
"Dokter sedang menangani Nyonya Muda, Tuan." Abrisam menjawab dengan menundukkan kepalanya.
Pertama kali bagi pria itu menyebut Asya sebagai nyonya besar. Mengingat selama ini Fagan tak masalah jika Sam memanggil Asya dengan namanya saja tanpa embel-embel nyonya muda.
Fagan mengalihkan pandangan dan mendekati pintu masuk ruang penanganan Asya. Wajahnya nampak gusar dan segala yang ada dipikirannya begitu berkecamuk. Dia masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Asya. Dia datang dan mendapati istrinya itu sudah bersimbah darah tanpa tahu apa yang terjadi.
"Apa Anda menanyakan pada Nyonya Besar tentang apa yang terjadi ini, Tuan?" tanya Sam.
Fagan melirim ke arah ajudannya yang mengajukan pertanyaan itu. Kemudian dia menghembuskan napas kasarnya tanpa mengetahui jawaban apa yang akan dia berikan.
"Apa ini ada unsur kesengajaan?" desak Sam curiga.
Mengingat segala kejadian yang selama ini terjadi, Asya adalah orang yang paling menderita jika berurusan dengan Maria. Segala perlakuan buruk dan juga kejadian yang ada, ada benarnya juga jika Sam menaruh curiga.
"Jangan sembarangan bicara kamu, ini nggak seperti yang kamu pikirkan," ujar Fagan membela ibunya.
"Ah, tentu saja dia menutupi sekalipun ini adalah sebuah kesengajaan," batin Sam tak percaya.
Kedua pria itu dengan kemelut pikiran masing-masing. Melihat Asya sengsara sampai masuk rumah sakit, agaknya membuat Abrisam merasa perlakuan keluarga itu pada sang menantu sudah berlebihan.
"Kesalahan apa yang dia perbuat? Dia menerima hal buruk ini secara tak adil," ujar Abrisam.
Mendengar rutukan sang ajudan, Fagan menatap sinis ke arah Sam. Dia merasa ajudannya itu menyindir dirinya yang membuat segala hal buruk itu terjadi pada Asya.
"Apa ini adil untuknya? Bukankah ini sudah melebihi batas? Anda bisa membunuhnya, Tuan." Sam mengutarakan kekesalannya.
"Mengapa dia menjadi sangat penting bagimu? Mengapa mendadak kamu berdiri di kubu Asya?" hardik Fagan.
"Bukan berubah menjadi penting dan membela, Tuan. Ini sudah lebih dari cukup, segala lebam yang saya lihat selama ini, saya pikir sudah selesai. Ternyata justru sebuah hal yang lebih mengerikan yang terjadi," balas Abrisam.
"Diam, Sam!" seru Fagan menahan segala kalimat yang ingin diungkapkan oleh Abrisam. "Asya urusanku sekarang, termasuk keselamatan dan juga kebahagiaannya," lanjut Fagan dengan tatap mata yang cukup tegas.
"Oh, mendadak sekali, Tuan?" celetuk Abrisam. "Sejak kapan Anda menjadi malaikat pelindungnya? Bukankah selama ini ...?" katanya meneruskan.
__ADS_1
"Cukup, Sam. Sejak kapan juga kamu berani membantah dan memperlakukan atasanmu semaumu seperti sekarang?" sela Fagan memotong penjelasan yang sedang diutarakan Abrisam.
Di tengah debat kusir keduanya, pintu ruang penanganan terbuka. Terlihat seorang dokter dengan jas putihnya keluar sembari membuka masker yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Keluarga Nyonya Asya?" tanya dokter itu.
"Saya suaminya," jawab Fagan dengan sangat mantap dan segera melajukan kursi rodanya mendekati pintu. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" cecar Fagan.
"Nyonya Asya baik-baik saja, Tuan. Untung tak terjadi sesuatu yang fatal dengan kepala ataupun tubuhnya." Fakta jika tak terjadi sesuatu yang serius membuat Fagan bernapas lega.
"Syukurlah, Ya Tuhan," seloroh Abrisam senang.
"Nyonya Asya sudah sadarkan diri. Dia mungkin akan merasa tubuhnya sakit karena jatuh saja, hanya dahinya harus dijahit untuk menghentikan perdarahannya," jelas dokter.
Dokter menjelaskan dengan detail dan menganggap apa yang terjadi pada Asya bukan hal yang serius.
"Apa sudah dipastikan semuanya, Dok? Saya tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istriku," jelas Fagan mendesak.
