KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
35. Ketahuan


__ADS_3

Asya begitu lelah, sehingga matanya terpejam dengan sangat kuat. Bahkan dia sama sekali sudah tak sadar jika dia hanya perlu menemani Fagan sampai dia lelap tertidur saja dan segera pergi. 


"Apa yang aku pikirkan," kata Fagan dengan sangat kaget karena tangannya tiba-tiba tergerak untuk membelai rambut Asya yang terjatuh menutupi wajahnya. Dia dengan sangat lembut menyingkirkan rambut itu dari wajah sang istri. 


Mata Fagan tak bisa berhenti menatap gadis yang terus saja menerima siksaan darinya itu. Dengan sangat kejam bahkan Fagan acap kali membuat bekas luka memar di tubuh Asya tanpa ampun. 


"Pasti sakit, Asya. Aku yakin, semua yang aku dan Mama lakukan padamu, pasti meninggalkan luka yang tak terperi," jelas Fagan menyesal. 


Hati yang dingin pria itu di penuhi dengan rasa menyesal yang entah dari mana datangnya. Dengan rasa yang begitu saja muncul, Fagan dibuat tak berdaya sekaligus tak percaya. 


"Bahkan ciuman yang aku berikan padanya itu, bukan sebuah sandiwara. Aku melakukannya karena aku ingin melakukan itu," aku Fagan. 


Pria itu mengakui jika dua ciuman yang dia berikan pada Asya secara beruntun itu bukan sebuah sandiwara. Hanya saja pengakuan itu sama sekali tak didengar oleh Asya. Sehingga rasanya percuma saja. 


Hingga malam semakin larut, Fagan ikut memejamkan matanya. Dia tak lagi memikirkan apa yang terjadi selama ini dan apa yang baru saja terjadi di kamar itu. Akukan besar Fagan bahkan terlupakan begitu saja oleh pria itu. Rasanya Fagan lupa jika keadaan kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu hancur berantakan tak bersisa. Hingga matahari terbit, keduanya masih belum membuka matanya. Mereka masih cukup lelap, sampai-sampai Maria masuk membuka pintu pun, tak satu dari mereka yang mendengarnya. 


"Apa ini?" sentak Maria yang melihat sangat putra dan Asya tidur saling berpelukan. 


Matanya melotot dan tangannya berkacak pinggang dengan sangat angkuh. Wanita paruh baya itu marah karena gadis kampung yang sangat dia benci itu berani menyentuh putranya. Maria menarik lengan Asya hingga membuat keduanya terbangun dari tidur nyenyak yang sebelumnya belum pernah terjadi. 


"Berani banget kamu, ya." Maria mengertak Asya dengan suara yang cukup lantang. Tarikan tangan Maria yang cukup kuat, juga membuat Asya terperanjat. Dia mengusap kedua pipinya dan segera turun dari ranjang Fagan. 


"Ma ... maafkan saya, Nyonya." Asya meminta maaf karena merasa bersalah. 


"Maaf, maaf, kamu lancang banget ya, naik ke ranjang dan tidur kaya gitu," balas Maria. 


Asya memandang ke arah Fagan dan dia ingat bagaimana posisinya saat terbangun tadi. Pelukan hangat Fagan bahkan masih menempel di kulit gadis itu. Apalagi aroma tubuh pria itu, begitu semerbak di pakaian yang Asya kenakan. 

__ADS_1


"Jangan mentang-mentang anakku lagi tidur terus ku cari kesempatan, ya, Asya. Jangan pikir semua laki-laki bisa kamu bikin nafsu sama kamu dan menyerahkan diri, ya. Murahan banget kamu ini," hina Maria. 


"Cukup, Ma. Cukup. Ini bukan salah Asya. Aku yang minta dia buat menemani aku semalam. Dia nggak lakuin apa yang Mama tuduhkan dan dia tidur lebih awal dari pada aku," jelas Fagan. 


Dia membela Asya sesuai dengan apa yang terjadi. Biasanya Fagan hanya akan menerima apa yang ibunya katakan dan membiarkan Asya dicaci maki tanpa alasan. 


"Fagan," protes Maria. 


"Aku mengatakan apa yang sebenarnya, Ma. Asya nggak seperti yang Mama bilang, dia sama sekali tak menyentuhku," balas Fagan. 


