
Mata Asya terbuka dengan sangat berat saat sinar matahari pagi menembus sela ventilasi udara kamar usangnya itu. Ternyata Asya terlelap setelah bergelut dengan kegelisahan hatinya yang begitu bergejolak semalaman hingga tanpa sadar matanya lelah dan tidur tanpa sengaja.
"Sudah pagi, Nak." Suara yang sangat dia rindukan itu mampir ke telinganya yang masih kosong.
Seketika Asya duduk dan melihat ke arah pintu yang hanya tertutup sebuah tirai itu. Segera sosok pria yang begitu ingin dia peluk itu dia lihat.
"Bapak," seru Asya dan segera berhambur ke pelukan pria paruh baya itu.
Dengan erat Asya mendekap sang ayah yang sudah beberapa minggu tak dia hubungi dan dia temui itu. Rasa bersalah berkecamuk dengan sangat cepat dan membuat air mata Asya jatuh tak tertahankan.
"Zalina bilang kamu datang semalam," kata ayah Asya.
Asya hanya menganggukkan kepalanya.
"Di mana suamimu?" tanyanya lagi.
Tenggorokan Asya terasa cekat. Dia tak tahu harus menjawab apa sehingga dia tak bisa mengatakan apa pun. Hanya gelengan kepalanya yang bisa dia tunjukkan menjawab jika suaminya tak ikut datang.
"Dia mengantarmu, bukan?" tanya ayah dua putri itu melanjutkan.
Asya menganggukkan kepala dengan pasti.
"Pasti dia sangat sibuk, hingga hanya mengantarkanmu saja," ujarnya datar.
Asya menenggelamkan dalam-dalam wajahnya ke dalam pelukan sang ayah. Dia mengisi kekuatannya dengan sentuhan kulit sang orang tua tunggal. Bagaimana pula, ini adalah sesuatu yang ingin dia lakukan sejak masuk neraka kehidupannya sebagai menantu keluarga Elvander.
Sementara itu, di sisi lain Fagan masih menikmati empuknya ranjang mewah kamarnya. Tak seperti biasanya yang diwarnai banyak sekali drama di pagi hari, kini terasa lebih tenang. Hingga beberapa saat kemudian, suara alarm ponsel Fagan membuat pria itu terjaga dari tidur lelapnya.
"Asya, bantu aku turun dari ranjang," seru Fagan spontan
Bahkan pria itu tak ingat jika semalam dia mengantar sang istri ke rumah orang tuanya sebagai hadiah atas apa yang dia lakukan.
"Asya!" serunya lagi tak sabar.
Hingga perasaan yang begitu kesal tiba-tiba menyergap Fagan dan membuat pria itu akhirnya membuka matanya. Dia dikuasai amarah seperti biasanya dan menganggap sang istri mengabaikan perintahnya.
__ADS_1
"Akh, aku lupa. Dia di rumah bapaknya," kata Fagan setelah menyadari jika wanita yang dia panggil-panggil itu tak ada di rumah.
Pria itu bangun dengan membuang segala perasaan kesal yang ada di hatinya. Dia berusaha melakukan semuanya sendiri karena memang Asya tak ada. Baru berpindah dari ranjang ke kursi roda saja sudah cukup membuat Fagan merasa membutuhkan istrinya itu. Segala keluh kesah dia ungkapkan sembari melakukan apa yang biasanya Asya lakukan untuknya.
"Kamu terlambat bangun?" tanya Maria.
"Bukan terlambat, memang karena aku melakukan semuanya sendiri," jelas Fagan.
"Sendiri? Di mana pembantumu itu?" Maria menganggap Asya sebagai pembantu putranya yang seharusnya mengurus segala hal yang Fagan butuhkan.
Fagan merasa kesal dengan sebutan sang ibu. Namun seperti biasa, dia tak bisa membantah wanita itu.
"Dia pulang ke rumah orang tuanya," jelas Fagan.
Maria meletakkan sendok yang ada di tangannya dengan keras dan menimpa piring. Suara keras antara sendok dan piring itu tak terhindarkan.
"Mama," seru Cecilia terkejut.
"Kamu sudah gegabah, Fagan. Bagaimana bisa kamu biarkan dia pulang?" cecar Maria sembari memicingkan matanya.
"Kamu seyakin itu? Bagaimana bisa?" desaknya.
