
"Kamu benar-benar mandi?" tanya Fagan pada istrinya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah itu.
"Aku cuma nggak mau bikin masalah. Mamamu akan mengomel tanpa henti jika aku tak mandi," sahut Asya.
Dia mulai sibuk mengganti pakaiannya dan bersiap menuju dapur. Langkah kakinya begitu cepat karena dia terbiasa dengan hal itu semenjak menjadi menantu keluarga itu.
"Kamu bahkan nggak seperti menantu. Kamu lebih mirip dengan pembantu," celetuk Fagan.
Asya tak peduli dengan apa yang suaminya katakan, dia diam dan hanya menatap sekedarnya saja. Hingga pada akhirnya dia berlalu ke dapur tanpa pamit pada sang suami. Langkah kaki Asya segera terdengar menuju dapur.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Asya.
"Beef pada hitam dan salad sayur," jawab Lia.
Pembantu itu menatap lekat ke arah Asya yang bahkan rambutnya saja belum kering sudah berada di dapur.
"Kamu ini lebih mirip pembantu daripada menantu keluarga ini," celetuk Lia.
Asya menatap dengan tatapan yang serius. Dia mengernyitkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya yang tipis.
"Kamu mirip Tuan Muda rumah ini. Kalimatmu sama persis dengan yang dia katakan padaku," sahut Asya.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, Asya mendengar kalimat itu dua kali. Kalimat yang mengatakan jika dirinya lebih mirip pembantu dari pada seorang menantu itu membuat Asya merasa kesal. Baru saja angannya di lambungkan dengan dua ciuman dan juga puja puji indah dari Fagan, kini dilempar dengan kalimat yang menyatakan dirinya lebih mirip pembantu daripada seorang menantu.
"Aku lebih suka mirip pembantu, karena aku memang bukan menantu di sini," sahut Asya.
"Jangan mau, Asya. Bagaimana juga pernikahan kamu dan Tuan Muda itu pernikahan resmi. Tuntutlah apa yang menjadi hakmu dan segala yang wajib mereka berikan padamu," kata Lia.
"Aku nggak peduli tentang itu, kamu tahu bagaimana mereka menyeretku masuk ke rumah ini, bukan? Apa kamu pikir aku dibawa ke sini untuk menikmati itu semua?" sebut Asya.
__ADS_1
"Ta ... tapikan?" sanggah Lia.
"Udahlah, nggak usah bicara nyang enggak-enggak. Kena masalah tau rasa kamu," kata Asya mengingatkan.
Gadis itu meneruskan apa yang sudah Lia mulai. Dengan sedikit kesal yang ada di hatinya, Asya menyelesaikan persiapan makan malam dan menyajikkannya di meja.
"Wah, berguna juga kamu," ujar Maria mulai cari masalah.
"Sudah, Ma. Jangan mulai lagi," sahut Fagan memperingatkan ibunya.
Mereka duduk di meja makan dan menikmati hasil masakan Asya yang sudah terhidang. Hanya saja memang Cecilia tak ada saat itu. Entah kemana dia, bahkan Maria saja tak tahu.
"Apa kamu buat masalah di rumah orang tuamu?" tanya Maria ingin tahu.
"Ma," sela Fagan.
Fagan sebenarnya mulai tergugah saat istrinya ditekan oleh sang ibu. Hanya saja dia belum bisa membuat keadaan menjadi lebih mudah bagi Asya. Separuh hatinya masih dikuasai oleh wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya ke dunia itu. Bagaimana juga ini adalah sebuah hal yang tak bisa dengan mudah Fagan lalaikan.
"Asya nggak melakukan apa yang Mama pikirin, Ma. Dia menjaga semua dengan baik, Fagan minta Mama jangan menekannya lagi," ujar Fagan membela Asya.
Kalimat tersebut membuat Asya merasa dibela, walau tak berarti apa pun, setidaknya kali ini Fagan tak menambah konflik panjang antara dirinya dan sang mertua.
Belum juga makan malam usai, Cecilia pulang dengan keadaan yang sangat berantakan. Dia pulang dengan wajah penuh kemarahan.
"Ada apa denganmu?" desak Maria pada Cecilia yang kemudian duduk di sisinya.
