
"Nggak ada penolakan, Asya." Fagan mengertak.
"Aku berhak menolak, Tuan," balas Asya yang tak setuju.
"Keinginanku sekarang adalah hak bagimu. Kamu harus ikut kursus itu dan mempelajari semua yang perlu kamu pelajari. Nggak ada kata nggak bisa dan nggak mau," jelas Fagan.
Rasanya sudah percuma Asya menolak, pria itu tak berhenti memberikan tekanan pada Asya tiap kali terjadi cekcok. Belum lagi jika suara cekcok mereka sampai ke telinga Maria. Semua akan menjadi semakin rumit dan semakin tak berarah.
"Gurumu akan datang besok, jadi jangan lakukan kesalahan agar tak terjadi sesuatu pada wajahmu dan mengundang sebuah anggapan buruk dari gurumu," kata Fagan lagi.
Asya bergerak pergi, nyatanya itu tak bisa dia tolak saat ini. Tak tahu apa yang akan terjadi besok saat gurunya datang, Asya memilih untuk tak terlalu memikirkan hal itu. Bagaimana juga keadaannya memang tak bisa dia hindari. Keinginan Fagan adalah hak Asya untuk saat ini. Hal itu bagai sebuah remisi yang Fagan berikan pada Asya padahal sama sekali tak berpengaruh apa pun bagi wanita itu.
"Wah, kakakku memberikan angin segar untukmu. Dia panggil Isabelle buat kasih kursus buat kamu. Mengejutkan sekali," kata Cecilia.
Asya enggan menimpali, dia sudah cukup hafal dengan adik iparnya itu. Sehingga dia memilih untuk diam.
"Heh, budeg ya? Kamu tahu siapa Isabelle?" Cecilia mengertak ketus.
"Tentu saja tidak, Nona. Siapa saya yang sampai orang-orang penting di sekitar kalian bisa mengenalnya." Asya sengaja merendah.
__ADS_1
Cecilia adalah gadis yang mudah terbawa emosi dan mudah sekali mengeluarkan kata kotor, sehingga Asya mengambil sela hatinya agar keadaan tetap kondusif. Mengingat hari ini Asya masih harus menyiapkan makan siang untuk ibu dan adik mertuanya itu.
"Ah, kamu bener. Mana mungkin gadis pungut kaya kamu kenal Isabelle. Siap-siap aja deh digembleng sama dia. Jangan macem-macem dan jangan main-main. Hadapi dia dengan seluruh kekuatanmu." Cecilia mengingatkan.
Asya membayangkan Isabelle adalah seorang guru yang kejam. Entah apa yang akan wanita itu ajarkan, Asya bahkan tak tahu. Tapi apa yang Cecilia katakan sudah cukup membuatnya takut.
"Biar saya yang bereskan," kata Lia mengambil alih.
"Ah, udah beres, kok. Bawa ini ke rumah belakang. Minta para pegawai rumah untuk makan sekarang. Meja makan sudah siap, Mama dan Cecilia akan turun setelah pelayan pribadi mereka meminta. Dia sudah naik buat memberitahu," jelas Asya.
"Nyonya? Anda memasak untuk kami?" tanya Lia terkejut.
"Hm, ini ucapan terima kasih karena kalian udah temenin aku saat aku sendiri dan selalu bantu aku, pas aku butuh," jelas Asya yang menganggap makan siang yang dia buat saat itu sebagai tanda terima kasih.
"Hanya apa, Lia? Kalian berdua sekongkol?" sentak Maria yang tak sengaja mendengar obrolan mereka berdua.
"Eng ... enggak, Nyonya Besar. Saya cuma ...," jawab Lia gagu.
"Cuma apa? Kamu bantu Asya, kan, selama ini." Maria terlanjur marah. "Aku bayar kamu buat kerja, Lia. Bukan buat belain gadis kampung ini saat dia ada masalah di rumah ini," lanjutnya.
__ADS_1
Lia hanya terdiam. Dia tak menggubris apa yang majikannya itu katakan karena sudah terlalu biasa. Dia juga tak bisa mengeluarkan kalimat bantahan yang tepat untuk Maria.
"Mah, Lia mulai macem-macem keknya," ujar Cecilia.
"Bener, ternyata. Cecilia ini juga ular. Bahkan apa yang keluar dari mulutnya itu semuanya adalah kesakitan bagi orang yang dengar." Asya bicara dalam hati. "Menu makan siang seperti yang Nyonya Besar inginkan sudah siap, silakan dinikmati," ujar Asya memisah keadaan.
Saat Maria dan Cecilia mulai duduk di kursi, Asya memberi kode Lia untuk segera pergi. Dia tak mau pembantu itu menerima hukuman atas apa yang Asya lakukan.
"Apa sekarang kamu yang keluarkan uang belanja? Sampai-sampai kamu berani ambil bahan memasak untuk memberi makan mereka?" Maria menghardik.
"Nggak usah sok baik deh kamu, dasar, norak." Cecilia ikut mengumpat.
"Maaf, Nyonya. Saya cuma mengefisensikan waktu saja. Saat saya membuat ini secara bersamaan, pasti akan lebih mudah segala sesuatunya." Asya menjelaskan.
"Alasan aja kamu, tuh. Cuma mau cari muka dan cari temen yang bisa belain kamu aja, kan?" gertak Maria dengan kasar.
Jam makan siang Asya bahkan dia habiskan untuk menuruti apa yang Maria inginkan. Menu makan siang yang mereka minta cukup memusingkan Asya. Masih untung ada buku resep keluarga itu yang ada di dapur. Sehingga Asya bisa menggunakan itu untuk membuat makan siang keduanya.
* * *
__ADS_1
"Ayo negosiasi lagi, kita barter sama hadiah biar menarik," kata Asya pada suaminya.
Fagan menatap ke arah wajah Asya. Dia heran karena gadis itu cukup pintar juga.