KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
37. Telepati


__ADS_3

Tak lama berselang, lamunan Asya seketika lenyap karena suara melengking Maria dari luar. Wanita itu memanggil Asya karena di luar berdatangan beberapa orang yang beralasan akan membereskan kamar mandi kamar Fagan. 


"Kamu ya, yang minta Fagan buat cari mereka? Bukannya sudah kamu bereskan?" celetuk Maria. 


"Ada beberapa sisi yang rusak, Nyonya. Hanya bisa dibenarkan oleh orang yang ahli. Baru saja Tuan Muda menelepon dan mengatakan jika dia yang meminta Abrisam mencari ahlinya," jelas Asya. 


"Alasan lagi, palingan ini akal-akalan kamu aja merengek sama Fagan biar dikasih keringanan," tuduh Maria. 


Asya tak membantah, dia terlalu hafal dengan sikap ibu mertuanya itu. Dia bisa lakukan apa pun jika sedang marah dan selalu menganggap apa yang dikatakan Asya selalu salah. 


"Bawa mereka, setelah itu aku tunggu kamu di kamarku," perintah Maria. 


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengantar para ahli itu dan menunjukkan bagian mana saja yang harus diperbaiki. Setelah selesai seperti yang Maria harapkan, Asya segera menuju kamar ibu mertuanya itu. Belum jelas apa yang Maria inginkan darinya, yang jelas dia hanya perlu menemui wanita itu agar tak membuat permasalahan semakin besar. 


"Masuk, Asya." Maria memberi perintah. 


Kaki Asya segera melewati ambang pintu dan melihat seisi kamar yang begitu mewah. Di depan matanya saat ini adalah kamar sang nyonya rumah di mana biasa digunakan Maria beristirahat selama ini. 


"Bereskan semuanya, aku rasa sejak kamu dan Fagan menikah, aku belum pernah meminta bantuanmu untuk melakukan ini. Sekarang aku minta bantuanmu," ujar Maria dengan nada yang ketus. 


Mata Asya melihat ke sekeliling ruangan yang sangat luas itu. Mulai dari ranjang, meja rias, sofa, lemari baju, lemari tas, lemari sepatu sampai dengan rak buku semua nampak sangat rapi. Entah apa yang dimaksud wanita itu untuk merapikan dan membereskan semua yang ada. Tentu saja Asya bingung. 


"Tunggu apa lagi?" paksa Maria tanpa pikir panjang. 


"Ah, i ... iya, Nyonya," balas Asya. "Saya akan ambil peralatannya dulu," lanjutnya dan segera pergi keluar. 


Dia berjalan dengan sangat hati-hati keluar dan mengendap ke dapur. Dia mempersiapkan semuanya sebelum kembali lagi ke kamar Maria. Walau bingung, tapi Asya membawa semua yang sekiranya bisa dia pakai untuk menyelesaikan apa yang ibu mertuanya minta. 


"Mau ke mana, Asya?" Lia muncul. 

__ADS_1


"Itu, ke kamar Nyonya Besar." Asya menjawab singkat. 


Lia keheranan karena banyaknya peralatan yang Asya bawa di tangannya. "Untuk apa semua itu?" tanya Lia yang menggunakan matanya untuk menunjuk semua alat yang ada di tangan Asya. 


"Aku harus bersihin kamar Nyonya Besar," jawab Asya singkat. 


"Tapi, kan?" sela Lia. 


Dia kemudian berhenti karena melihat wajah murka Maria yang berada di belakang Asya saat ini. "Pembantu baru saja selesai membersihkan tempat itu," lanjutnya dalam hati. 


"Aku tau, kok, kamu mau bilang apa?" sahut Asya. 


"Udah sana pergi," pinta Lia karena tak mau Asya kena masalah karena ada Maria di antara mereka berdua di sana. 


Asya berbalik arah dan melihat Maria berdiri dengan tatap mata yang mengerikan. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada dan wajah murkanya begitu membuat Asya menjadi takut. 


"Apa yang kamu tahu, Asya?" tanya Maria. 


