
Asya merasa bingung dengan apa yang dia pikirkan. Ini semua terjadi begitu saja tanpa dia atur. Dia duduk termenung di lantai menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Masih terdengar suara amukan Fagan, Asya sudah bisa membayangkan jika seluruh isi kamar mandi itu akan hancur.
"Asya," panggil Fagan dengan nada melengking dan dingin.
Asya buru-buru berdiri dan mengetuk pintunya dadi luar.
"Iya, Tuan. Saya di sini," kata Asya memastikan.
"Ambil kotak obat dan aku akan keluar sekarang," balas Fagan.
Asya tak mau buang waktu, dia berjalan ke arah laci obat dan segera membawa kotak obat itu mendekati pintu kamar mandi.
"Sudah, Tuan. Apa yang terjadi? Kenapa Anda butuh kotak obat?" tanya Asya khawatir.
Tak lama berselang, Fagan keluar dengan pakaian yang masih lengkap sama seperti saat dia masuk tadi dan tangannya berlumur darah.
"Astaga, Tuan. Apa yang terjadi?" Asya terkejut melihat hal itu. Dia segera membersihkan luka yang ada di telapak tangan Fagan dengan sangat hati-hati.
Perlahan luka itu semakin terlihat. Kulit bagian telapak tangan Fagan rupanya sobek. Namun Asya tak mau bertanya lebih lanjut tentang apa yang terjadi. Sehingga dia memilih diam dan merawat luka suaminya itu tanpa banyak bicara.
"Asya, apa aku bodoh? Aku gila?" tanya Fagan kesal.
"Untuk hal-hal seperti ini, Anda bisa dibilang cukup gila, Tuan. Ini sama sekali nggak berguna," balas Asya.
Fagan tersenyum miring, dia sama sekali tak peduli dengan rasa sakit dan perih yang ada di telapak tangannya itu. Bagaimana juga luka itu memang sakit.
"Saat telapak tanganku mulai mengeluarkan darah, aku menyadari jika alasan pernikahan kita memang bukan untuk mencapai kebahagiaan. Pernikahan ini digelar untuk menutupi rasa malu saja. Jadi, sangat wajar jika apa yang aku inginkan itu kamu tolak," jelas Fagan.
"Lupakan itu, Tuan. Aku rasa tak akan ada keinginan semacam itu jika Anda tak ambil pusing dengan cemoohan mereka semua." Asya menimpali.
"Kamu pikir itu mudah, Asya? Kamu tahu persaingan antara kami bukan hanya tentang kesuksesan perusahaan. Tapi juga tentang berita di media, image di mata umum dan juga kehidupan pribadi." Fagan menjelaskan.
"Bukankah semua sudah Anda capai, Tuan. Kesuksesan, image baik dimata umum, berita baik di media, bahkan kehidupan pribadi Anda disorot dengan baik hanya karena sebuah pesta pertunangan Elina malam itu," balas Asya.
__ADS_1
Fagan diam terpaku, walau selain kesuksesan perusahaan adalah sebuah kepalsuan, tapi Fagan masih belum puas karena masih banyak suara sumbang tentang keadaannya sekarang ini.
"Asya, apa pendapatmu jika aku menginginkan anak darimu?" desak Fagan lagi.
Sekejap, Asya menghentikan aktivitasnya membersihkan luka Fagan. Gadis itu masih tak mengerti dengan keinginan gila Fagan saat ini. Dia masih terlalu kesal dengan keinginan Fagan membuatnya hamil dengan pria lain.
"Asya, bukan hamil anak orang lain, tapi hamil anakku," jelas Fagan lagi.
"Tuan," lirih Asya ingin membantah.
"Kita ke dokter dan lakukan program bayi tabung, Asya. Teknologi sangat canggih, aku rasa itu bisa kita lakukan," jelas Fagan tak menyerah.
Asya menundukkan kepalanya, dia pura-pura tak mendengar dan memilih untuk tak peduli pada apa yang Fagan inginkan. Pikiran Asya tentu saja bukan tentang kemudahan teknologi yang Fagan bicarakan, tapi dia lebih memikirkan bagaimana nasib anak yang akan lahir dari rencana itu jika orang tuanya tak harmonis.
"Pilih wanita lain saja, Tuan." Asya menyelesaikan tugasnya merawat luka Fagan dan dia beranjak pergi.
Asya bersikeras jika dia tak akan ikut dalam rencana yang Fagan katakan itu. Bagi Asya semua itu tak akan menghasilkan keuntungan apa pun bagi Fagan, dirinya dan juga anaknya kelak.
