KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
26. Hati Yang Berkhianat


__ADS_3

"Katakan pada ayah mertua jika aku langsung pulang, aku akan jemput setelah memberimu kabar besok," ujar Fagan setelah ciuman bibir itu lepas. 


Asya menganggukkan kepalanya dan segera berhambur keluar dari mobilnya. Dia mengusap bibir basahnya dengan jantung yang masih berdegup cepat. Asya tak mengerti apa yang dia rasakan. Bagaimana juga, keadaannya sekarang tak mudah bagi Asya. Dia diombang-ambingkan perasaan yang tak ada habisnya. 


"Apa yang dia lakukan?" Asya berhenti di depan pintu rumah ayahnya menunggu mobil Fagan pergi. 


Setelah terdengar mobil itu menjauh, Asya meremat erat dadanya. Dia berusaha menenangkan diri setelah dua ciuman beruntun yang suaminya berikan. Sikap dingin, angkuh dan menang sendiri milik Fagan itu sudah lebih dari lima jam tak terlihat. 


"Mbak Asya," seru Zalina dari dalam rumah. 


Gadis itu mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Sehingga dia lebih dulu mengetahui jika kakaknya itu ternyata pulang. Kakak beradik itu segera saling berpelukan erat. Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Zalina karena selama ini kakaknya itu tak bisa dihubungi sama sekali. 


"Masuk, Mbak." Zalina menuntun kakaknya masuk. "Wah, kamu berubah banget ya," ujarnya melihat pakaian bermerk yang kakaknya kenalan. 


"Apanya?" tanya Asya. 


"Semuanya, Mbak. Kamu beneran jadi istri orang kaya," balas Zalina dengan polosnya. 


"Bisa aja, Bapak udah tidur, ya?" tanya Asya mengalihkan pembicaraan. 


"Udah, Mbak. Bapak batuk dari seminggu yang lalu. Kayanya obat yang dia minum ada obat tidurnya, jadi Bapak selalu tidur kalo abis minum obat," jelas Zalina. 


Mendengar berita tentang ayahnya, membuat hati Asya menjadi terenyuh. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada ayahnya itu. Apalagi beberapa hari yang lalu, dia mendengar jika ayahnya pergi ke perusahaan suaminya. 


"Lin, apa Bapak nanyain aku?" tanya Asya. 


"Iyalah, Mbak. Itu udah pasti, sejak Mbak Asya dibawa sama ajudan Pak Fagan, kita nggak pernah ketemu lagi. Setelah itu kita lost contact, sampai akhirnya seseorang datang dan bilang kalo Mbak Asya sama Pak Fagan lagi bulan madu ke luar negeri," jelas Zaline.


Asya diam terpaku, dia tak mengerti dengan apa yang adiknya itu katakan. Siapa yang datang menjelaskan keadaan itu, bahkan tak bisa ditebak siapa orangnya oleh Asya. 

__ADS_1


"Mbak," panggil Zalina melihat kakaknya melamun. 


"Oh, iya, bu ... bulan madu," lirih Asya terpaksa membenarkan alasan salah itu. 


Zalina memicingkan matanya dan membuat kerutan di dahinya. Dia menangkap gelagat mencurigakan dari sang kakak. 


"Kenapa, Mbak? Kok jawabnya gagu? Ada yang Mbak Asya sembunyikan?" tanya Zalina. 


"Enggak, kok, Lin. Aku biasa aja," jawab Asya singkat. 


Baru saja Asya akan beranjak ke kamar, Zalina sudah menahan kakaknya dengan pertanyaan lain. 


"Suamimu nggak ikut, Mbak? Kamu diantar sama sopirnya, ya? Kok, malam-malam begini?" cecar Zalina penasaran. 


Asya mengatur napas, dia bingung harus menjawab apa. Pesan yang Fagan berikan mengema di telinganya kini. Sehingga dengan sangat hati-hati Asya harus membuat Zalina percaya pada apa yang sudah dia dan Fagan atur. 


Matanya bergetar mengatakan semua kalimat palsu itu, Asya membohongi adiknya demi kelancaran segala sesuatunya. Cerita karangan yang Asya katakan adalah sebuah alibi agar dia dan Fagan selamat. 


