
Asya turun setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Make-up tipis yang biasa dia poles kan di wajahnya nampak lebih terlihat. Karena beberapa hari Asya tak mendapatkan perlakukan kasar, kondisinya sangat prima. Dia sehat dan bebas luka lebam.
"Lihat dia, sudah ada kemajuan. Dia bersolek sekarang," ujar Maria.
"Aku mendatangkan Isabelle untuk itu, Ma." Fagan menimpali.
Cecilia mengarahkan pandangan kepada kakak iparnya itu. Seketika bibirnya mencebik. Dia seperti orang yang kalah populer sekarang, sehingga ada rasa iri yang ada di dalam hati gadis itu.
"Duduk, Asya." Fagan memberi perintah pada Asya.
Sembari menganggukkan kepalanya, Asya segera duduk di samping kursi roda suaminya itu. Ini adalah pertama kalinya Asya duduk di meja makan bersama semua keluarga Elvander. Dia nampak percaya diri dan tak ada kata menunduk.
"Wah, bahkan dia sudah lupa caranya menunduk," oceh Cecilia.
Asya memandang ke arah Cecilia dan mengulas senyum manis. Hingga pada akhirnya mereka makan tanpa suara karena terpukau dengan kemampuan Asya dalam hal tata cara makan.
"Sempurna," kata Fagan lirih.
Dia melihat gadis kampungan itu melakukan segalanya dengan baik. Sama sekali tak kurang satu apa pun. Dia terlihat anggun dan sangat luar biasa. Dalam waktu yang tak lama, Asya menguasai semua tanpa kesulitan.
"Dia mengagumkan, bahkan sangat rapi dan begitu anggun," puji Cecilia diam-diam.
__ADS_1
Tak hanya Fagan, Cecilia dan Maria ternyata juga merasa sangat kagum. Bagi mereka berdua, ini adalah sebuah hal yang tak bisa dipungkiri sama sekali. Asya yang terus mereka anggap gadis kampungan, murahan dan norak bertransformasi menjadi gadis yang anggun dan elegan setelah dibimbing dan digembleng oleh Isabelle selama beberapa waktu.
Cara jalan naik turun tangganya juga tak ada cela, semua benar-benar membuat Asya jauh lebih terhormat daripada dia yang biasanya.
"Kamu belajar dengan baik, Asya." Fagan mengatakan kalimat pujian.
"Nyonya Maria mengatakan jika kamu membayar Isabelle dengan harga yang mahal, jadi aku harus sungguh-sungguh," jelas Asya menimpali.
"Selama ini kamu baru berhadapan dengan aku, Fagan dan Cecilia saja. Belum dengan kolega-kolega dan juga tekan bisnis yang akan kamu temui di pesta itu, Asya." Maria memberi peringatan.
"Saya siap, kok. Bahkan sekarang juga jika harus berangkat saya siap," jawabnya.
Tak ingin membuat suasana menjadi semakin buruk, Fagan memerintahkan istrinya untuk membawanya ke kamar. Dengan segera Asya berdiri dan membawa Fagan ke kamar.
"Kamu berubah, kamu belajar dengan baik, tapi bukan berarti kamu boleh bersikap tak sopan pada mamaku," ujar Fagan mengingatkan.
"Maaf, Tuan. Saya hanya terbawa suasana dan kebiasaan saat bersama Isabelle saja." Asya berdalih.
"Bisa-bisanya alasanmu itu, Asya," sahut Fagan ketus.
Asya memang sengaja menggunakan alasan itu untuk melindungi dirinya dari segala hal yang tak dia inginkan. Bagaimana juga keadaannya tak pernah sama sebelum dia diajar oleh Isabelle. Ini adalah kesempatan bagi Asya untuk membuat orang-orang di sekitarnya mengetahui jika dia sudah tak lagi sama dengan Asya yang dulu.
__ADS_1
"Mendidikmu seharusnya menjadi keuntungan bagiku, jangan malah jadi alasan untuk melawan dan mempermalukan aku dan keluargaku, Asya. Ingat itu dan camkan dalam dirimu," ujar Fagan begitu mereka berdua sampai di kamar.
Asya berusaha tak peduli karena memang ini adalah yang dia inginkan. Dia menghilang di balik pintu kamar mandi dan bersiap membantu suaminya membersihkan diri. Asya menyiapkan segala sesuatu yang Fagan butuhkan, termasuk air hangat yang pria itu minta. Fagan ingin berendam setelah sekian lama tak berendam. Dia merasa otot-otot tubuhnua perlu dirileksasi agar lebih santai, sehingga dia memberi perintah pada Asya untuk menyiapkan segalanya.
"Sudah siap, Tuan. Biar saya bantu," kata Asya.
Dia membantu melucuti semua kain yang menempel di tubuh Fagan. Mulai dari kemeja, kaos dalam, celana hingga terakhir penutup paling melekat di tubuh pria itu. Rasa canggung Asya singkirkan jauh-jauh karena itu sudah menjadi tugas pokoknya setiap hari. Sehingga mau tak mau dia harus menerima apa yang menjadi kewajibannya.
"Pelan-pelan, Tuan." Asya membantu Fagan turun dari kursi roda menuju bath up.
Walau kedua kaki Fagan lumpuh, agaknya pria itu masih punya kekuatan penuh pada tulang belakang dan tangannya sehingga Asya hanya membantu mengangkat kaki pria itu agar masuk sempurna pada gak air panas yang dia siapkan.
"Tinggalkan aku, aku akan memanggilmu setelah selesai," perintah Fagan.
"Baiklah, Tuan." Asya segera beranjak.
Dia menyalakan lilin aroma terapi dan juga menyiapkan handuk di dekat bath up.
"Permisi, Tuan," pamitnya.
"Tunggu, Asya. Aku menarik kata-kataku untuk menyuruhmu keluar. Aku butuh kamu di sini," kata Fagan menahan Asya keluar kamar mandi.
__ADS_1