
Asya dan Fagan sampai di rumah tepat sebelum makan malam tiba. Mereka masuk bersamaan dengan Abrisam yang merupakan ajudan pribadi Fagan.
"Ah, ini. Wanita yang sedari pagi nggak pulang." Maria menghardik dengan sebuah kalimat sindiran pada Asya.
"Dia keluar atas perintahku, Ma? Ada masalah?" tanya Fagan.
"Bukankah dia pergi bersama Isabelle?" sahut Maria lagi.
"Benar, tapi aku yang memintanya," jawab Fagan.
Maria belum menyadari perubahan yang ada pada Asya, dia tak memperhatikan detail dari rambut Asya yang jelas sekali. Dia hanya fokus pada sebuah lapar bag berukuran besar yang Asya tenteng saat itu.
"Butik mahal itu, apa ini, Fagan?" tanya Maria.
"Kami baru selesai fitting, Ma. Pesta Elina akan digelar esok hari, jadi kami mempersiapkan semua dengan baik. Aku tak mau terlihat buruk di mata wanita yang sudah sia-siakan aku," balas Fagan.
Seketika Maria tahu jika gaun yang ada di paper bag itu pasti mahal.
"Tak perlu berlebihan juga, Kak. Butik itu selalu punya koleksi limited edition. Harganya fantastik dan aku rasa berlebihan sekali kalau gadis kampungan kaya dia terima gaun mahal dari butik itu," kata Cecilia ikut campur.
Walau merasa terhasut, tapi Fagan masih punya pengendalian diri yang kuat. Seperti yang Isabelle katakan, Asya bisa menghadapi keadaan tersulit pun dengan caranya yang elegan.
__ADS_1
"Asya, kamu dengar yang mereka katakan?" tanya Fagan.
Gadis itu menoleh ke arah suaminya. Entah apa yang Fagan inginkan, tapi Asya merasa sedang dipertanyakan akan keberaniannya menghadapi situasi sulit seperti yang Isabelle lakukan.
"Dengar, Tuan. Saya mendengarnya." Asya menjawab.
"Apa tanggapanmu?" tanya Fagan lagi.
Asya melihat ke arah Cecilia. Dia melihat adik iparnya itu berdiri santai setelah mengeluarkan kalimat tak pantas untuknya. Biasanya Asya hanya akan diam dan menerima apa yang mereka katakan, hanya saja karena diberi panggung. Kali ini Asya berani bereaksi.
"Kampungan atau tidak itu tergantung mereka yang melihat, Tuan." Asya mengambil gaun itu dan membukanya tepat di depan Cecilia.
"Apa yang Tuan Fagan lihat saat saya mengenakan gaun ini? Apakah ada sisi kampungan yang sedang Nona Cecilia ini katakan?" dedak Asya.
Fagan spontan menggelengkan kepalanya, dia mengakuinya dengan jujur jika Asya sama sekali tak terlihat seperti gadis bawah yang lusuh dan dekil. Isabelle berhasil mengubah Asya menjadi gadis elegan dalam segalanya.
"Mama, lihat kukunya. Bahkan dia memakai nail art terbaik dari salon langgananku," ujar Cecilia.
"Berani-beraninya kamu mendahului trend dari putriku," sentak Maria.
"Maaf, Nyonya. Suamiku yang memesan ini untukku. Tanyakan padanya, Anda akan mendapatkan jawaban pasti darinya," jawab Asya, Fagan tertegun karena dia membuktikan apa yang Isabelle katakan. Asya bisa menyayat hati lawan bicaranya dengan tata bahasa yang baik dan lembut.
__ADS_1
"Kak, kamu sengaja ya, bikin dia ubah warna rambut, nail art sama beli gaun mahal ini?" Cecilia menghardik. "Gadis kampung akan tetep kelihatan kampungan, Kak. Sekalipun pakai gaun mahal, warna rambut paling hits, bahkan nail art paling up to date. Dia nggak akan berubah jadi putri raja," kata Cecilia menghina.
"Kita lihat saja besok, Nona. Kita lihat siapa yang akan tampil elegan dan menarik," ujar Asya dalam hati.
Wajah iri Cecilia tak bisa disembunyikan. Dia benar-benar merasa kakaknya itu menggelontorkan banyak uang untuk hal yang sia-sia. Dia berpikir, penampilan Asya saja tak cukup untuk membuat Elina menyesal sudah menyerah pada hubungannya dengan Fagan saat itu.
"Pasti dia akan bikin kesalahan fatal saat makan atau berjalan besok. Kita liat aja." Cecilia meramalkan. "Pikirin lagi buat bawa dia ke pesta itu, Kak," lanjutnya ketus.
Lagi-lagi Asya diremehkan oleh orang-orang yang membencinya. Melihat wajah Asya yang dingin, Fagan tahu jika ini cukup membuat Asya tertekan.
"Biar aku yang urus, Cecilia. Kamu tak perlu ikut campur," sahut Fagan.
Dia memerintahkan Asya untuk masuk ke kamar mengganti pakaiannya. Sepertinya malam ini Fagan ingin melihat kemampuan table manners yang Asya miliki. Dia memanfaatkan situasi untuk melihat itu semua tanpa membuat Asya sedang di uji.
"Jika bukan untuk bertemu Bapak, aku rasa aku tak akan sudi melakukan ini semua." Asya bergumam sembari berjalan ke kamar.
Hatinya sakit dengan berbagai hinaan yang dilontarkan ibu mertua dan adik iparnya itu. Walau hampir setiap hari dia mendapatkan perlakuan itu, tapi sepertinya hati Asya masih belum bisa baik-baik saja menerima semua itu.
"Aku harus buktikan kalau aku bisa menjadi seperti yang Tuan Fagan inginkan, kita lihat aja besok," kata Asya sembari mengganti pakaiannya.
Dia tak sabar menunggu esok hari untuk menunjukkan apa yang sudah dia pelajari beberapa minggu terakhir ini.
__ADS_1