KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
36. Luluh


__ADS_3

Wajah Asya seketika berubah menjadi datar, dia menarik kembali sudut bibirnya setelah mendengar sentakan dari sang adik ipar. Apalagi kalimat itu begitu memojokkan Asya, dia disalahkan atas apa yang terjadi. Hal ini memang sudah sering terjadi, bahkan sudah menjadi hal yang biasa bagi Asya. Namun kenyataannya tak pernah sama, hati Asya bergetar kali ini. Adik kandung Fagan terus saja membahas hal menyakitkan itu. 


"Kamu patut dihukum, Asya. Kamu harus terima semuanya," ujar Cecilia lagi. 


Setelah gadis itu pergi, Asya kembali menyimpan rasa tak teganya pada Fagan yang begitu terluka. Sepertinya cemoohan itu menjadi masalah serius kali ini. Bagaimana juga keadaannya memang rumit. Bukan hanya tentang lingkungan penting yang membicarakan semua itu, tapi juga tentang banyaknya tekanan yang terjadi. 


"Sepenting itulah teman-teman mereka? Mengapa mereka begitu menganggap omong kosong mereka itu penting?" tanya Asya dalam hatinya. 


Setelah membuang kantong sampahnya, Asya kembali ke kamar. Dia segera menyelesaikan tugasnya dan menyiapkan apa yang Fagan butuhkan pagi itu. 


"Saya akan siapkan sarapan, Tuan." Asya meminta izin ke dapur sedang Fagan menyiapkan diri untuk bekerja. 


"Ini sudah lewat jam sarapan, Asya. Pasti mereka sudah selesai makan." Fagan menjawab dengan lembut. 


"Tak masalah, Tuan. Biar saya yang siapkan," kata Asya menimpali. 


Fagan yang mendapat bantahan, hanya mengulas senyuman. Biasanya dia akan mengamuk dan tak membiarkan Asya lolos dari semuanya. 


"Kamu salah tingkah sejak bangun tidur tadi. Apa kamu masih mikir kalo ada yang terjadi semalam?" desak Fagan. 


"Tidak juga, Tuan." Asya berdalih. 


"Artinya kamu percaya dengan apa yang aku jelaskan?" tanya Fagan. 


"Tentu saja, Tuan," jawab Asya. 


Hal itu membuat Fagan menjadi lega, karena tak akan ada lagi kekhawatiran yang dia rasakan karena peristiwa semalam. Dia tak perlu tak enak hati pada Asya karena hal tersebut. 


Asya berlalu setelah obrolan singkat itu, dia menyiapkan makan pagi suaminya. Dia tak mau buang waktu karena Fagan memang sudah terlambat pergi ke perusahaan. Dia menyiapkan kembali semua di meja sembari menunggu Fagan datang, dengan sangat telaten dan lengkap, Asya melakukan itu untuk Fagan. 

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik. Jika ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman, gunakan ponselmu," jelas Fagan. 


Ini adalah kali pertama Fagan meninggalkan sebuah pesan sebelum pergi keluar rumah. Hanya saja Asya bingung dengan kalimat sesuatu yang membuat tak nyaman itu. Fagan tahu benar jika selama ini yang tak pernah membuat Asya nyaman adalah ibunya sendiri. 


"Nggak salah apa yang Tuan Fagan bilang?" tanya Asya. 


"Nggak, Asya. Sekalipun Mama yang bikin kamu nggak nyaman, kamu boleh hubungi aku," jelas Fagan lagi. 


Seketika mata Asya berbinar, dia tak menyangka jika suaminya menjadi perhatian seperti itu padanya. Bahkan apa yang Asya khawatirkan diantisipasi dengan sangat tepat oleh Fagan. 


"Akh, aku nggak yakin bisa ngaduin semua hal sama dia," batin Asya setelah menyadari apa yang terjadi selama ini. 


Gadis itu tak punya nyali untuk mengatakan hal buruk tentang ibu mertuanya pada siang suami. Walau Fagan sendiri yang mengatakan semua itu secara langsung, tapi, kenyataannya tak semudah yang dia pikirkan. Maria dan Cecilia adalah lawan yang tak ada tandingannya. Mereka tak bisa dianggap mudah dilangkahi. 


"Apa kamu yakin, Asya? Kamu bisa melawanku?" seloroh Maria setelah Fagan meninggalkan rumah untuk bekerja. 


