
Mata Asya terbelalak, dia baru saja bersorak karena Fagan menyuruhnya keluar. Tapi ternyata sedetik kemudian, Fagan memintanya untuk tinggal.
"Apa yang akan dia lakukan? Dia telanjang, lagi." Asya bicara dalam hati.
Keadaan yang tak pernah Asya pikirkan itu membuat wanita 25 tahun ini menjadi sangat canggung. Dia memang sudah biasa mengurus Fagan, tapi tak biasa menemani Fagan mandi.
"Asya," panggil Fagan.
"I ... iya, Tuan." Wanita itu menghampiri Fagan dengan wajah yang tertunduk.
"Kenapa menunduk? Bukankah kamu sudah lupa caranya menunduk?" tanya Fagan ketus.
Asya mengangkat wajahnya, dia tak bisa membuat keadaan menjadi lebih tenang untuk dirinya sendiri saat ini. Otaknya berpikir yang macam-macam karena sang suami mulai tersenyum miring seperti orang yang sedang mengincar sesuatu. Tatapan kosong Asya agaknya di sadari oleh Fagan. Sehingga dia menunjukkan reaksi yang menantang di hadapan Asya.
"Maaf, Tu ... Tuan," sahut Asya dengan gagap.
"Kamu tak perlu takut, kamu tahu, kan, dia sudah lumpuh total, jadi nggak perlu takut aku akan memintamu melakukan sesuatu yang kamu bayangkan itu," kata Fagan menangkap sesuatu yang begitu mengejutkan.
Pria itu mengartikan kecanggungan Asya sebagai sebuah protes pada apa yang tak bisa dia tolak sebagai seorang wanita. Fagan tahu jika Asya takut terjadi sesuatu padanya.
"Gosokkan punggungku, rasanya sudah lama sekali sejak penjagaku dirumahkan oleh Mama, tak ada yang menggosok punggungku," ujar Fagan.
__ADS_1
"Menggosok?" tanya Asya kaget.
Dia membulatkan matanya dan hal itu mengundang rasa penasaran Fagan. Pria itu menganggap Asya enggan melakukannya karena dia dalam keadaan telanjang.
"Apa aku perlu menggunakan kembali celanaku biar kamu tak merasa canggung?" tanya Fagan.
"Bu ... bukan itu, Tuan. Cuma ... sa ... saya itu, Tuan." Asya memberi alasan.
"Itu apa, Asya? Malu?" desak Fagan. "Kenapa malu? Bukankah aku suamimu? Apa itu tak cukup?" jelas Fagan.
"Bukan, Tuan. Bukan itu," kilah Asya.
Fagan melepar alat penggosok punggung ke arah Asya, dengan sedikit kaget dan terjingkat, Asya segera menangkapnya. Sedang Fagan segera memposisikan diri dengan duduk tegak agar punggungnya bisa digosok oleh sang istri.
"Asya, kamu siap untuk besok?" tanyanya.
"Tentu, Tuan. Saya sudah bekerja keras untuk menunjukkannya di depan Anda." Asya menjawab.
"Tak ada yang kamu takutkan?" tanya Fagan lebih serius.
Asya terdiam, tangannya juga berhenti menggosok. Dia membayangkan fokus utamanya mengikuti permainan ini. Dia ingin bertemu ayahnya, hingga tekad bulat Asya bisa membuatnya menjadi lebih kuat menghadapi segalanya.
__ADS_1
"Justru karena ada yang aku takutkan, Tuan. Sehingga saya bertekad untuk serius," jelas Asya ambigu.
Fagan bingung dengan apa yang Asya katakan. Dia merasa ada sesuatu yang sedang coba diutarakan Asya walau tak dengan kalimat yang jelas.
"Aku takut tak bisa bertemu dengan bapakku, Tuan. Rasanya aku harus bekerja keras untuk ini agar aku bisa menemuinya." Asya memperjelas apa yang dia inginkan dibalik semua ini.
"Asya," lirih Fagan terenyuh.
Nada bicara gadis itu menyesakkan dada Fagan. Dia yang selama ini bersikap keras bahkan sangat kasar pada Asya merasa bersalah. Apalagi sekedar mempertemukan Asya dengan sang ayah, bahkan dia secara terang-terangan mengusir ayah Asya saat berusaha menemuinya di perusahaan beberapa waktu lalu.
"Tuan, sungguh, setelah menerima takdir ini, tak ada yang aku inginkan kecuali bertemu dengannya. Aku mengharapkan kabarnya setiap saat dan setiap waktu," kata Asya.
Fagan menundukkan kepalanya. Dia dihancurkan oleh sebuah kerinduan istrinya pada sang ayah. Satu-satunya orang tua yang masih Asya miliki di dunia ini. Bisa dilihat jika ayah Asya adalah satu-satunya orang yang paling berharga untuk Asya sekarang ini.
"Temui dia besok selepas pesta. Aku percaya padamu jika kamu bisa melakukan semuanya. Kamu harus bisa menjadi yang terbaik besok dan segera mengambil hadiahmu untuk bertemu bapakmu," jelas Fagan.
Kalimat itu terdengar dengan dua arti bagi Asya. Satu sisi pria itu tengah mencoba membuat Asya terdorong untuk melakukan yang terbaik, tapi di sisi lain, dia merasa diberi kesempatan penuh untuk memiliki apa yang mereka berdua sepakati.
"Akan terdengar berbeda jika selama ini saya tak mendapatkan caci maki dan hinaan, Tuan. Tapi karena apa yang saya terima selama ini hanya sebuah keburukan, saya tak bisa berpikir ini akan menjadi baik untukku," jawab Asya.
Fagan seperti diremehkan, dia merasa sedang diungkit segala yang sudah dia lakukan. Walau semua adalah nyata, tapi bagi Fagan apa yang membuatnya melakukan semua itu pada Asya adalah sebuah hukuman.
__ADS_1
"Jangan membuatku terpojok, Asya. Atau kamu mau terima hukuman yang lebih buruk dari ini?" ancam Fagan.