"Asya, kamu mengabaikan aku?" sentak Fagan.
"Aku nggak butuh nasihatmu, Asya. Aku butuh tubuhmu untuk membuatku memiliki seorang anak." Fagan memaksa.
Kalimat yang begitu menyakitkan itu membuat Asya menjadi semakin kesal. Walau tak ada yang bisa dia lakukan selain diam, setidaknya Fagan mengerti jika Asya tak akan mengabulkan apa yang Fagan minta.
Fagan menyerah dan dia kembali ke kamar mandi. Dia berhenti bicara dan menjernihkan pikirannya agar Asya tak menganggapnya gila. Merasa khawatir pada Fagan, Asya mengikuti suaminya dari belakang. Seperti yang Asya pikirkan sebelumnya, kamar mandi tampak berantakan dan banyak pecahan kaca di berbagai sisi. Fagan menghancurkan separuh dari benda-benda yang ada di kamar mandi. Dia bahkan membuat kaca besar di bagian wastafel hancur lebur tak bersisa.
"Biar aku bantu, Tuan." Asya mengarahkan kursi roda suaminya ke arah samping bathup.
Asya melucuti satu persatu pakaian yang suaminya kenakan seperti biasa dan melakukan tugasnya seperti biasa. Setelah itu Fagan melakukan kebiasaan mandinya sendiri tanpa diminta, sedang Asya berdiri memantau dari balik kaca ruang mandi itu. Dia membereskan sedikit yang bisa dia bereskan. Melihat hal itu, membuat Fagan merasa bersalah.
"Aku sudah selesai, Asya." Fagan memanggil istrinya sebelum gadis itu banyak membereskan kekacauan yang ada.
Asya yang mendapat panggilan, segera mendekat dan mengeringkan rambut dan badan Fagan serta memindahkan suaminya dari kursi roda mandinya ke kursi roda lainnya. Dengan sangat hati-hati Asya melakukan itu semua.
__ADS_1
"Apa perbannya basah?" tanya Fagan.
"Tidak, Tuan. Saya pakaikan pembalut luka yang anti air, balas Asya.
Dia membawa keluar suaminya meninggalkan kamar mandi yang kacau balau itu.
"Panggil pembantu saja untuk bereskan semuanya." Fagan memberi perintah.
"Biar saya yang bereskan," sahut Asya.
"Aku bilang panggil pembantu, Asya. Kenapa kamu membantah?" sentak Fagan.
Asya terkejut dengan perubahan nada bicara suaminya. Dia mundur selangkah dan segera menganggukkan kepalanya. Asya memilih menurut dengan apa yang suaminya katakan karena tak mau memulai kembali keributan yang baru saja selesai.
Setelah mengganti pakaian Fagan dan membantunya naik ke ranjang, Asya berpamitan turun untuk memanggil pembantu. Fagan menganggukkan kepalanya tanda memberi izin pada siang istri. Dengan langkah cepat Asya menuju ruang pembantu yang sudah mulai beristirahat.
"Mau ke mana kalian?" tanya Maria saat berjalan bersama pembantu menuju kamar Fagan.
"Tuan Muda ingin pembantu membereskan kamar mandi, Nyonya," jawab Asya.
"Kenapa kamu cari kesempatan? Kamu tau nggak ini sudah waktunya mereka istirahat? Kenapa nggak kamu bereskan sendiri?" sentak Maria.
"Ta ... tapi, Tuan Muda ingin pembantu yang membereskan, Nyonya," sangkal Asya.
"Alasan kamu, nyari kesempatan, ya," seru Maria. "Kamu masuk sana, biar Asya sendiri yang bereskan. Dia harus terima hukuman dari apa yang dia perbuat. Fagan mengamuk dan menghancurkan semuanya pasti karena kamu, kan?" jelas Maria.
"Tapi, Nyonya." Asya bingung.
"Nggak usah alasan, jangan pikir pembantu di sini disediain buat kamu, ya." Maria memaki.
Larangan Maria membawa pembantu ke kamar untuk membereskan kekacauan itu ternyata membuat Asya tak berkutik. Dia kembali dengan tangan kosong karena Maria yang bersikeras melarang pembantu itu ikut.
"Kamu ini bodoh apa gimana, sih? Masih aja nggak nurut sama yang aku bilang," seru Fagan saat istrinya kembali tanpa pembantu.
__ADS_1
"Ma ... mama Anda yang melarang, Tuan." Asya mengakui.
"Mama?" tiru Fagan kaget.