
Asya diperintahkan Fagan untuk ke kamar, tapi tak ada yang terjadi. Pria itu terus menahan dirinya untuk tak bertindak gegebah. Dia tak mau membuat keadaan menjadi runyam. Bagaimana juga keadaannya tak seperti yang dia pikirkan. Apalagi hari menuju pesta sudah dekat. Sehingga untuk melampiaskan kemarahannya dengan pukulan seperti biasanya pun, Fagan tak mampu.
"Aku sudah hubungi Isabelle, besok kamu akan melakukan perawatan. Ikut dengannya dan jangan macam-macam." Fagan memberi perintah tegas.
Asya diam dan setuju, tak ada yang bisa dia lakukan. Penolakan yang ingin dia lakukan rasanya percuma saja, tak ada gunanya. Sehingga apa pun yang Fagan inginkan, Asya hanya menyetujuinya.
"Satu lagi, Asya. Aku tak menyentuh bapakmu sama sekali. Aku hanya menolak bertemu dengannya saja. Nggak perlu lagi kamu menggali informasi dari Abrisam atau yang lainnya. Jangan bikin aku marah," jelas Fagan lagi.
"Baiklah, Tuan." Asya mengeluarkan suaranya yang begitu lemah.
* * *
Isabelle melaporkan pada Fagan jika Asya sudah siap secara fisik maupun mental. Apa yang gadis itu pelajari selama ini sudah cukup dan bisa dipastikan jika Asya mampu menghadapi situasi yang memang akan dia hadapi saat pesta pertunangan Elina dan Aksa nantinya.
"Kamu akan menikmati banyak hal hari ini, bersiaplah," ujar Isabelle.
__ADS_1
Asya hanya diam, dia ikut wanita itu ke sebuah salon perawatan yang mentereng dan juga sangat besar. Berbekal kartu tanpa limit yang diberikan Fagan, mereka mereservasi perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki untuk Asya.
"Dia pantas dapatkan ini. Aku pikir selama beberapa terakhir pasti Fagan menahan sikapnya. Tak ada lebam atau apa pun di seluruh tubuhnya. Dia baik-baik saja," kata Isabelle sembari melihat Asya keluar dari ruang ganti dengan sebuah kain yang membalut tubuhnya.
Gadis itu dipijat dan diberi lulur terbaik, sungguh Asya menikmati hal itu tanpa protes. Setelah hari yang sulit dan mengerikannya hidup sebagai seorang menantu keluarga Elvander, akhirnya dia bisa sedikit melupakan apa yang terjadi padanya selama ini.
"Aku nggak boleh terlena menikmati ini, ini hanya buaian Fagan untuk mengikatku lebih kencang lagi," ujar Asya yang tiba-tiba membuka matanya.
"Maaf, Nyonya. Tutup matanya lagi, kami akan mengaplikasikan masker terbaik yang akan membuat kulit Anda semakin cantik," ujarnya.
Asya mengagumkan kembali kedua matanya tanpa menolak, hingga tiba-tiba rasa sejuk dia rasakan membalut seluruh kulit wajahnya. Selesai dengan perawatan tubuh dan kulit, Asya berpindah perawatan kuku-kukunya. Sepertinya dia sudah tiga jam berada di salon kecantikan itu. Petugas bagian kuku itu membersihkan dan membuat setiap kuku dari Asya menjadi indah. Dia memasang melakukan nail art terbaik yang mereka miliki.
Asya hanya mengulas senyuman. Dia tak berkutik dengan pujian dan juga kalimat yang sangat jarang dia dengar. Selama menjadi istri Fagan, hanya caci maki dan teriakan yang dia terima, sehingga dia tak punya kesempatan untuk mendengarkan kalimat membangun untuk dirinya sendiri.
Beralih pada sebuah kaca besar, seorang ahli penata rambut membuat perubahan pada rambut Asya. Rambut hitam panjang itu dinetralkan warnanya dan dipoles dengan warna pirang gelap dan diseling dengan warna light agar nampak menarik. Setelah proses pengerjaan yang panjang dan cukup menyita waktu muncullah tatanan rambut yang begitu pas untuk Asya. Poni tipis dan potongan berbetul layer dua tingkat itu membuat Asya nampak segar dan semakin cantik.
__ADS_1
"Aku sudah selesai," kata Asya keluar menemui Isabelle yang menunggu di bagian luar salon.
"Wah, mereka membuatmu nampak semakin segar." Isabelle kagum pada penampilan baru Asya kali ini yang lebih segar dan nampak seperti putri raja.
Keanggunannya sangat cocok dengan sebuah dres warna pink yang menempel di tubuhnya kali ini. Aksen tapi besar yang melingkar di pinggang Asya membuat tubuh proporsional gadis itu semakin terlihat.
"Sekarang kita temui Fagan di butik langganannya. Dia sudah menunggumu untuk fitting," ajak Isabelle.
"Butik?" tanya Asya.
Isabelle menganggukkan kepalanya. Dia mengiyakan pertanyaan Asya yang sepertinya nampak bingung.
"Apakah ini kebiasaan orang kaya. Memesan pakaian khusus yang hanya akan mereka pakai sekali saja?" gumam Asya dalam hati.
Dia merasa hal itu hanya pemborosan saja, sehingga membuatnya harus mengikuti apa yang kebiasaan keluarga konglomerat lakukan. Langkah kaki Asya begitu anggun saat dia memasuki butik yang dari luar saja sudah terlihat sangat mewah.
__ADS_1
"Astaga, apa benar dia Asya?" Fagan terkejut dengan penampilan baru istrinya yang sangat berbeda dengan Asya yang biasa dia lihat di rumah.
Mata Fagan menatap ke arah gadis anggun yang berjalan di belakang Isabelle itu tanpa berkedip. Sungguh sangat mempesona Asya sekarang ini di mata Fagan.