"Tapi aku melihatnya, Fagan. Kalian berdua ... eh ... kalian berdua berpelukan tadi," sela Maria. 


Asya segera mengusap jijik pada lengannya, dia tak menyangka jika dirinya dan Fagan saling memeluk semalaman. Bahkan dia masih tak percaya jika apa yng terjadi pada dirinya dan juga pria itu mereka lakukan tanpa sadar. 


"Tuan, apa yang Anda lakukan?" tanya Asya ketakutan. 


"Maaf, Tuan. Sungguh maafkan aku," sahut Asya merasa bersalah. 


Gadis itu tak bermaksud membahas tentang keadaan Fagan yang memang menderita impotensi. Dia menjadi merasa bersalah sudah menuduh dan berpikir jika Fagan melakukan hal macam-macam padanya. 


"Bereskan kamar mandinya, Asya. Jangan sok manja kamu," kata Maria memberi perintah. 


Maria merasa apa yang terjadi tak perlu dibahas lebih lanjut lagi. Dia berpikir memperjelas segalanya hanya akan membuat Asya menjadi besar kepala. Sehingga dia memilih membuat Asya menderita karena harus membereskan isi kamar mandi yang hancur berantakan. 


"Cepat, tunggu apa lagi?" sentaknya. 


Asya kemudian menuju kamar mandi dan mulai membersihkan lantai kamar mandi yang penuh dengan serahkan kaca. Banyak sekali barang pecah yang Fagan hasilkan dari amukannya selama. Sehingga tak heran jika Asya harus bekerja keras untuk membereskan dan membersihkan semuanya. Terlebih ini masih terlalu pagi. Saking sibuknya Asya, tiba-tiba terdengar suara perutnya yang berbunyi. Asya tak makan sejak semalam, karena belum sempat makan, keributan sudah terjadi. 

__ADS_1


"Astaga, memalukan sekali perutku ini," katanya mengejek dirinya sendiri. 


Gadis itu menyeka peluh yang bermunculan di dahunya dengan lengannya dan segera keluar dengan kantong plastik berisi barang-barang yang sudah hancur itu. Saat dia keluar, Fagan belum turun dari ranjangnya. Pria itu nampak menatap ke arah pintu kamar mandi seperti sedang menunggu sesuatu. 


"Maaf, Tuan. Saya lupa membantu Anda turun. Kenapa Anda tak memanggilku?" kata Asya canggung. 


Jika ingat apa yang baru saja terjadi, Asya menjadi malu. Dia merasakan hangatnya pelukan Fagan sampai mereka bangun kesiangan. 


"Bereskan saja dulu, aku akan tunggu," balas Fagan. 


"Tumben," celetuk Asya heran. 


"Tumben apa, Asya?" tanya Fagan. 


"Ah, tidak, Tuan. Bukan apa-apa," jawab Asya mengelak. "Tumben banget nggak marah-marah dan teriak-teriak. Biasanya telat dikit aja semua udah jadi hancur berantakan," lanjutnya dalam hati. 


"Bereskan dan siapkan air mandiku, aku sudah katakan pada Abrisam jika aku akan turun terlambat dan ke kantor lebih siang dari biasanya," jelas Fagan. 


"Baik, Tuan. Sebentar lagi akan selesai. Saya hanya perlu membereskan lagi lantainya agar tak ada sisa kaca yang bisa membahayakan," jelas Asya. 


Gadis itu berlalu pergi, dia membuang kantong plastiknya keluar. Langkah kakinya begitu cepat karena tak mau Fagan menunggu terlalu lama. Bagi Asya, momen baik ini tak akan dia siakan. 


"Kapan lagi, Tuan Fagan baik dan nggak ngamuk-ngamuk. Ini nggak bisa dilewatkan," kata Asya. 


Wajahnya nampak lebih sumringah. Dia terus mengumbar senyuman sedari berangkat ke kamar mandi tadi. 


"Apa yang bikin kamu seneng? Kenapa kamu senyum begitu? Kamu pikir kamu dibawa ke sini buat bersenang-senang?" sentak Cecila. "Kamu harus terima hukuman, Asya. Kamu udah bikin kakakku lumpuh dan impotensi," katanya menyalahkan. 

__ADS_1


__ADS_2