KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
15. Bantuan Datang


__ADS_3

Asya terkejut karena ibu mertua jahatnya itu tiba-tiba muncul saat dia menyombongkan dirinya. Dia menciut dan hanya diam menunduk. Apa daya, Asya begitu takut karena pukulan tangan wanita tua itu bisa membuatnya pingsan mendadak. 


"Asya, angkat wajahmu. Kenapa kamu menunduk? Bukankah kamu tahu cara menghadapinya?" ucap Isabelle dengan nada tinggi. 


Asya baru saja mendapat pelajaran menghadapi orang angkuh yang berani menghina dan mengatakan jika dia tak berarti. Hal itu tentu saja membuat Asya serba salah. 


"Memiliki suami yang punya kekurangan, akan membuatmu menerima banyak sekali tekanan. Kenapa hal kaya gini aja bikin kamu ciut. Ayo lakukan apa yang baru saja kamu pelajari. Kamu berhasil membuatku lumpuh tadi, kenapa sekarang kamu diem?" desak Isabelle. 


"Apa maksudmu, Isabelle? Kenapa kamu paksa dia buat lawan aku?" sentak Maria tak menyangka. Dia tak habis pikir jika pelatih itu akan memanfaatkan keadaan untuk mempraktikan sesuatu yang dia ajarkan pada Asya. 


"Bukan, Nyonya. Dia butuh situasi nyata agar apa yang aku ajarkan benar-benar bisa dia hadapi. Ini adalah moment yang tepat," balas Isabelle. "Lakukan, Asya! Bukankah ada banyak kalimat yang ingin kamu ungkapkan? Lakukan sekarang, atau harga dirimu dan suamimu akan dipertanyakan," jelas Isabelle dengan perintah tegasnya. 


Asya mencerna dengan baik apa yang mentornya katakan. Benar adanya jika hatinya menumpuk segala kalimat yang ingin dia ucapkan. Hanya saja, dia selalu takut terkena pukulan maut wanita itu. Namun saat Isabelle mengatakan jika ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, Asya tak mau kehilangan kesempatan. 

__ADS_1


Perlahan, wajahnya diangkat. Tatap mata yang kini menyorot tajam ke arah Maria cukup memberikan intimidasi. Banyak hal yang sedang dia transfer melalui tatap mata itu. 


"Silakan hina saya, Nyonya. Silakan berkata sesuai yang Anda inginkan. Hanya saja ingat satu hal, ketika seseorang berkata buruk soal orang lain, bisa dipastikan dia tak lebih baik dari yang dia hina." Asya mulai menghardik dengan cara yang luar biasa. "Mau aku tunjukkan apa saja yang menjadi kekekurangamu dan menjadi kelebihanku?" lanjutnya mengancam. 


Maria terdiam dengan apa yang Asya katakan. Kalimat itu menusuk tajam ke hati Maria tanpa ampun. Memang wanita itu terus saja menjadikan Asya sebagai terdakwa atas segala hal buruk yang terjadi. Mulai dari hal-hal kecil, sampai hal paling besar yaitu kecelakaan yang sebenarnya tak pernah ada hubungannya dengan Asya. 


"Kenapa, Nyonya? Nyonya terkejut? Bukankah hidup ini penuh dengan kejutan?" imbuh Asya. "Saya belajar ini dari Nyonya Besar rumah ini. Banyak hal yang dia ajarkan selama ini padaku, termasuk kalimat yang aku ucapkan," kata Asya belum menyerah. 


Keheningan terjadi selama beberapa saat, mereka terlibat perang Dingin karena Maria tak mampu membalas apa yang Asya katakan padanya. Hingga akhirnya, suara tepuk tangan memecah keheningan itu. Isabelle memberikan apresiasi atas apa yang Asya lakukan. 


Asya memasang wajah polosnya, wajah yang dia tunjukkan tadi memang bukan sandiwara. Dia sengaja karena itu adalah bagian terbaik dalam hidupnya setelah menikah dengan Fagan. Dia dengan sangat elegan memaki habis mertuanya yang punya mulut besar itu. Bagaimana juga kesempatan itu seperti sebuah jalan balas dendam dan terbukti Asya bisa membungkam mertuanya dengan kalimat-kalimat penuh diri itu. 


"Pukulan telak itu membuatnya tak berdaya. Andai saja bisa setiap hari begini, pasti aku nggak akan merasakan sakit hati." Asya bergumam dalam hatinya. 

__ADS_1


Mendengar pujian Isabelle pada Asya, membuat Maria menjadi kesal. Dia menyelinap pergi dari ruangan itu. Rasanya dia sudah mati kutu karena apa yang Asya cecarkan padanya. 


"Kalimatmu begitu busuk, hanya saja caramu menyampaikan sangat rapi. Walau sangat halus, tapi itu menusuk tepat di hatinya. Aku pastikan, dia sedang mengulangi kata-kata yang tadi kamu ucapkan, Asya." Isabelle memuji Asya lagi. 


Asya kembali tertunduk. Dia takut dianggap berani setelah memaki habis Maria. Asya baru ingat lagi, apa pun bisa Maria lakukan padanya setelah Isabelle pergi. 


"Aku pastikan kita akan bertemu besok dengan wajahku yang lebam." Asya tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya. 


"Asya, jangan khawatir. Pesta itu hanya tinggal menghitung hari. Nggak mungkin mereka akan macam-macam padamu. Fagan sudah mengatur semuanya, sehingga Nyonya Besar memilih pergi tadi karena dia takut kehilangan kontrolnya." Isabelle sepertinya sudah mengetahui apa yang biasa Asya terima dari anggota keluarga Elvander itu. 


"Aku wanita, aku sering melihat tanganmu, kakimu, pipimu dan beberapa bagian lainnya lebam. Aku bertanya pada Fagan dan dia menjelaskan beberapa hal. Asya, kamu harus bisa membuat mereka takluk." Isabelle ternyata berdiri di pihak Asya setelah mencerna penjelasan Fagan. 


Asya terkejut dengan apa yang wanita itu katakan. Dia seperti menemukan baju untuk bersandar setelah kehilangan arah dan setelah Lia diancam Maria jika terus dekat dengan Asya. 

__ADS_1


"Aku akan membantumu, sebisaku," kata Isabelle. 


__ADS_2