjangnya.
"Huh," erang Asya karena napasnya yang tersenggal itu.
Dia mengatur napasnya dan segera membuka pintu mobil. "Maaf, Tuan. Menunggu terlalu lama," katanya.
"Enggak, kok. Masuk dan kita berangkat," jawab Fagan.
"Apa ini? Kenapa dia lembut sekali? Kenapa dia sama sekali nggak menunjukkan taringnya? Bukankah dia seorang pria kejam yang kemarin menamparku? Menjambakku? Mendorongku?" batin Asya masih belum percaya.
Asya membuka tasnya dan menuang cairan pembersih make-up. Perlahan dia mengucapkan ke seluruh wajahnya dan membuat lukisan para perias mahal yang Fagan sewa itu menghilang dari wajahnya. Asya bisa dengan cepat melunturkan semuanya.
"Setidaknya pakai lagi lipstiknya, biar nggak pucet," kata Fagan.
"Aku tau, Tuan," jawab Asya dan segera memoles bibirnya dengan perona warna natural.
Mereka diam sejenak sampai pada akhirnya Asya beberapa kali menguap, Fagan yang menyadari hal itu tentu saja hanya mengulas senyuman.
"Kamu ngantuk? Jam berapa sekarang?" tanya Fagan memecah keheningan.
"Setengah sebelas, Tuan," balas sopir.
"Maaf, Tuan." Asya merasa bersalah.
Saking seringnya Fagan marah, hampir setiap protes yang Fagan lakukan dibalas Asya dengan kata maaf. Gadis itu takut menyulut kemarahan sang pria sehingga membuat keadaan menjadi buruk. Apalagi ini adalah perjalanan menuju rumah Asya, hal yang paling Asya inginkan selama ini. Sehingga Asya harus menjaga keadaan yang ada.
__ADS_1
"Aku mengantarmu sebagai suami, orang yang bertanggung jawab atas dirimu setelah kita menikah. Jadi kamu harus bersikap sebagai istriku yang baik di sana. Kamu jangan bersikap seperti putri ayahmu yang manja dan penuh rengekan," kata Fagan memberi peringatan.
"Aku mengerti, Tuan. Kompensasi yang saya terima jauh lebih besar dari yang saya harapkan." Asya mengerti jika suaminya itu sedang memberinya batas bicara. Dia tak mengizinkan Asya mengatakan apa yang dia alami di kediaman keluarga Elvander pada keluarganya.
"Kamu gadis yang pintar, pasti semua akan berjalan seperti yang tadi kamu lakukan di pesta, Asya." Fagan memberi pujian sebagai suap pada istrinya itu.
Asya hanya mengangguk lalu memindahkan pandangan matanya keluar jendela. Malam pekat terlihat jelas sehingga tak ada yang bisa dia nikmati selama perjalanan. Fagan juga sama, dia memandang ke arah lain dengan mulut terkunci setelah mengajukan syarat pada istrinya selama dia berada di rumah orang tuanya itu.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mobil memasuki gang sempit di mana rumah Asya berada. Karena sudah sangat larut, tak ada tanda-tanda penghuni rumah masih bangun, sehingga Asya turun dengan hati-hati.
"Tunggu, Asya." Fagan mencegah istrinya untuk segera turun.
Asya menaikkan kembali kaki yang sudah hampir menginjak tanah itu. Dia duduk dengan rapi lagi dan menghadap ke arah Fagan.
"Ini ponselmu, aku akan menghubungimu untuk bersiap saat besok aku akan menjemput. Kamu nggak boleh berikan nomor atau apa pun yang berhubungan denganmu pada mereka," jelas Fagan memberikan sebuah ponsel keluaran merk paling bagus dan tipe terbaru.
Asya ragu untuk menerima benda canggih itu, bukan tentang harga atau fungsinya, dia hanya enggan saja menerima sesuatu dari orang-orang yang dengan tega membuatnya hampir gila selama ini.
"Ambil, Asya." Fagan memaksa dan akhirnya Asya mengambilnya.
"Saya turun sekarang, Tuan." Asya berpamitan.
Fagan menganggukkan kepalanya dan segera Asya meraih pembuka pintu mobil itu. Dia bersiap untuk keluar, tapi lagi-lagi Fagan menahan tangan istrinya itu dengan cepat.
"Akh," rintih Asya terkejut. "Ada apa lagi, Tuan?" tanya Asya sembari menahan cengkeraman tangan Fagan.
"Ingat, Asya. Kamu adalah istriku, bersikaplah sebagai istri yang baik untuk suamimu," ujar Fagan dan kemudian dia menarik dagu gadis itu.
Sebuah ciuman Fagan daratkan untuk memberi peringatan keras pada Asya tentang siapa dirinya dan apa yang harus dia jaga. Fagan benar-benar bersikap manis dan berani malam ini. Hal itu membuat hati Asya menjadi terombang-ambing. Entah perasaan macam apa yang timbul di hatinya saat ini.
__ADS_1
"Kok, rasanya kaya kesetrum gini, ya?" batinnya sembari menikmati ciuman yang suaminya berikan.