
"Berapa jumlah yang kamu inginkan, Asya?" tanya Fagan.
Asya diam tak berkutik, jika pernikahannya dengan Fagan karena uang pasti Asya akan mudah memutuskan. Namun nyatanya ini semua bukan tentang uang. Asya diseret untuk mempertanggungjawabkan apa yang keluarga Elvander minta padanya.
"Asya," seru Fagan lagi.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan, Tuan? Keterlibatan macam apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tanya Asya ingin diperjelas.
"Aku ingin kamu hamil, Asya." Fagan mengungkapkan keinginan gila itu tanpa rasa malu.
"Hamil?" tiru Asya. "Saya pikir Anda mengerti dengan semua yang saya jelaskan tadi, Tuan. Saya pikir semua jelas dan membuat Anda bisa menyimpulkan yang terbaik untuk hidup Anda. Ternyata saya salah, Tuan," lanjut Asya kecewa.
Saat Fagan mengatakan jika dia cukup paham dan mengerti dengan konsep pernikahan yang Asya jelaskan tadi, Asya pikir Fagan benar-benar menjadikan itu sebagai bahan untuk menguatkan dirinya. Namun ternyata semua itu salah. Permintaan yang Fagan katakan tak membuat sesuatunya menjadi mudah. Justru semua semakin rumit dan semakin tak bisa dimengerti.
"Kamu juga meremehkan aku, bukan?" kata Fagan.
"Bukan meremehkan, Tuan. Sama sekali bukan tentang itu." Asya membantah.
"Kita tak akan pernah mencapai yang namanya keuntungan bersama dalam pernikahan ini, Asya. Pernikahan ini terjadi karena terpaksa dan desakan, jadi tak ada tuntutan untuk saling memahami dan mengerti agar kita saling menerima," jelas Fagan.
"Anda benar, Tuan. Jadi jangan pernah berpikir jika aku akan setuju untuk hamil anakmu," sela Asya tegas.
Fagan diam sejenak, dia mengerti apa yang Asya inginkan. Walau status mereka berdua adalah suami istri, tapi kenyataannya memang tak bisa dipungkiri jika mereka bersama tanpa rasa dan tanpa hati.
__ADS_1
"Bukan anakku, Asya. Aku akan membuatmu hamil anak pria lain, hanya saja dia akan aku akui sebagai anakku." Ide gila Fagan itu membuat Asya marah.
Itu sama artinya Fagan akan membuat Asya berhubungan badan dengan pria lain dan menjalani kehidupan yang lebih mengerikan dari yang sekarang ini dia jalani bersama suaminya itu.
"Mengerikan sekali hidup kalian, Tuan. Anda rela melakukan apa pun demi memenuhi keinginan orang di luar sana. Bahkan Anda tak segan memintaku berhubungan badan dengan pria lain hanya untuk membungkam mulut mereka yang mengatai Anda impoten dan tak akan bahagia dalam pernikahan ini," oceh Asya.
"Mereka penting, Asya. Mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dan membuat mereka berhenti mengumpat adalah hal yang utama." Fagan menjelaskan.
"Tidak, Tuan. Lakukan itu dengan wanita lain. Sekalipun saya datang karena sebuah paksaan, bukan berarti Anda bisa memperlakukan saya seperti yang Anda mau. Oke jika itu hanya tentang pukulan, tendangan dan tamparan. Tapi jika tentang menyerahkan tubuhku pada pria lain, saya tak akan pernah lakukan itu," jelas Asya tegas.
Mendengar penolakan yang Asya katakan, Fagan marah. Dia merasa apa yang dia inginkan ditolak oleh sang istri dan membuat kekecewaan yang begitu mendalam. Fagan tak memikirkan jika memuaskan apa yang para temannya itu hanya sebuah hal yang sia-sia saja.
"Kamu senang melihatku dicemooh dan dihina karena impoten, kan? Jadi kamu dengan mudah dan entengnya menolak ini semua." Fagan menantang Asya.