"Kami pastikan semua baik-baik saja, Tuan. Beliau pingsan mungkin karena kondisi tubuhnya saja yang lemah. Kemungkinan besar Nyonya Asya tak makan sejak pagi, sehingga sepanjang penanganannya kami beberapa kali mendengar suara perutnya yang lapar. Setelah penanganannya selesai, Nyonya Asya harus segera makan," lanjut dokter.
"Astaga, Asya." Fagan bergumam dalam hati sembari memegangi kepalanya. Dia malu bukan kepalang dengan penjelasan yang ada.
"Saya permisi, Tuan. Setelah semua selesai, silakan masuk untuk melihat istri Anda." Dokter pamit undur diri.
"Terima kasih, Dok." Fagan menimpali dan segera menjauh dari depan pintu. Dia menunggu Asya selesai di tangani dengan sesekali menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir jika perut Asya melakukan unjuk rasa sepanjang dokter menanganinya.
"Memalukan sekali, sekelas menantu keluarga Elvander bahkan perutnya saja keroncongan," ujar Abrisam.
"Diam kamu," sentak Fagan.
Entah apa yang terjadi, hari itu Fagan dan Abrisam tak memiliki pendapat yang sama. Abrisam merasa kesal pada Fagan karena hal ini sampai terjadi, sedangkan Fagan kesal karena ajudan yang sslalu tunduk dan takluk padanya itu justru terus membuatnya terpojok. Apalagi Sam menunjukkan kekhawatiran yang tak kalah dari yang Fagan tunjukkan.
Mata tegas Fagan membuat Sam sama sekali tak gentar. Saat perawat mengomandokan jika penanganan sudah selesai, Sam juga turut masuk untuk memastikan Asya dalam keadaan baik-baik saja seperti yang dokter jelaskan.
__ADS_1
"Wah, kompak sekali mereka. Bahkan kalau nggak tau siapa suami wanita itu sebenarnya mungkin bisa terkecoh, mana suaminya dan mana ajudannya," gumam seorang perawat melihat kekompakan Fagan dan Abrisam.
"Asya, kamu baik-baik aja?" tanya Fagan dan Abrisam bersamaan.
Asya yang sudah pulih kesadarannya hanya menganggukkan kepala. Dia merasa pusing dan perih di sekitar dahinya itu. Luka jahitan itu membuat Asya meringis kesakitan. Fagan mengarahkan pandangan ke arah Abrisam karena dia juga nampak bersemangat untuk mengetahui keadaan Asya.
"Seharusnya Tuan nggak perlu repot-repot ke sini, aku baik-baik aja, kok." Asya protes.
"Sam, minta perawat membawa Asya ke ruang rawat VVIP. Dia harus istirahat," perintah Fagan.
"Tak perlu, Tuan. Kita pulang saja," sela Asya.
"Jangan membantah, Asya." Fagan memotong penolakan yang Asya lakukan. "Pergi, Sam." Mata Fagan menghardik lebih mengerikan pada ajudannya itu dan Sam tak bisa menolak apa yang Fagan perintahkan.
Dia segera berjalan menuju resepsionis dan meminta sebuah ruangan kelas paling atas di rumah sakit itu yang akan digunakan Asya untuk beristirahat.
"Tuan, seharusnya nggak perlu seperti ini. Saya baik-baik saja. Setelah istirahat sebentar pasti saya akan pulih," ujar Asya.
"Apa yang kamu lakukan sejak pagi? Bagaimana bisa kamu belum makan sejak pagi?" desak Fagan.
"Tu ... Tuan? Apa maksudnya?" tanya Asya tak mengerti.
"Dokter mengatakan jika perutmu berbunyi sepanjang penanganan. Kamu pingsan karena kelaparan," jelas Fagan.
"Astaga, Tuan. Bukan seperti itu, sungguh." Asya mengelak dengan sangat malu.
"Cukup, Asya. Setelah dipindahkan ke ruang inap kamu harus makan dengan baik. Aku nggak mau tau," balas Fagan.
"Bawa saya keluar dari rumah sakit saja, Tuan. Saya akan makan dengan baik setelah keluar," mohon Asya.
"Enggak, Asya. Kamu harus istirahat di rumah sakit." Fagan menolak.
"Tapi, bagaimana dengan Nyonya Besar, Tuan?" tanya Asya khawatir.
__ADS_1
"Biar aku yang urus," balas Fagan meyakinkan.