
Pertanyaan Fagan sepertinya membuat Asya menjadi canggung. Sisi lain dari pria itu, baru saja dia nikmati. Walau hanya sebatas sandiwara dan juga sebatas kepura-puraan. Rasa di hati Asya seperti dibuai karena memang selama ini perlakukan pria itu padanya tak pernah baik.
"Kamu tak perlu takut, Asya. Mama tak tahu apa pun asal kamu diam," ujar Fagan.
Asya hanya diam, dia tak mau menambah daftar panjang perselisihannya dengan sang ibu mertua. Tak membuat keonaran saja sudah cukup membuat hidupnya terasa sulit, apalagi jika ada sebuah hal yang membuat segala sesuatunya menjadi semakin buruk. Pasti semua akan menjadi sulit.
Fagan memandang canggung ke arah istrinya. Dia merasa sudah terlalu banyak memberi Asya tekanan. Hadiah pulang ke rumah orang tuanya saja pasti tak akan cukup.
"Apa ini membuatmu terbebani?" tanya Fagan.
"Sejujurnya iya, Tuan. Diizinkan pulang beberapa jam saja sudah cukup membuatku merasa senang. Walau pada akhirnya aku harus terus mengeluarkan kebohongan demi kebohongan yang lebih besar lagi saat mereka mencurigai sesuatu." Asya menjelaskan.
"Kamu berbohong demi menjadi istri yang baik?" tanya Fagan yang sudah mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu.
"Yang terpenting sekarang, sudah tak ada hal yang membuatku berat untuk melakukan segalanya. Sekalipun setelah ini aku mati, aku tak akan meninggalkan penyesalan apa pun. Setidaknya aku melihat mereka setelah jalan hidup yang Tuan pilihkan untukku sekarang," jelas Asya tentang apa yang menjadi tujuan utamanya diizinkan pulang.
Pernyataan panjang itu membuat Fagan semakin mengerti. Asya bisa dia manfaatkan karena dia juga bukan gadis yang bodoh. Selama ini Fagan memang memupuk dendam yang tak terkira pada Elina. Sehingga dia bisa melakukan apa pun untuk membuat Elina merasa menyesal atas apa yang dia lakukan.
"Seburuk itukah keadaanmu?" sesak Fagan.
"Kenapa Tuan bertanya padaku? Bukankah Tuan adalah saksi kunci dari keadaan yang aku jalani selama ini?" ujar Asya.
Tak bisa dipungkiri jika dalam sebulan pernikahan itu entah sudah berapa kali Fagan mengamuk dan melukai Asya. Sudah berapa kali Maria membuat Asya pingsan, sehingga jelas sekali Fagan pasti mengerti apa yang terjadi selama ini dalam hidup mereka.
__ADS_1
"Aku punya tawaran penting untukmu, Asya. Bukan hanya menjenguk, bahkan aku akan janjikan kebebasanmu jika kamu bisa melakukan semua dengan baik," tantang Fagan.
"Tidak, Tuan. Aku sudah cukup tahu apa yang akan terjadi jika aku meminta dan berharap lebih dari ini. Menghadapi orang-orang gila seperti di pesta kemarin saja sudah cukup membuatku ingin muntah. Apalagi yang akan Anda minta dengan imbalan sebesar itu?" Asya menolak karena dia tahu jika jalan yang akan Fagan pilih pasti lebih terjal daripada kursus yang selama ini dia jalani dan praktik langsung bertemu para kolega dan juga tekan bisnis Fagan di pesta itu.
Sepertinya Asya sudah trauma dengan sandiwara yang dia lakukan saat itu. Alasan utamanya bukan tak bisa melakukannya, tapi lebih pada hatinya yang tak bisa dikendalikan setelah beberapa jam dekat dengan Fagan. Walau hanya bisa duduk di kursi roda dan mengeluarkan kalimat perintah, tak bisa dipungkiri jika kewibawaan dan ketampanan Fagan begitu memikat. Sekalipun Asya sudah sering mendapat perlakuan karas, tapi hatinya tak memungkiri jika dia juga terpikat.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bukanlah kamu selalu bersikeras dengan kebebasan setelah mendapatkan banyak sekali perlakuan buruk dariku?" desak Fagan.
