
"Impoten? Mereka mengatakan itu di depan matamu?" cecar Maria.
Dia juga marah saat mendengar putranya dipermalukan karena kelumpuhan organ vitalnya itu. Semakin menjadilah rasa amarah dan juga kesakitan yang dia rasakan sebagai seorang ibu.
"Lihat, Tuan. Mereka bukan mengatakan kalimat-kalimat yang justru menjatuhkan dirimu. Mereka tak tahu cara yang benar bagaimana seharusnya mereka memperlakukanmu," batin Asya.
Apa yang sedang Cecilia dan Maria perdebatkan memang tak bisa dianggap lumrah. Mereka justru membuat Fagan merasa kecil hati dan seperti tak memiliki harga diri. Mereka membicarakan kelumpuhannya sama seperti teman-temannya yang berbicara di depan Cecilia.
"Asya, ayo masuk," ajak Fagan.
Asya yang tak ingin disalahkan dan dijadikan bahan pelampiasan kemarahan Cecilia dan juga ibunya menuruti apa yang Fagan inginkan. Segera dia membawa kursi roda Fagan masuk ke dalam kamar.
"Kunci pintunya," perintah Fagan.
Asya kembali menuju pintu dan memastikan mengunci pintu kamar itu dengan rapat seperti apa yang suaminya perintahkan.
"Duduk di sini, Asya." Fagan meminta istrinya duduk di kursi kerja yang memang tersedia di kamarnya. Fagan sudah terlebih dahulu menarik kursi yang kebetulan ada rodanya itu.
"Ta ... tapi, Tuan. Saya tak melakukan kesalahan apa pun. Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Asya ketakutan.
"Duduk," seru Fagan dengan wajah dingin tapi terlihat sangat serius itu.
Terpaksa Asya duduk dan kini dia berhadapan dengan pria yang sudah kembali asing baginya itu. Matanya bergetar, dia bahkan tak berani menatap mata Fagan yang sedari tadi sudah menguliti Asya tanpa permisi itu.
__ADS_1
"Menurutmu apa yang mereka katakan dengan kebahagiaan tertinggi dalam pernikahan?" tanya Fagan serius.
Asya menggelengkan kepalanya, dia tak berani membahas apa yang Fagan ingin ketahui itu. Walau sebenarnya dia tahu pasti apa yang dimaksud dengan kebahagiaan tertinggi sebuah pernikahan yang Fagan maksud adalah anak.
"Mereka mengatai impoten dan tak bisa punya keturunan. Aku rasa itu yang sebenarnya ingin Cecilia katakan," ujar Fagan dengan nada penuh putus asa.
Saat itu juga, Asya menyesali apa yang pernah dia syukuri saat pertama mengetahui Fagan mengalami kelumpuhan di organ vitalnya itu. Dia merasa apa yang selama ini menjadi kebahagaiaannya justru merupakan penderitaan besar bagi pria itu.
"Tuan, aku rasa hanya orang-orang kuno yang menganggap kebahagaiaannya tertinggi dalam sebuah pernikahan adalah kelahiran anak. Mereka lupa jika banyak pasangan yang bahkan berpisah setelah dikaruniai keturunan. Mereka tak memikirkan jika anak terkadang justru menjadi pemicu utama ketidak harmonisan sebuah hubungan." Asya mencoba membangkitkan semangat Fagan lagi.
Api di mata pria itu mulai terlihat mereda. Sinar penuh kemarahan mulai meredup setelah mendengar apa yang Asya katakan.
"Tidaklah mereka ingat jika anak hanya akan menjadi korban jika mereka tak saling mengerti dan tak saling menerima? Bukankah itu hanya akan membuat masalah demi masalah muncul jika mereka belum bisa menerima satu sama lain secara utuh?" tanya Asya.
Asya merangkai kata dengan susah payah untuk meyakinkan Fagan tentang apa yang sedang membuatnya dilanda kekhawatiran dan juga penurunan kesehatan mentalnya. Emosi Fagan selama ini memang cenderung naik dan turun secara tak beraturan. Perubahan hidup yang dia alami membuat Fagan sulit untuk menerima semuanya. Walau perlahan mulai menata kembali hidupnya, tapi banyak ruang di hati Fagan yang masih diisi dengan rasa marah dan beragam dilema.