"Mah, apa nggak ada yang bisa dilakukan untuk membuat Kak Fagan bisa kembali berjalan? Kita ini kaya raya, Mah, kenapa Mama biarkan Kak Fagan berasa di kursi roda itu?" ujarnya tanpa diketahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia masuk rumah.
"Kamu ini bicara apa? Kenapa nglantur kaya orang kesurupan begitu?" sentak Maria.
__ADS_1
"Aku muak, Mah. Semua orang membicarakan Kak Fagan dan terus saja mengeluarkan umpatan karena keadaannya sekarang. Mereka terus membuat pembicaraan yang arahnya tentang ketidaksempurnaan Kak Fagan." Cecilia menjelaskan dengan detail.
Lingkungan pergaulan Fagan dan Cecilia memang sama. Sebagian besar teman Fagan juga mengenal Cecilia, sehingga tak heran jika apa yang kini terjadi pada Cecilia di lingkungan pergaulannya juga membahas tentang Fagan.
"Lihat, Asya. Ini semua karena kamu, lihat apa yang kamu lakukan pada putraku sehingga kami semua menerima akibat yang ditimbulkan," sentak Maria.
Kemarahan hatinya dilampiaskan pada Asya. Dia menganggap Asya-lah yang bersalah atas segala yang terjadi sekarang ini. Baginya ini semua bermula dari kecelakaan yang terjadi malam itu. Maria yang diliputi dengan rasa kesal dan emosi menghardik tanpa henti dan menunjuk Asya sebagai biang keladinya.
"Hentikan, Ma. Sudah," kata Fagan.
"Enggak, Fagan. Ketika masalah itu diungkit, Mama akan menjadi sangat marah dan ingat bagaimana dia merenggut semua itu darimu. Wanita ini adalah biang keladi dari semua masalah yang terjadi padamu," kata Maria sembari berdiri mendekati Asya.
Tangannya mulai diangkat dan bersiap memberikan tamparan pada Asya, tapi belum sampai telapak tangan Maria melukai Asya, Fagan sudah berteriak menghentikan sang ibu.
"Jika Mama menyentuh Asya, sama artinya dengan Mama menghinaku sebagai seorang suami." Fagan mengancam.
Maria menarik tangannya dan berjalan ke arah Fagan yang makan sembari duduk di kursi rodanya itu. Dia mendekati sang putra dan duduk bersimpuh di hadapannya. Maria mengenggam erat tangan Fagan yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Sayang, kamu adalah putra terbaik Mama. Kamu sempurna dan kamu tak boleh berkecil hati atas apa yang terjadi. Selama ini kamu sudah membuktikan jika kamu mampu melakukan apa pun sekalipun kamu berada di atas kursi roda." Maria mengucapkan banyak sekali kalimat menyejukkan untuk sang putra.
Nalurinya sebagai seorang ibu selalu saja bisa membuat keadaan menjadi lebih baik bagi Fagan. Memang benar jika keadaan fisik Fagan penuh dengan keterbatasan, tapi otak dan kemampuannya dalam mengelola perusahaan tak pernah berubah. Dia selalu bisa menunjukkan performa yang terbaik untuk segala hal yang dia miliki sekarang.
"Tuan Fagan bukan berkecil hati, Nyonya. Dia bukan menyerah dengan kalimat-kalimat yang beredar di luar sana. Justru kalianlah yang membuat dia merasa tak sempurna dan terus dirundung ketidak adilan." Asya bicara dengan nada tegasnya.
Dia bangkit dari kursinya dan menjauh dari semua orang yang ada di meja makan. Asya memiliki pemikiran yang lebih baik daripada hanya menyalahkan siapa yang menyebabkan kecelakaan itu.
"Berhenti mencari kambing hitam dalam masalah ini dan pikirkan bagaimana membuat Tuan Fagan bisa menjadi sempurna di balik ketidaksempurnaan yang dia tanggung saat ini." Asya memberikan sebuah kalimat penuh makna.
"Jangan lancang, kamu. Apa kamu tahu rasanya mendengar mereka mengatakan jika kakakku impoten dan tak akan pernah memiliki kebahagiaan tertinggi dalam sebuah rumah tangganya?" sela Cecilia.
__ADS_1