"Kenapa keluarga itu nggak izinkan kita dateng pas kamu nikah, Mbak? Kupikir kamu disiksa sama mereka. Ternyata kamu bahagia," sela Zalina. 


"Kamu nggak usah khawatir soal aku, Lin. Aku baik-baik aja, kok. Seperti yang kamu liat sekarang ini," balas Asya tak berani menatap mata adiknya. 


Asya melanjutkan langkah kakinya ke kamar sang ayah. Dia ingin cepat-cepat melihat pria itu. Bagaimana juga, keadaannya memang tak bisa dia hadapi terus menerus. Asya takut ketahuan karena Zalina biasanya bisa menebak jika dia tengah berdusta. 


"Bapak," lirih Asya melihat ayahnya berbaring lelap. 


Pria itu nampak lebih kurus dari terakhir mereka bertemu sebelum Asya dijemput sopir keluarga Elvander. 


"Bapak," lirih Asya dan duduk di tepi ranjang tempat ayahnya berbaring. 

__ADS_1


Air matanya berderai, rasa bersalah dan kerinduan yang dia rasakan terasa sangat menyesakkan dadanya sebagai seorang anak. Asya merasa dipermainkan keadaan karena banyak sekali larangan yang Fagan berikan padanya. Segala ancaman yang pria itu lakukan selalu saja tentang keluarganya, sehingga dengan sangat terpaksa, Asya harus menuruti apa yang Fagan inginkan jika dia tak ingin keluarganya di sentuh tangan dingin pria itu. 


Setelah beberapa saat berada di kamar ayahnya, Asya keluar dan duduk di sofa reyot ruang tamu usang itu. 


"Mbak, kamu nggak bahagia, kan? Kamu cuma sandiwara aja?" tanya Zalina. 


"Kamu ngomong apa, sih? Nggak juga kok. Aku baik-baik aja," bohong Asya. 


"Dari awal aja mereka tuh nggak baik, Mbak. Mereka maksa dan terkesan memanfaatkan keadaan Mbak Asya." Zalina menjelaskan. 


"Semua berubah, Lin. Aku baik-baik aja, setelah ini semua akan baik-baik aja, kok. Lagi pula, aku udah di sini sekarang." Asya mengalihkan pembicaraan. 


Rasa tak nyaman terlihat sekali pada Asya, sehingga Zalina segera sadar jika apa yang kakaknya coba jelaskan bukan hal yang sebenarnya terjadi. 


"Enggak, Mbak. Kamu nggak baik-baik aja, ada sesuatu yang terjadi padamu, aku bisa lihat itu dan aku janji bakal cari tahu apa itu," kata Zalina dalam hati. 


Semalam berada di rumahnya sendiri juga tak serta merta membuat Asya merasa nyaman. Dia sudah membohongi Zalina sedari datang hingga membuat hatinya tak tenang. Katanya sudah hampir terpejam, tapi tiba-tiba ponsel Asya menunjukkan sebuah notifikasi pesan masuk. Gadis itu meraih ponsel yang suaminya berikan dan segera membukanya. 


"Ah, dia baru sampai," lirih Asya setelah membaca isi pesan yang Fagan kirimkan. 


Tanpa dia sadari, senyum mengembang di bibirnya. Entah apa yang membuat itu terjadi, tapi Asya begitu berubah setelah dua ciuman beruntun menghujani bibirnya. 


"Asya, kamu jangan bodoh. Ini bukan seperti yang kamu bayangkan. Monster itu tetaplah monster," gumam Asya dalam hatinya. 


Asya sadar benar, apa yang dia rasakan sekarang memang sesuatu yang tak dia sangka. Bahkan caci maki yang sering Fagan lakukan padanya saja sama sekali belum hilang dari benaknya, tapi tetap saja terasa berbeda. 


"Ya Tuhan, jangan biarkan hatiku terbuka untuk pria itu. Aku tak boleh jatuh cinta padanya atau semua akan menjadi semakin rumit dan sulit lagi." Asya mengumumkan permintaannya dalam mata yang tertutup. 


Dadanya berdegup cepat dan Asya merasa tak terima dicurigai macam-macam oleh adiknya sendiri. Rasa ingin melindungi Fagan tumbuh begitu saja. Hati Asya berkhianat pada raga gadis itu yang terus mendapatkan kesakitan. 

__ADS_1


__ADS_2