"Tuan, siapa saya? Kenapa Anda menekan saya dengan tawaran seperti ini? Bukankah saya cukup mempertanggungjawabkan semua yang Anda tuntut kan saat itu? Tujuan utamanya sudah selesai sejak pesta pernikahan itu selesai. Kenapa sekarang Anda dan Nyonya Besar masih menahan saya?" Asya meluapkan apa yang dia rasakan.
Fagan tersulut emosi dan dengan cepat melayangkan tamparan keras ke pipi sang istri.
"Anda kembali, Tuan. Akhirnya Anda kembali," ujar Asya mendapati perangai suaminya yang hilang sejak mereka berangkat ke pesta Elina.
"Bukan berani, Tuan. Saya hanya ingin kembali seperti apa adanya. Saya terbiasa dengan Anda yang keras dan kasar, saya biasa dengan perlakuan buruk dan tak bersahabat selama ini. Sehingga saat Anda berlaku baik dan banyak memberi iming-iming, tentu saja saya harus waspada." Asya menjelaskan.
"Brengsek kamu, Asya. Kenapa kamu membuat semua menjadi keruh. Bukankah seharusnya kamu senang dengan apa yang aku tawarkan." Fagan mengomel.
Asya mengalihkan pandagannya. Dia sama sekali tak menganggap tamparan yang Fagan berikan adalah sesuatu yang menyakitkan. Jangankan hanya tamparan, bahkan jika dia diperintahkan menginjak pecahan kaca sekali pun saat ini, pasti tak akan terasa sakit sama sekali.
"Kamu bahkan sudah kebal, Asya. Kamu tak menunjukkan raut kesakitan sama sekali." Abrisam hanya bisa bicara dalam hati.
Pria itu menjadi saksi hidup bagaimana Fagan terus memberikan penyiksaan secara lahir dan batin pada istrinya sendiri. Dia tak bisa lakukan apa pun yang bisa membantu Asya. Bagi Abrisam, diam adalah yang terbaik bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk Asya.
__ADS_1
"Apa itu sakit?" tanya Fagan saat melihat Asya mengalihkan pandangan.
"Bukan apa-apa. Ini sama sekali tak terasa sakit," jelas Asya tanpa melihat ke arah suaminya.
Fagan menatap nanar ke arah wanita yang baru saja mendapatkan tamparan telaknya itu. Ada penyesalan di dalam hatinya karena dia tak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Sampai mobil masuk ke pekarangan rumah, tak ada lagi yang mereka saling katakan. Hingga saat mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah, Asya tetap tak melihat ke arah Fagan.
"Wah, Nyonya Muda sudah kembali. Bagaimana malammu di sana? Pasti lebih baik daripada di sini, kan?" celetuk Maria yang memang sudah menunggu menantunya itu kembali.
"Asya capek, Ma. Biarkan dia istirahat," sahut Fagan membela.
"Nggak bisa, Fagan. Apa sopan, menantu yang baru saja sampai langsung istirahat saat jam makan malam hampir tiba?" ujar Maria.
"Saya akan ke dapur setelah mengganti baju, Nyonya." Asya menimpali.
"Nggak cukup ganti baju, Asya. Kamu harus mandi bersih dulu. Bisa saja kamu membawa penyakit dari rumah usang itu." Maria dengan sengaja menghina menantunya.
"Cukup, Ma." Fagan melerai.
Mulut Maria memang sudah sangat gatal untuk mencaci maki Asya. Dia merasa ada yang kurang jika seharian belum mengomel dan memaki habis menantunya itu.
"Rumah ini jauh lebih berpenyakit, Nyonya. Lihat saja, banyak sekali lalat yang hinggap di antara rumah ini," sebut Asya dan dia berlalu.
"Kurang ajar kamu, kamu yang bawa lalat-lalat itu masuk, Asya. Kamu yang buat rumah ini tercium seperti bau bangkai dan mengundang mereka ke sini," teriak Maria.
__ADS_1
Suara melengking panjang itu mengiringi langkah kaki Asya menuju kamarnya. Dia bersikap tak peduli dan tak ingin menambah daftar panjang perselisihan mertua dan menantu itu.