"Jangan harap, ya, Asya. Kamu jangan banyak berharap sama omongan suamimu, Fagan hanya sedang ingin membuat hatimu senang, setelah itu dia akan membuat hatimu menangis penuh darah," jelas Maria setengah mengancam. 


Seketika Asya terdiam, dia tak hanya diancam untuk menjalani kehidupan yang penuh penderitaan. Dia juga seperti dikutuk untuk selamanya menanggung hukuman atas kesalahan yang sama sekali tak dia lakukan. Hatinya yang sudah mulai berharap pada Fagan, membuat Asya menjadi ketakutan. 


"Saya permisi, Nyonya," pamit Asya tak mau memperpanjang masalah. 


"Mau ke mana, Asya. Kamu mau ngadu sama kakakku? Mau telepon dia?" Cecilia menahan bahu Asya yang berjalan melalui dirinya. 


"Tidak, Nona Muda. Saya nggak akan ngadu sama Tuan Fagan apa pun yang terjadi," jawabnya ketakutan. 


Asya memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Dia bertekad sekalipun dia mendapatkan tebasan pedang dari mertuanya itu, Asya tak akan mengatakan apa pun pada Fagan. Dia mengingat jelas jika Fagan hanya sedang mencoba menyenangkan hatinya. 


"Apa ini termasuk hadiah dari sandiwara yang kamu perankan? Kenapa kemarin tak terlihat seperti hadiah? Kalimatnya tadi juga sama sekali tak terdengar bercanda," kata Asya dalam hatinya. 

__ADS_1


Dia berlalu menuju kamar dan membereskan sisa pekerjaan yang tertinggal di sana. Pikiran gadis itu melayang jauh ke awan. Dia merasakan bagaimana Fagan bicara dengan nada penuh pengharapan dan juga penuh dengan kelembutan sejak kemarin. Dia tak ingin menganggap itu sebuah hal yang biasa, karena memang itu bukan kebiasaan Fagan. 


"Tuan Fagan bahkan bersikap dengan sangat baik. Dia perhatian dan bahkan khawatir padaku," ujar Asya. 


Dia masih memikirkan apa yang ibu mertuanya teriakkan di telinganya tentang sikap Fagan. Saat pikiran Asya sedang sangat kalut, tiba-tiba ponselnya berdering. Jelas sekali pasti Fagan yang menelepon, karena memang hanya Fagan yang memiliki nomor telepon barunya. 


"I ... iya, Tuan," jawab Asya terbata. 


"Aku sudah minta Abrisam mengirim seseorang untuk membereskan kamar mandi. Hari ini mereka akan mengganti cermin dan juga semua yang rusak di sana," jelas Fagan. 


"Baiklah, Tuan." Asya menjawab singkat. 


"Ada yang terjadi? Kenapa kamu sudah di kamar?" tanyanya lagi. 


"Tidak, Tuan. Tak ada yang terjadi." Asya berdusta. 


"Sungguh?" Hati kecil Fagan mengatakan ada yang terjadi pada istrinya itu. 


"Sungguh, Tuan. Saya baik-baik saja. Pekerjaan di luar sudah selesai. Saya kebetulan di kamar," jelas Asya meyakinkan. 


"Baiklah," pungkas Fagan dan pembicaraan itu segera selesai. 


Sekali lagi Fagan membuat Asya semakin bingung. Dia seperti sedang dipermainkan. Hatinya terlanjur berempati pada sikap dan perhatian Fagan yang dia tunjukan. Separuh hati Asya sudah luluh lantai oleh Fagan. 


"Tuan, apa ini artinya? Kenapa Anda membuat situasi menjadi sesulit ini? Mana yang harus saya percaya?" ujar Asya sembari memeluk ponselnya. 


Hati gadis itu seperti berada di persimpangan jalan. Dia merasa ada yang terjadi di minggu-minggu terakhir ini adalah sebuah hal yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Mulai dari sikap yang berubah menjadi baik, ciuman, sampai dengan kekhawatiran yang Fagan tunjukkan cukup menjadi alasan untuk Asya meluluhkan hatinya. 


Harapan-harapan itu mulai muncul sebagai sebuah hal yang tak bisa dibendung oleh Asha sendiri. Mau tak mau, hati Asya berharap dan ingin lebih saat ini. 

__ADS_1


__ADS_2