
Asya mengatakan dengan jelas jika ibu Fagan yang melarang pembantu untuk membereskan kamar mandi. Fagan menjadi marah dan merasa disepelekan.
"Mama," teriak Fagan dari kamar.
Panggilan Fagan itu didengar langsung oleh Maria. Dengan sedikit penasaran dan rasa kesalnya, Maria segera menuju kamar sang putra.
"Ada apa, Fagan?" tanya Maria lirih.
"Kenapa pembantu yang akan membereskan kamar mandiku Mama cegag buat naik?" tanya Fagan ketus.
Maria langsung melirik ke arah Asya. Dia sudah menduga jika Asya mengadu pada suaminya. Sehingga protes yang Fagan lakukan sampai ke telinganya dengan begitu cepat.
"Apaan? Berani banget ngadu," lirih Maria kesal.
"Udah, Ma. Jangan bikin masalah. Apa sih, salah Asya? Aku kok yang minta dia panggil pembantu buat beresin kamar mandi," jelas Fagan.
"Itu tugasnya, Fagan. Kenapa harus minta pembantu? Lagian ini udah waktunya mereka istirahat," balas Maria beralasan.
"Ma, sejak kapan Mama peduli sama jam kerja mereka? Bukankah selama ini mereka bekerja sesuai dengan apa yang kita butuhkan?" desak Fagan tak menerima alasan yang ibunya katakan.
Maria kehabisan kata, alasannya dibantah oleh Fagan yang memilih untuk membela istrinya.
"Asya, kamu senang liat ini? Kamu buat putraku membantahku dengan sangat berani," timpal Maria.
Fagan menggelengkan kepalanya, dia bingung dengan situasi yang terjadi. Bagaimana juga apa yang dia perintahkan pada Asya hanya sebuah hal remeh. Namun justru menjadi masalah besar saat ibunya ikut campur seperti sekarang.
"Apa yang terjadi sama kamu, Fagan? Kenapa kamu bersikap seperti ini sama Mama?" tanya Maria.
"Udah, Ma. Cukup. Aku bilang cukup," sela Fagan lagi.
"Tuan, sudah malam. Biarkan saja kamar mandinya seperti itu. Besok pagi saja dibereskan." Asya memberi usulan.
__ADS_1
Fagan menatap ke arah Asya dengan sedikit sayu, hatinya sudah cukup melunak jika Asya bicara padanya. Sehingga seperti orang yang kena sihir, Fagan menurut pada Asya.
"Baiklah," balas Fagan.
Setelah semua dianggap selesai, ibu Fagan pun keluar dari kamar itu. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan karena kesal dia berlalu dan membuat mata Asya dan Fagan tak teralihkan.
"Biar saya bantu, Tuan." Asya mulai mendekati Fagan.
Tanpa kata, Fagan menurut dan mengikuti aba-aba Asya untuk beralih dari kursi roda ke atas ranjang. Setelah memastikan posisi Fagan nyaman, Asya segera menarik selimut sang suami. Dia menutup separuh dari tubuh Fagan dan merapikannya dengan telaten. Hal tersebut biasa dia lakukan setelah resmi menjadi suami Fagan. Hanya saja sebelum malam ini, Fagan tak pernah menatap ke arahnya.
"Kenapa Tuan liat saya seperti itu?" tanya Asya yang menangkap tatapan mata Fagan.
Fagan menjadi kikuk. Dia tak tahu harus berkata apa dan bicara seperti apa. Untuk berkelit pun, sepertinya Fagan tak mampu. Dia memilih untuk diam dan tak menimpali pertanyaan Asya.
Asya yang tak mendapat jawaban apa pun itu, segera mematikan lampu kamarnya. "Selamat malam, Tuan." Pertama kali setelah menjadi istri Fagan, Asya mengucap kalimat selamat malam untuk suaminya.
"Asya," lirih Fagan.
"Tidur di sini, Asya." Fagan meminta istrinya tidur di sampingnya.
"Ti ... tidak, Tuan. Saya akan tidur di sofa seperti biasanya," jawab Asya.
"Asya," seru Fagan memaksa.
Gadis itu membalik badannya, dia melihat ke arah Fagan dan mendapati pria itu memasang wajah garang.
