
"Jangan dekatkan mulutmu ke meja." Isabelle nampak mengertak Asya yang sedang belajar table manners.
Gadis itu sudah sangat tertekan sedari tadi. Guru yang digembar-gemborkan adalah seorang terbaik itu ternyata membuat Asya sangat tidak nyaman. Apalagi dia berani memegang dan mendorong kepala Asya tadi. Bukan hanya itu, dia menusuk-nusuk kaki Asya juga saat dia berlatih berjalan.
"Bawa makanannya ke dekat mulut tanpa tercecer, lakukan perlahan dan elegan," perintah Isabelle lagi.
Asya melakukan sebisanya, tapi memang karena belum biasa pasti akan sulit. Dia biasa hidup tanpa aturan di meja makan. Sehingga dia melakukan sebisa dan semampunya.
"Bukan begitu," sentak Isabelle lagi.
Karena merasa kesal, Asya membanting sendoknya dan beranjak dari ruang makan. Dia pergi menaiki tangga untuk kembali ke kamar. Dia lelah dan tak ingin melanjutkan apa yang sedang dia pelajari.
"Ada apa, Isabelle?" tanya Maria yang mendengar suara sendok di banting di atas piring.
"Dia frustasi, Nyonya. Aku baru mengajarkan 25% dari yang Tuan Fagan minta, tapi dia sudah menyerah," jelas Isabelle.
"Biasa, gadis yang tak biasa hidup dengan aturan dan tata krama. Dia biasa urakan dan nggak terarah. Macem-macem aja Fagan pakai kursus ini dia," sahut Maria.
Isabelle tak menyahut, dia tak mau menambah masalah lagi. Hanya saja dia langsung menghubungi Fagan untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi.
"Apa?" tanya Fagan terkejut saat Isabelle melaporkan jika Asya frustasi dan memilih meninggal kelas kursusnya.
"Iya, Tuan. Dia menyerah," jawab Isabelle.
__ADS_1
"Kamu boleh pulang, aku akan bicara sama Asya setelah pulang nanti," jelas Fagan.
Sesuai dengan perintah pria itu, Isabelle pulang meninggalkan Asya yang seharusnya menjadi bulan-bulanan ketegasannya sebagai mentor kursus itu.
"Heh, kamu tau nggak berapa yang harus Fagan bayar untuk mentor itu? Bisa-bisanya kabur seenak jidat," omel Maria pada Asya.
Gadis yang awalnya berbaring di ranjang dengan santai itu terperanjat dan segera bangun. Dia berdiri sembari meremat tangannya tak beraturan. Dia gugup dan kaget secara bersamaan.
"Dia adalah mentor paling mahal karena dia yang terbaik. Fagan menyewa seorang mentor untuk gadis kampung kaya kamu dengan harga yang sama dengannya saat mementori Cecilia. Jangan main-main kamu." Madia masih mencecarnya.
"Orang miskin emang gitu, Mah. Dikasih hati minta jantung. Hidup numpang, dikasihani, diberi fasilitas, malah protes. Susah emang kalo orang nggak ngerti," kata Cecilia ikut campur.
Asya yang sudah frustasi hanya bisa diam. Dia hanya memendam segalanya dalam hati. Asya sudah terlalu hafal pada keduanya yang selalu saja menekan tanpa rasa kasihan. Walau pada akhirnya hanya akan ada luka di dalam hati wanita itu tanpa tahu kapan bisa sembuh.
"Di mana Asya?" tanya Fagan.
"Dia di halaman belakang. Aku suruh potong rumput, aku sedang ingin makan masakan Lia untuk makan malam, jadi aku tugaskan dia buat pekerjaan yang lain," ujar Maria.
"Sam, panggilkan Asya." Fagan memberi perintah.
Abrisam segera menuju halaman belakang, sedang satu asisten lainnya membantu Fagan untuk ke kamarnya. Fagan dipenuhi rasa ingin tahu apa yang sebenarnya Asya inginkan terkaiy kursus yang dia berikan. Kenapa Asya membuat Isabella kewalahan hingga akhirnya kursus harus berhenti di tengah jalan.
"Asya." Abrisam memanggil Asya lembut.
__ADS_1
Hatinya yang begitu kosong dan gelap, menjadi cerah karena ada yang memanggil namanya tanpa sentakan dan teriakan. Bagi Asya ini adalah hal yang sangat dirindukan. Gadis yang sedang duduk di rerumputan itu segera menengadahkan kepalanya. Dia melihat Abrisam dengan dua mata bulatnya yang berwarna coklat.
Seketika, bayangan pria tua yang ada di perusahaan beberapa hari lalu itu terlintas di otak Abrisam. Wajah mirip Asya dengan pria itu benar-benar membekas di ingatan Abrisam.
"Nggak salah lagi," katanya bergumam.
"Apanya yang nggak salah? Aku emang nggak pernah salah, Sam. Cuma mereka aja yang terus menyalahkan aku," timpal Asya kecut.
Seketika Abrisam terperanjat, dia kaget dengan apa yang Asya katakan.
"Ah, bukan-bukan." Abrisam buru-buru menepis. "Tuan Muda memanggilmu, cepat masuk." Pesan dari Fagan segera sampai pada Asya.
"Kenapa kamu harus sampaikan itu padaku? Nggak ada pilihan buat menolak perintah itu?" Asya protes.
"Apa maksudmu?" desak Abrisam tak mengerti.
"Perintahnya menghadap akan selalu jadi sebuah pukulan bagiku, entah di wajah, punggung, atau kaki, pasti akan meninggalkan bekas luka yang menyakitkan." Asta menjelaskan detail.
"Akh, aku harus apa? Aku juga tak bisa menolak," balas Abrisam.
"Kamu hanya perlu liat aku kesakitan dan menahan air mata aja. Kan, kamu anak buah Tuan Kejam itu." Asya mengejek Abrisam.
Dia berlalu meninggalkan pria itu, sedang Abrisam hanya bisa menatap Asya seakan dia akan berangkat menuju medan perang.
__ADS_1