Fagan mengulas senyum bahagia, dia ingat benar bagaimana Asya berhasil membuat Elina sakit hati dan merasa kesal pestanya sendiri. Pria itu merasa Asya berhasil memuaskan dirinya dengan segala yang dia lakukan di pesta itu semalam.
"Fagan," sentak Maria keras.
"Jangan khawatir, Ma. Aku sudah memberinya batasan, dia hanya sehari di sana," balas Fagan.
Saat Fagan menjelaskan semuanya, Cecilia nampak memperhatikan kakaknya itu dengan seksama. Nada bicara santai dan raut wajah yang berbinar, sudah lama tak nampak dari sang kakak. Sehingga dia mulai bertanya-tanya tentang segala sesuatunya.
"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa sesantai sekarang? Bukankah ini bukan Kak Fagan yang aku kenal?" Cecilia menghardik penuh dengan rasa penasaran.
Fagan menarik kembali senyum yang mengembang dan membuat wajahnya terlihat datar dan dingin seperti sedia kala. Dia sendiri juga tak mengerti apa yang membuatnya lebih santai dan sumringah.
"Apa yang akan terjadi jika Asya mengadukan semuanya? Apa kamu nggak berpikir sampai ke situ? Ceroboh sekali kamu, Fagan." Maria memperingatkan.
__ADS_1
Fagan seperti tak peduli pada ibunya, dia sama sekali tak merasa khawatir. Entah apa nyang membuat Fagan merasa semua akan baik-baik saja. Hanya ada sebuah rasa percaya yang begitu besar di hatinya tentang Asya sekarang ini.
"Ada meeting pagi, Tuan. Kita berangkat sekarang," kata Abrisam memberi informasi.
"Baiklah," jawab Fagan dan dia segera meninggalkan meja makan menuju mobil tanpa kata.
Maria dan Cecilia memandang Fagan dengan sangat aneh. Pagi berisik dan penuh drama itu seperti menghilang begitu saja tanpa arti. Caci maki yang biasanya menjadi senam bibir Maria di pagi hari juga tak terdengar sama sekali.
"Rasanya aneh, bibirku kaku pagi ini," ujar Maria merasa ada yang kurang.
Cecilia mengalihkan pandangan pada ibu kandungnya itu. Dia menghardik dengan tatapan serius dan seakan heran.
"Biasanya aku udah teriak-teriak, maki-maki dan nahan-nahan dada yang mau meledak kalo ada Asya. Tapi pagi ini polos aja gitu?" Maria menganalisa.
Seperti sebuah kecanduan, memakai dan meneriaki Asya sudah seperti hal yang harus dilakukan.
"Mama ini udah jadi psikopat asli ya, begini aja ngeluh? Bibirnya gatel, tangannya juga kebas kalo nggak nyakitin Asya?" Cecilia mengejek ibunya.
"Hati-hati kalo ngomong, Asya memang sasaran paling empuk kalo soal emosi. Aku bisa puas kalo melampiaskan semuanya pada Asya," ujar Maria dengan jahatnya.
Benar saja Maria menjadi semacam ketagihan untuk menyiksa Asya. Dia mencari-cari hal yang bisa dia lampiaskan setiap harinya. Hal itu terjadi begitu saja tanpa bisa ditolak. Bahkan Maria merasa terkadang ada dorongan besar untuk melakukan itu semua.
"Lia!" seru Maria memanggil kepala pembantu di rumahnya.
Dengan sigap, Lia segera datang. Dia meninggalkan apa yang tengah dia kerjakan untuk menghindari kata-kata kotor nyonya rumah itu jika sampai dia terlambat datang.
"I ... iya, Nyonya," kata Lia dengan napas tersengal.
"Telepon Abrisam dan minta Fagan menjemput Asya sekarang juga. Aku ingin dia di sini sebelum makan malam tiba." Maria memberi perintah.
"Tu ... Tuan Muda mengatakan jika mereka akan menjemput Nona Asya setelah makan siang, Nyonya. Abrisam baru saja menelepon untuk menyiapkan hidangan yang akan dibawa ke rumah orang tua Nona Asya." Lia menjelaskan dengan nada bimbang.
Dia sebenarnya tak yakin mengatakan semuanya, tapi mandat menyiapkan hidangan baru saja dia terima dari ajudan Fagan.
"Apa yang Fagan lakukan? Kenapa dia begitu luluh dan bersikap baik pada Asya?" Maria bertanya-tanya.
__ADS_1