"Cih, alasan." Maria menangkap sinyal kebohongan yang Asya katakan. Dia tak percaya begitu saja pada Asya. 


Namun gadis itu sudah terlanjur pergi menjauh dari Maria menuju kamarnya karena tak mau menambah keributan lagi. 


"Kamar udah bersih dan beres kok minta dibersihin sama diberesin lagi, kan aneh," kata Asya dalam perjalanan. 


Sepertinya Asya sudah menduga lebih cepat apa yang terjadi pada Maria. Sebenarnya apa yang wanita itu inginkan darinya semua tergambar dengan jelas. Semua seperti sebuah hal yang memang disengaja untuk membuat Asya menderita. 


"Tuan Muda, tidakkah kamu mendengarku? Bukankah kamu memintaku menghubungimu jika ada hal yang membuatku tak nyaman. Saat ini adalah hal paling tak nyaman yang aku rasakan, tapi sayangnya aku nggak bisa bilang sama kamu. Aku nggak bisa hubungi kamu dan mengadukan semua ini padamu," ujar Asya sembari membersihkan sisa debu. 


Asya bekerja keras mengulangi apa yang sudah dibersihkan oleh para pembantu rumah itu kemarin. Dia tahu jika semua sudah bersih, hanya saja mertuanya itu tak membiarkan Asya bersantai saja, sehingga meminta Asya mengulangi semuanya. 

__ADS_1


Belum juga Asya menyelesaikan pekerjaan itu, satu jam berselang mobil Fagan masuk ke halaman rumah. Secara tak terduga, pria itu pulang dengan alasan mengecek ahli yang diminta membereskan kamar mandinya yang beberapa bagiannya memang rusak karena amukan Fagan semalam. 


"Fagan pulang?" ujar Maria. 


Dia segera menyambut putranya itu ke ruang tamu. Hatinya penuh tanya karena tak biasanya Fagan pulang lebih awal seperti sekarang. Sudah tiga jam Asya bergelut dengan debu-debu halus di kamar ibu mertuanya itu, hingga dia tak menyadari jika apa yang dia ucapkan satu jam yang lalu itu menjadi kenyataan. Fagan pulang tanpa kabar apa pun. 


"Kamu sudah pulang? Bukanlah tadi berangkatnya terlambat?" cecar Maria. 


"Ah, benar. Aku berangkat terlambat tapi pulang lebih cepat. Aku harus memastikan para ahli keramik dan design interior yang Abrisam pilih ini bagus. Jadi aku pulang," ujar Fagan memberi alasan. 


"Mereka sedang bekerja, Sayang." Maria menjelaskan. 


Fagan masih mencari keberadaan istrinya yang tak juga muncul. Dia penasaran karena ingin melihat Asya segera ada di hadapannya. 


"Di mana dia? Aku pulang karena merasa dia memintaku pulang," gumam Fagan dalam hatinya. 


Ternyata Fagan pulang karena merasa Asya memintanya pulang. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Asya saat dia tinggalkan. Apalagi Fagan tahu jika ibunya itu adalah orang yang tega melakukan apa pun pada Asya. 


"Kamu cari siapa, Nak?" tanya Maria yang melihat putranya menoleh ke mana  dan ke kiri sejak tadi. 


"Asya, Ma." Fagan mencoba jujur. 


"Asya?" tanya Maria seketika memelototkan matanya. 


Belum juga Fagan membalas apa yang menjadi keheranan ibunya, Tiba-tiba terdengar suara pecah dan seperti sesuatu yang ambruk ke lantai. Seketika Fagan menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari kamar ibunya. Matanya bergetar dan penuh tanya. 


"Apa itu, Ma? Siapa yang ada di kamar Mama?" tanya Fagan khawatir. 


Maria mengangkat kedua bahunya dan segera berlari ke dalam kamarnya. Dia menebak ada sesuatu yang Asya hancurkan saat itu hingga terdengar suara benda pecah dan juga sesuatu yang jatuh dengan begitu keras. 

__ADS_1


"Ya Tuhan, Asya." Maria berteriak dengan nada suara yang ketus dan khawatir secara bersamaan. 


__ADS_2