"Tuan, bukankah menikah itu kebahagiaan bersama? Apakah bisa dikatakan menikah jika hanya salah satu yang bahagia dan yang lainnya menderita?" desak Asya semakin menekan.
"Aku terima semua pemahamanmu, tapi itu tak akan mengubah apa pun, Asya. Sekalipun kita mencapai kebahagiaan berdua, kehadiran seorang anak tak akan pernah bisa kita capai." Fagan mengutarakan apa yang sedari tadi membuatnya khawatir.
Asya menundukkan kepalanya, Fagan kini memposisikan kebahagian mereka berdua sebagai perumpamaan yang begitu nyata. Walau pada akhirnya tak ada yang dia harapkan sama sekali dari hubungan mereka berdua.
"Sudah larut, Tuan. Saya akan bantu bersihkan tubuh Anda," kata Asya mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Asya bangkit dari kursinya, tapi tiba-tiba tangan Fagan mencegah Asya pergi. Dia menahan istrinya dengan sangat erat.
"Asya, apa kamu menerima keadaanku ini jika aku berlaku baik padamu?" tanya Fagan.
Mendengar pertanyaan itu, membuat hati Asya menjadi sakit. Dia sama sekali tak mengharapkan apa pun dari hubungan mereka berdua. Apalagi sebuah keuntungan yang sepertinya mulai Fagan bicarakan.
"Tuan, saya tak penah berniat mengambil keuntungan apa pun dari hubungan ini. Saya diseret masuk dalam pusaran ini tanpa pilihan. Yang saya pikirkan hanya bertahan selama mungkin," jelas Asya.
"Asya, aku lumpuh dan aku seperti yang mereka pikirkan, Asya. Mereka akan terus membuatku tergulung dalam omongan dan cemoohan yang tiada akhir." Fagan merintih.
Jelas sekali pria itu sedang dilanda kekhawatiran yang teramat menyiksa. Fagan yang keras, kasar, ingin menang sendiri dan ringan tangan itu hampir menitikan air matanya. Hatinya lemah dan tak terbayangkan itu semua terjadi tepat di depan mata Asya.
"Tuan, mereka boleh berpikir macam-macam, bicara asal-asalan dan mencemooh dengan kalimat apa pun. Tapi, Anda juga berhak memiliki kehidupan yang lebih baik dan jauh dari kata kotor mereka. Semua berasal dari diri Anda sendiri, Tuan." Asya menyakinkan.
"Apa kamu mau menjadi bagian dari itu? Apa kamu yakin aku bisa melakukan apa yang kamu katakan?" desak Fagan mempertanyakan.
Asya menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar. Dia lelah dengan posisinya yang selalu salah di rumah itu. Asya yang berpikir cukup bertahan kini diminta untuk terlibat dalam sebuah misi perubahan yang akan Fagan lakukan. Suaminya meminta dan menginginkan dukungannya untuk membuat hidupnya lebih berarti dan menunjukkan pada dunia jika kehidupan pernikahan seorang pria lumpuh jauh lebih baik daripada mereka yang normal dan memiliki anak.
"Tujuan utama Tuan Fagan bukan untuk diriku dan juga dirimu sendiri, Tuan. Aku rasa ini akan sulit." Asya berpendapat.
Fokus Fagan memang bukan pada pernikahan keduanya. Pria itu menargetkan orang-orang yang memiliki pemikiran sempit tentang hubungan pernikahannya dengan Asya. Dia ingin orang luar tahu kehidupannya baik-baik saja tanpa memikirkan jika Asya hanya akan menjadi alat untuk mewujudkan keinginan gila itu.
Fagan mengerti apa yang Asya pikirkan, sebagai seorang gadis normal, tentu saja Asya tak mau dipermainkan dan diperalat untuk sebuah tujuan yang tak menguntungkan bagi dirinya sama sekali.
__ADS_1
"Aku akan membelimu, Asya. Aku akan membayar setiap keadaan yang kamu hadapi dan aku akan memberimu nilai atas segala yang kamu lakukan untukku. Aku hanya ingin membungkam mulut mereka dan menunjukkan jika aku bisa memiliki kehidupan pernikahan yang normal sekalipun aku duduk di kursi roda seumur hidupku," jelas Fagan menunjukkan sifat berkuasa dan egoisnya.