"Kamu tahu, kan. Aku impoten, ini nggak akan mempengaruhi apa pun. Tak akan ada yang terjadi dan aku hanya ingin kamu di sini," jelas Fagan lagi.
"Tapi, Tuan." Asya masih mengelak.
Merasa nada berat Asya semakin terdengar, membuat Fagan tak ingin membuat semuanya menjadi rumit. Dia yang dalam kemarahan besarnya tadi bisa luluh dan tenang karena Asya, hanya merasa Asya memberinya ketenangan. Sehingga dia berharap gadis itu mau menemaninya.
__ADS_1
Fagan memiringkan tubuhnya dan memunggungi Asya. Dia tak lagi memaksa gadis itu dan memilih untuk mengalihkan pandangan dari Asya. Melihat sikap kecewa Fagan, Asya menjadi sedih. Dia tak ingin membuat keadaan menjadi semakin rumit lagi. Sehingga apa pun yang terjadi sekarang harus dia hadapi.
"Aku menyebutnya sebagai suami, aku menyebut diriku sebagai istrinya. Kenapa permintaannya itu sangat berat bagiku? Kenapa saat dia meminta dengan penuh kelembutan aku tak bisa menyanggupinya?" batin Asya.
Pikiran gadis itu melayang terbang. Bagaimana juga sekarang ini adalah hal yang belum pernah terjadi. Jangankan meminta sesuatu yang begitu baik dari Asya, bahkan sebelum ini Fagan terus membuat Asya menderita dengan tutur katanya yang kasar dan tingkah lakunya yang kejam.
"Saya akan menemanimu, Tuan. Setidaknya sampai Anda tertidur," lirih Asya sembari merangkak naik ke tempat tidur mewah itu.
Fagan yang merasakan kehadiran Asya itu membuka matanya. Dia terkejut karena wanita yang dia minta secara baik-baik itu akhirnya datang menemaninya. Saat itu juga, wajah Asya terlihat sangat cantik bagi Fagan. Rambutnya yang memang diwarnai sebelum pesta itu terlihat sangat alami. Sinar mata Asya yang begitu teduh membuat Fagan berharap lebih.
"Jangan pergi, Asya." Fagan bergumam dalam hatinya.
"Tidak, Tuan. Saya akan di sini," jawab Asya.
Fagan mulai memejamkan matanya, tapi bukan untuk tertidur. Pria itu sama sekali tak dihinggapi rasa kantuk walau sudah berada di atas ranjang. Pikirannya masih sangat kacau sekalipun tak seperti awal Cecilia menjelaskan semua yang terjadi di lingkungan pergaulannya itu.
"Anda sudah tidur, Tuan?" tanya Asya penasaran.
Rupanya Asya juga tak bisa bersikap biasa, dia merasa ada yang memperhatikannya saat berada di dekat Fagan. Hanya saja bedanya Asya sudah sangat mengantuk.
"Belum, Asya." Fagan masih memberikan suaranya.
"Akh, Tuan. Lekaslah tidur," omel Asya tanpa sadar. "Ini sudah hampir tengah malam, aku harus mengurus sarapan esok hari. Atau nenek lampir itu akan marah," ocehnya sembari mulai tertidur.
Alih-alih marah karena ibunya dikatai nenek lampir oleh Asya, Fagan justru menjadi penasaran karena suara istrinya itu semakin lama semakin hilang.
"Aish, kamu yang tidur?" protes Fagan tapi tentu saja tak mendapatkan reaksi apa pun, nyatanya Asya yang justru tertidur pulas karena terlalu lelah dan nyaman berada di kasur empuk yang selama ini tak pernah dia rasakan.
Melihat istrinya yang lelap dalam tidurnya, Fagan mulai membayangkan apa yang selama ini terjadi padanya dan juga Asya. Mulai dari pemaksaan yang dia dan ibunya lakukan, memikirkan kembali bagaimana mereka memulai semuanya sampai dengan segala siksaan fisik dan mental yang Fagan dan Maria berikan pada Asya, agaknya tak sedikitpun melemahkan Asya sebagai seorang gadis.
"Asya, kamu punya kekuatan sihir apa? Kenapa aku bisa membuatku terlena sekarang?" ujar Fagan terpukau.
__ADS_1