"Bukan, Tuan. Justru saya merasa sangat terluka mendengar Anda dihina dan dicemooh, tapi jalannya bukan seperti ini. Menuruti apa yang orang katakan, tak akan pernah ada habisnya, Tuan." Asya menjelaskan.
Kemarahan Fagan belum berhenti, dari luar pintu, Asya mendengar Fagan membating segala sesuatu yang ada di dalam kamar mandi. Terdengar suara barang-barang yang pecah dan juga jatuh secara bersamaan. Hingga hal itu terdengar oleh Maria dan dia datang untuk memastikan.
"Apa yang terjadi, Asya? Di mana Fagan?" desak Maria.
"Tuan Muda di dalam kamar mandi, Nyonya." Asya menjawab singkat.
"Apa yang kamu lakukan sampai dia mengamuk seperti itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Tak ada, Nyonya. Saya tak lakukan apa pun. Kalaupun ada, ini adalah urusan rumah tangga saya dengan Tuan Fagan," jelas Asya.
Sebuah tamparan keras melesat ke pipi Asya. Dia merasa bantahan yang Asya katakan itu menghina dirinya sebagai ibu dari Fagan. Maria tak mau Asya dan Fagan menyimpan rahasia sekalipun itu masalah rumah tangga keduanya.
"Berani banget ya kamu, Asya? Kenapa kamu buat aku marah setiap kali bicara sama kamu? Apa kamu nggak kapok?" tanya Maria ketus.
"Saya seorang istri, Nyonya. Sudah menjadi kewajiban saya menjaga aib dan masalah rumah tangga saya sekalipun Anda adalah ibu dari Tuan Fagan," balas Asya.
"Alah, nggak usah sok bener kamu, Asya. Kamu ini bukan siapa-siapa. Kalau Fagan disuruh milih, dia juga pasti milih aku, kok," sahut Maria.
Asya menyebabkan rambutnya yang menutupi separuh dari wajahnya. Ini adalah kali pertama dia mendapatkan pukulan setelah beberapa hari terakhir terbebas dari kekerasan itu.
"Itu urusan Tuan Fagan, tapi jika Anda bertanya pada saya, ini murni keputusan dan hak saya, Nyonya." Asya masih berani membantah.
Mendengar menantunya yang terus berkelit, Maria menyerah dan memasrahkan semua yang terjadi pada Asya.
"Oke, jika kamu bersikeras jika ini adalah masalah rumah tangga kalian, selesaikan dan keluar dari kamar ini dalam keadaan selamat. Jangan sampai kamu menyesal mengatakan jika semua ini adalah urusanmu dan Fagan." Maria memberikan peringatan.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan jamin jika tak akan ada penyesalan apa pun yang terjadi atas hari ini," jawab Asya.
Maria berlalu dengan rasa penolakan yang besar. Dia tak mendapatkan apa yang dia dapatkan. Walau pada dasarnya Maria juga penasaran pada apa yang terjadi, tapi dia tak bisa memaksa. Maria memperhitungkan harga dirinya dan ingin membuat pembuktian. Hal semacam apa yang akan Asya lakukan untuk menghentikan amukan Fagan dan memperbaiki semuanya seperti yang dia katakan.
"Sejak kapan aku punya kemampuan untuk mangakui jika ini adalah masalah rumah tanggaku dengan Tuan Fagan? Sejak kapan aku menganggap jika ini adalah hubungan suami istri?" tanya Asya dalam dirinya.
__ADS_1
Sejak menikah dan pindah ke rumah itu, Asya sama sekali tak pernah menempatkan dirinya sebagai istri dari Fagan Elvander. Dia hanya hidup dan bernapas di sana sebagai orang asing yang dipaksa mengurus segala sesuatu tentang Fagan dan menjadi bahan pelampiasan atas segala masalah yang ada. Namun saat dia tertekan, Asya bisa mengatakan dengan sangat lancar jika yang terjadi antara dirinya dan Fagan adalah urusan mereka berdua sebagain suami istri dan Maria tak berhak ikut campur.
"Aku istrinya?" tanya Asya lagi